20 June 2022

Jalan Cahaya Wisanggeni

There is a crack, a crack in everything

That's how the light gets in


Kutipan itu berasal dari lagu “Anthem” yang dipopulerkan oleh Leonard Cohen. Yang retak, patah, atau terpecah, justru menjadi jalan masuk cahaya, ibarat kirana yang menembus ruang gelap gulita justru melalui celah-celahnya.

Wisa geni, atau Wisanggeni, juga menyandang kerapuhan ini sejak awal kehidupannya. Ia dipisahkan dari rahim Batari Dresanala sebelum waktunya dan dibuang ke tengah-tengah kawah Candradimuka oleh Batara Brahma, kakeknya sendiri. Membuang bayi ke tengah api jelas merupakan upaya pembunuhan. Batara Brahma sebagai Dewa Penguasa Api berusaha membinasakan cucunya sendiri dengan api.













Sebagai konteks, tindakan Batara Brahma yang keji itu merupakan perintah langsung Batara Guru, raja para dewa. Dari sinilah kita tahu dari mana konspirasi bajingan itu berasal. Batara Guru dihasut oleh Batari Durga, istrinya, untuk melenyapkan bayi itu, karena Dewasrani, anak Batari Durga, cemburu pada Arjuna, ayah Wisanggeni, dan ingin memperistri Batari Dresanala, ibu Wisanggeni.

Hawa nafsu dan kelakuan jahat para dewa ini tidak bisa diterima oleh leluhur para dewa, yaitu Sang Hyang Wenang. Ia akhirnya masuk sebagai “cahaya” ke dalam kerapuhan bayi Wisanggeni. Sang Hyang Wenang memberikan perlindungan dan kekuatan kepada Wisanggeni sehingga selamat dari keganasan kawah. Alih-alih membunuhnya, kawah Candradimuka justru membentuk Wisanggeni menjadi kesatria dengan kesaktian tanpa tanding.

Dalam kisah pewayangan Jawa, Semar menuntun Wisanggeni untuk keluar dari kawah, memberi pemuda itu nama Bambang Wisanggeni, serta memberikannya petunjuk untuk menegakkan keadilan atas kebobrokan para dewa.

Wisanggeni naik ke Kahyangan Suralaya. Kahyangan diobrak-abrik. Amukan Wisanggeni tak bisa dihentikan oleh dewa mana pun. Semua dewa yang ditemui dan tak bisa memberikan penjelasan atas jati dirinya dihajar habis-habisan. Batara Guru yang diam seribu bahasa tak luput dari amukan. Hujan badai guntur dan api yang Batara Guru hempaskan tak mempan di tubuh Wisanggeni. Batara Guru pun melarikan diri dari kahyangan; menjadi buron dan bulan-bulanan Wisanggeni. Batara Guru akhirnya meminta perlindungan pada Prabu Kresna dan Werkudara.

Ketika akhirnya Wisanggeni berhadap-hadapan dengan Prabu Kresna dan Werkudara, ia tak ciut hati. Adu mulut tak bisa dihindari, sampai akhirnya Semar datang menjadi penengah dan memberitahu bahwa mereka satu sama lain adalah saudara. Werkudara terpukau melihat anak Arjuna yang sakti mandraguna, ndugal kewarisan, tidak memiliki tata krama ini. “Wah, Arjuna duwe anak gentho.”

Singkat cerita, Batara Guru mengakui kesalahannya pada Wisanggeni dan meminta maaf. Hanya karena mereka adalah dewa, tak berarti apa yang mereka pikirkan dan lakukan selalu benar. Ini akhirnya jadi semacam weling bagi kita, bahwa sebaik-baiknya manusia dengan budi dan seluruh pertimbangannya, bukankah yang paling esensial adalah eling lan waspada, senantiasa sadar dan kritis?

Wisanggeni juga menunjukkan bahwa apa yang remuk redam tak menentukan jati diri kita. We may be broken as hell, but we can be whatever we want to be nevertheless. Gusti boten sare lan tansah paring pitulungan.

Secara personal, Wisanggeni adalah karakter wayang yang menghadirkan ingatan akan Bapak. Setelah saya lulus SMP, sebelum melepas saya ke tempat pendidikan yang jauh dari rumah, Bapak sempat mengatakan, “Kowe ki kaya Wisanggeni, mlebu nang kawah Candradimuka.” Bapak tahu saya waktu itu belum mengerti siapa Wisanggeni, tapi hal itu tak terlalu ia pikirkan.

Kalau hal itu kemudian sekarang saya refleksikan, Bapak mempunyai poin mengatakan hal itu. Tentu saya tidak jadi sakti seperti Wisanggeni, tetapi setidaknya saya mengerti, bahwa seperti apa yang Wisanggeni alami, kerapuhan adalah bagian dari kemanusiaan kita. Tak perlu dikutuk, tak perlu juga dirayakan. Terimalah kerapuhan kita sebagaimana adanya. Di sanalah terbuka jalan bagi cahaya yang akan menyelamatkan kita.

Wisanggeni juga membangkitkan ingatan saya akan Bapak karena dalam pementasan wayang, ia kerap tampil bersama kesatria sakti lain, yaitu sepupunya bernama Raden Antasena, anak Werkudara yang urakan dan kerap Wisanggeni panggil sebagai cah edan—yang menjadi karakter wayang idola Bapak. Bersama Antasena, Wisanggeni disebut sebagai satriyo ndugal kewarisan. Dua-duanya ora isa basa, tetapi jernih budinya dan senantiasa mengutamakan kebenaran. Kesaktian Wisanggeni dan Antasena sejajar, tetapi jauh melampaui anak-anak Pandawa yang lain. Bagaimana tidak, dua kesatria ini pernah ngobrak-abrik Kahyangan dan menghajar para dewa.













Kredit saya haturkan setinggi mungkin pada para pujangga Jawa yang menciptakan karakter-karakter wayang ini, yang menurut Wikipedia, tidak ada di naskah wiracarita Mahabharata karya Krishna Dwaipayana Byasa dari India. Nama "Wisanggeni" dan “Antasena” juga tidak ditemukan dalam naskah Mahabharata berbahasa Sanskerta (terjemahan Kisari Mohan Ganguli). Dengan kata lain, karakter-karakter wayang ini adalah wayang asli Jawa. Kredit juga saya haturkan pada almarhum Ki Seno Nugroho, dalang humoris dari Yogyakarta, yang sangat kompeten dalam menghidupkan karakter Wisanggeni dalam pementasan wayangnya.




 

 

 

17 April 2022

Paskah Orang-Orang Pinggiran

Sebelum memberi berkat penutup misa Paskah pada 17 April 2022, Romo Jack Tarigan, Pastor Paroki Gereja Kristus Raja, Pejompongan, sempat mengungkapkan, “Mengikuti misa adalah hak orang Katolik, tak peduli Anda umat paroki atau bukan.” Mendengarnya, ada perasaan lega dan sedikit haru mengalir di dada. 

Sejak awal pandemi, saya mengubur bayangan mengenai mengikuti misa di gereja secara langsung. Saya mengerti bahwa pembatasan kehadiran umat akan dilakukan secara ketat. Mengingat situasi pandemi per Maret 2022 cukup baik, muncul harapan saya bisa Paskahan di gereja. Apalagi, ada situs yang memfasilitasi umat untuk mengikuti misa di gereja, yaitu Belarasa.

Akan tetapi, rupanya Belarasa hanya diperuntukkan bagi umat Keuskupan Agung Jakarta. Orang Katolik pengembara di Jakarta—yang tidak terdaftar ke lingkungan, wilayah, atau paroki mana pun—tak bisa memanfaatkan situs itu. Pada 25 Maret, saya menumpahkan kekesalan di Twitter. Saya menulis:

“Kemarin ada teman bilang bahwa orang Katolik di Jakarta bisa daftar misa via situs Belarasa. Di situ bisa pilih gereja yang diinginkan. Sempat coba daftar, gagal karena tak terdaftar di Biduk. Artinya, umat tak tercatat tak bisa dapat pelayanan. Ya sudah, tetap mengembara saja.”

“Aneh saja pelayanan di kota metropolitan sebesar Jakarta tidak memberikan ruang bagi umat pengembara, yang karena baptisannya memiliki hak menerima sakramen, tapi tak bisa dipenuhi karena tak tercatat sebagai warga paroki tertentu.”

Saya sempat menceritakan situasi hopeless saya ke seorang teman. Kepadanya, saya bertanya apakah mungkin saya—hanya agar bisa ikut misa—mendaftar jadi umat lingkungan teman saya itu. Saya tidak tahu apakah dia sempat menanyakan itu pada ketua lingkungannya, tapi setidaknya dia membantu saya dengan cara lain: memberikan akun Belarasanya pada saya. Ia bahkan mengirimkan KTP-nya ke alamat saya, just in case. Dengan itu, saya bisa mendaftar untuk mengikuti perayaan Paskah secara langsung di gereja, meski dengan embel-embel sebagai penumpang gelap. Ya, penumpang gelap.

Saya sendiri tidak mengerti mengapa menjelang Pekan Suci, saya begitu ingin merayakan Paskah di gereja. Padahal, selama pandemi saya biasa-biasa saja melewatkan Minggu tanpa misa. Boro-boro misa, berdoa dalam hidup sehari-hari pun tidak. Meminjam terminologi Karl Rahner—yang saya pelesetkan sedikit, dalam keseharian saya adalah seorang ateis anonim. Namun, saya pikir, bisa jadi justru karena itu. Saya sudah begitu tidak mengindahkan Allah dalam hidup sampai-sampai kerinduan untuk merayakan Paskah muncul dan tumbuh sendiri.

Ya Tuhan, kasihanilah saya orang pinggiran ini.

Itulah yang jadi renungan Paskah saya, iman orang-orang pinggiran dan Yesus Kristus yang merangkulnya. Label orang pinggiran lahir dari renungan mengenai komposisi layer atau lapisan. 

Dalam Kitab Suci, perhatian saya tertuju pada orang-orang pinggiran—artinya mereka yang tidak termasuk dua belas murid yang memang dipanggil secara khusus untuk menyertai Yesus. Mereka ini juga pengikut Yesus, tapi tak berciri eksklusif. Mereka menjalankan hidup yang biasa-biasa saja, menekuni apa yang menjadi profesi mereka. Namun, pada momen-momen yang paling krusial, para murid lapisan kedua ini tetap menyertai Yesus (setidaknya dalam batin), sementara kedua belas murid Yesus tercerai berai. Kitab Suci jelas menunjukkan peran-peran mereka. Siapa yang berdiri di bawah salib Yesus? Ibu Yesus, Maria istri Klopas, dan Maria Magdalena. Siapa yang punya nyali untuk menghadap Pilatus dan meminta izin untuk menurunkan jenazah Yesus? Yusuf dari Arimatea. Siapa yang merawat jenazah Yesus dengan adat pemakaman orang Yahudi setelah tubuh-Nya diturunkan dari salib? Nikodemus. Siapa yang pagi-pagi pergi ke makam Yesus dan menjumpai malaikat yang menyatakan kepada mereka bahwa Yesus telah bangkit? Maria Magdalena, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan perempuan-perempuan lain yang selalu bersama murid-murid Yesus. 

Demikianlah menurut saya, Tuhan merangkul murid-murid yang berada di “lapisan luar”. Meski menjalani kehidupan yang biasa dan melakukan hal-hal yang menjadi tugas mereka, Tuhan memberikan tempat, perhatian, dan cinta kasih yang sama.

Menimbang posisi saya, yang di awal bahkan saya sebut diri sebagai ateis anonim, atau bisa juga ateis praktis, saya merasa pada kesempatan Paskah ini Tuhan juga merangkul saya. Setelah tidak lagi menjadi calon imam, saya bergerak ke lapisan terluar. Mereka para uskup, imam, diakon, frater, bruder, dan suster bagi saya merupakan lapisan tersendiri. Umat Katolik Jakarta, yang memiliki afiliasi dengan paroki tertentu, juga merupakan lapisan tersendiri. Saya berada di lapisan terluar, di luar lapisan-lapisan yang saya sebut sebelumnya. Saya menjadi umat Katolik pengembara, tak memiliki afiliasi dengan paroki mana pun, a nomadic catholic, yang untuk merayakan Paskah bahkan mesti menjadi penumpang gelap.

Dalam konteks inilah, saya bersyukur masih diperhatikan. Ia memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa merayakan Paskah di gereja secara langsung. Ia menunjukkan dalam bacaan-bacaan Kitab Suci bahwa Ia memberikan kesempatan yang sama bagi semua murid-Nya, termasuk mereka yang berada di lapisan-lapisan luar.

Tentu tak ada jaminan bahwa setelah semuanya, hidup saya berubah, misalnya, menjadi lebih rutin untuk mengikuti misa minggu, mendaftarkan diri di lingkungan tempat saya tinggal, atau aktif dalam hidup menggereja. Barangkali saya akan tetap berada di lapisan terluar. Namun, setidaknya hati saya lega bahwa Tuhan tetap memeluk orang-orang pinggiran seperti saya ini. Bagi saya, inilah Paskah yang memerdekakan. Semoga hidup Yesus sendiri, yang dalam Kisah Para Rasul disebut “Yesus itulah yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik”, menjadi kompas moral utama bagi saya, murid-Nya di lapisan luar ini. 


25 March 2021

Melawan Kecemasan

Kelas XI SMA, saya mulai cemas memikirkan hidup. Akan seperti apa hidup saya sepuluh tahun mendatang? Apa saya mampu menghadapi semua tantangan yang hidup berikan?

Cemas agak beda dari rasa takut. Saat takut, biasanya ada objeknya. Takut pada pakaian yang menggantung di hanger karena sebelumnya lihat orang yang gantung diri, misalnya. Itu saya alami sendiri di kelas XII SMA. Kira-kira saat magrib, saya sampai misuh-misuh di dormit (bangsal tidur asrama), “Woiii, sapa ki sing nggantung seragam nang ndhuwur pintu?” Pelajarannya, jangan pernah lihat mayat orang gantung diri secara langsung. Too disturbing. Nah, cemas akan masa depan lain, karena objeknya tak begitu jelas. Dan, itu menyiksa.

Membaca The Fifth Mountain (Gunung Kelima) jadi pengalaman yang mengubah hidup. Salah satu bagian di buku itu mengajak saya untuk membaptis diri sendiri, dengan nama yang dapat merangkum seluruh pergulatan agar jadi kekuatan. Saya baptislah diri ini dengan nama Keberanian. Nama kecilnya Rani, hehe. Nama itu akhirnya benar-benar jadi kekuatan ekstra saat rasa cemas berkecamuk dalam diri, sampai sekarang!

Siapa sangka, sekarang saya bekerja di tempat kelahiran buku yang mengubah hidup saya itu. Kadang berpapasan dengan Mbak Tanti yang menerjemahkan naskahnya, atau Mas Iwan yang mendesain sampulnya. Meminjam istilah anak-anak indie yang suka senja dan kopi, mungkin ini cara semesta berbisik pada saya, “Go, masih ingat apa yang hatimu rasakan di kelas XI SMA?”

Selamat ulang tahun ke-47, Gramedia Pustaka Utama.





16 March 2021

Perpisahan di Masa Pandemi

Siang ini, Gramedia Pustaka Utama (GPU) mengadakan pertemuan internal via Zoom untuk melepas salah satu editor seniornya yang memasuki masa purnakarya, yaitu Mbak Ramayanti, atau biasa dipanggil Mbak Yanti.

Beberapa orang memberikan sharing pengalaman. Mbak Greti mengisahkan bagaimana Mbak Lies memperkenalkan Mbak Yanti sebagai karyawan baru, dan bagaimana Mbak Yanti bergulat dengan dilema antara pekerjaan dan tuntutan hidup berkeluarga. Mas Wandi mengaku bahwa ia belajar banyak dari Mbak Yanti dalam menerjemahkan teks asing ke bahasa Indonesia, khususnya bagaimana membuat hasil terjemahan itu menjadi komunikasi yang hidup. Mas Priyo berkata bahwa dua hal yang menurutnya esensial untuk dimiliki seorang pekerja, yaitu attitude (sikap yang baik) dan skill (kemampuan), selama ini telah Mbak Yanti tunjukkan. Mbak Sasti, dengan terbata-bata karena terharu, menyampaikan bahwa Mbak Yanti memiliki keikhlasan. Keikhlasan itu pulalah yang membuat pengorbanannya sebagai seorang ibu tak sia-sia. Mbak Widit mengucapkan selamat menikmati kalender dengan tanggal merah semua kepada Mbak Yanti, selain mengungkapkan kenangannya berkunjung ke rumah Mbak Yanti dan diberi suguhan cheese steak yang sangat lezat. Mbak Nina secara khusus menyebut bahwa Mbak Yanti adalah orang yang superteliti dan profesional. Kecuali itu, pertama-tama Mbak Yanti adalah orang yang sangat baik.

Saya sendiri bekerja di GPU baru kemarin sore. Itu sebabnya, keteladanan mengenai dedikasi, ketelitian, profesionalitas, kebaikan, dan kerendahan hati seperti yang Mbak Yanti tunjukkan begitu berharga. Jujur saya tak terlalu mengenal Mbak Yanti. Ya sebatas tahu saja. Tetapi, berpisah dengan orang baik, meski tidak begitu kenal pun, rasanya tetap haru dan kehilangan.

Ya, begitu baik, karena dengan anak baru kemarin sore seperti saya pun Mbak Yanti begitu rendah hati. Ketika kenang-kenangan pouch yang ia bagikan ke semua karyawan GPU saya terima, saya mengirim pesan Whatsapp ke Mbak Yanti: “Hai, Mbak Yanti. Ini Igo. Terima kasih pouch-nya ya, Mbak. Cakep, aku dapat yang motif daun. Semoga sehat selalu dan menyenangkan nanti masa pensiunnya.” Dia membalas, “Halo, Igo, trims untuk doanya. Igo yang betah ya di GPU, kalau bisa sampai pensiun.”

Menurut saya, inilah legacy Mbak Yanti yang paling unggul, yaitu kerendahan hati dan kebaikannya. Kita bisa superexcellent dalam kinerja, tapi tanpa kerendahan hati dan kebaikan, kita tak meninggalkan apa-apa di hati orang lain. Mbak Yanti unggul di tanah yang subur itu, dan menyempurnakannya dengan profesionalitas dan dedikasinya.

Pada pertemuan tadi, Mbak Yanti sempat mengutarakan keinginannya, yang tak diduga begitu mulia, sederhana, tak muluk-muluk: "Cita-cita saya sekarang mau main ke Malang bersama cucu, ke Jatim Park." Semoga kesampaian ya, Mbak. Terima kasih banyak atas keteladanannya. We wish you a happy retirement.



05 March 2021

Tentang Memberi

Beberapa saat lalu, saya melihat video orang marah ketika diberi bantuan di pinggir jalan. Pasalnya, setelah bingkisan diterima, si pemberi berusaha mengambil foto. Tak sulit untuk mengerti bahwa si penerima bantuan tersinggung. Bagi dia, kalau mau bantu ya bantu saja. Tidak perlu pakai foto-foto.

Tadi pagi, saya membeli rokok di Jl. Sulaiman, Palmerah. Karena masih cukup pagi, banyak orang membeli sarapan di jalan. Setelah rokok terbeli, saya pun memutuskan untuk sarapan. Maka berhentilah saya di satu gerobak bubur ayam.

Sumber:  ulasan dammer_thetraveler di tripadvisor.com

Sambil makan, saya lihat interaksi penjual bubur itu dengan para pembeli. Tiap kali ada yang mau bayar bubur yang dipesan, penjual itu menolaknya. “Hari ini gratis,” katanya. Selesai makan, saya bertanya kepadanya, “Siapa yang sponsorin, Bang?” Dia menjawab, “Itu, Pak Haji. Dia kasih modal buat hari ini, bahkan kasih upah terpisah buat saya juga, Mas. Dua ratus ribu.” Saya lanjut bertanya apakah setiap Jumat Pak Haji memberi bantuan seperti itu. Rupanya tidak, kata dia.

Sesaat sebelum pulang, saya bilang ke dia, “Mas, titip terima kasih buat Pak Haji ya.” Saya termenung sepanjang jalan.

Memberi itu pada dasarnya baik. Namun, tidak lalu dengan sendirinya kebaikan itu mutlak baik. Intensi dan cara juga menentukan. Intensinya baik, tetapi kalau caranya diwarnai kepentingan, supaya dilihat orang misalnya, penilaian moral atas tindakan/aksi kebaikan itu bisa berbeda.

Pada kasus pertama, tentu baik memberikan bingkisan bantuan kepada orang. Namun, kalau caranya seperti itu, penerima bantuan dijadikan objek. Kecuali benar-benar tidak berdaya dan terpaksa, wajar penerima bantuan itu memperjuangkan harga dirinya. Jika foto-foto itu dilakukan tanpa informed-consent, aksi itu rentan jadi eksploitasi yang mengabdi pada kepentingan si pemberi bantuan.

Sebaliknya, pada kasus kedua, kebaikan bekerja dengan menempatkan penerima bantuan sebagai subjek. Si penerima bantuan diberi bantuan dengan syarat ia menggratiskan apa yang ia jual selama sehari pada pembelinya. Ia dibantu, tapi juga diangkat martabatnya, karena didorong untuk juga berbagi kebaikan kepada orang lain. Efek kebaikan Pak Haji akhirnya tidak hanya dirasakan oleh penjual bubur ayam itu, tapi juga setiap pembeli karena semua merasa gembira dan tersentuh pada kebaikan yang sederhana itu.

Bagi saya sendiri, pengalaman itu jadi pengingat yang baik. Memberi itu baik, tapi intensi dan caralah yang kemudian menentukan apakah pemberian itu tulus atau tidak, apakah pemberian itu mengangkat harkat dan martabat orang atau malah justru merendahkannya, dan apakah pemberian itu dapat menjadi sarana multiplikasi kebaikan-kebaikan lainnya. 

14 February 2021

Jalan Kesatria Antasena

Antasena adalah satu dari sedikit karakter wayang yang hanya dijumpai dalam tradisi Jawa. Artinya, ia tidak dijumpai dalam tradisi Mahabharata. Antasena adalah anak dari Werkudara (Bima) dan Dewi Urangayu, putri Sang Hyang Baruna, penguasa laut. Ia adalah putra ketiga Werkudara setelah Antareja (dari Dewi Nagagini) dan Gatotkaca (dari Dewi Arimbi).

Dalam pedalangan, ia dikenal sebagai kesatria yang sangat sakti, tetapi nyentrik. Seperti Werkudara, ia menggunakan bahasa ngoko kepada siapa pun. Penampilannya urakan, terkesan tidak serius. Sering disebut gemblung. Wisanggeni, sepupunya, menyebutnya “cah edan”. Kesaktiannya tak tertandingi, baik oleh Antareja, Gatotkaca, maupun kesatria-kesatria Pandawa yang lain. Ia mampu terbang, menembus bumi, dan menyelam di air. Kulitnya terlindung dengan sisik udang sehingga kebal dari senjata apa pun. Satu-satunya yang tingkat kesaktiannya sejajar dengan Antasena hanyalah Wisanggeni.

Antasena lahir di lautan secara prematur. Ia dibesarkan oleh Sang Hyang Antaboga dan seperti Gatotkaca dan Wisanggeni, dididik di Kawah Candradimuka. Bersama Wisanggeni, ia bersedia menjadi korban untuk kemenangan Pandawa dalam perang Bharatayudha. Mereka moksa ketika menghadap Sang Hyang Wenang, leluhur para dewa.

Itulah Antasena. Meski merupakan seorang kesatria seperti yang lain, ia menempuh jalan yang berbeda. Dan, justru karena berbeda, banyak yang kemudian mengidolakannya. Salah satunya bapak. Antasena adalah karakter wayang idola bapak. Di ruang tamu rumah, wayang kulit Antasena masih terpajang. Foto profil akun Facebook bapak adalah foto Antasena. Melihat foto itu, Agung Bramanthya, teman saya, bertanya kepada bapak, “Punika sinten, Pak?” Bapak lalu membalas, “Tokoh wayang idola, Antasena. Nek perang menangan, rada gemblung ning seneng tetulung mbelani sing bener. Kuwi wigatine.”

Jalan yang Antasena tempuh sebagai seorang kesatria menurut saya adalah jalan pengosongan diri. Sejak lahir, ia menghadapi begitu banyak tantangan. Meski demikian, Penyelenggara Kehidupan menyayanginya. Melalui asuhan Sang Hyang Antaboga, Antasena bertumbuh. Kerasnya tempaan Kawah Candradimuka memupuk tak hanya kesaktiannya, tapi juga hati yang jernih untuk memiliki semangat berkorban. Pengorbanan itulah kesempurnaan jalan kesatria Antasena. Ia tidak lagi berminat mengisi hidupnya dengan hal-hal yang fana, tapi sebaliknya, mengosongkan diri. Dan lihatlah, jalan itu menjadi jalan yang membebaskan. Ia dapat meluluhlantakkan seluruh pasukan Kurawa dengan tangannya, tapi memilih mendengarkan dan taat pada permintaan Sang Hyang Wenang untuk tidak ikut bertempur dalam perang Bharatayudha.

Bapak tentu tidak sama dengan Antasena. Ia hanya mengidolakannya. Akan tetapi, dalam hidupnya bapak menurut saya telah berusaha menelusuri jalan yang Antasena tempuh, yaitu jalan pengosongan diri.

Bapak tak pernah terlalu memperhatikan kepentingan dirinya. Yang ia lelimbang dan perhatikan adalah kepentingan orang-orang lain, terutama yang ia sayangi. Pernah ada masanya bapak senang sekali membelikan barang-barang untuk ibu, padahal ibu tidak pernah meminta. Lalu, seperti nanti pada bagian lain dikisahkan oleh Pak Heri, dulu hampir setiap pulang mengajar les privat, bapak membawa oleh-oleh, entah makanan atau minuman. Saking seringnya, kepulangan bapak selalu kami tunggu-tunggu. Kami menunggu ingin tahu apa isi kresek yang bapak bawa.

Pernah suatu kali bapak tidak membawa oleh-oleh apa pun. Kami yang menyambut bapak di depan kecelik. Tidak ada kudapan apa-apa yang tercantol di sepeda motor. Bapak sendiri sepertinya jadi merasa nggak enak juga, tahu bahwa anak-anaknya mengharapkan oleh-oleh.

Atau, contoh lain, kacamata bapak. Meski patah tangkainya, untuk apa membeli yang baru kalau bisa disiasati? Dilakbanlah kacamata itu (Iya, dengan lakban yang cokelat itu). Bapak mah bodo amat apa kata orang. Yang penting secara fungsional, kacamata itu bisa dipakai.

Baktinya pada Gereja juga menurut saya merupakan tanda pengosongan diri. Bapak adalah pribadi yang introvert, pendiam, lebih nyaman sendiri (ini semua terwariskan ke diri saya). Namun, dari waktu ke waktu perjalanan pengosongan diri bapak makin tampak: ia mau lebih terlibat, rela bersusah-susah menyusun renungan dan buletin yang serapan bacanya tak terukur, serta bersedia meluangkan waktu untuk mengajar sebagai guru agama dan melayani sebagai prodiakon.

Meski demikian, toh, pada akhirnya, seperti Antasena bapak tetap “nyentrik”. Ia tetap menjadi diri sendiri dengan seluruh kekhasannya. Saya tidak tahu bagaimana, tapi saya melihat bapak ini sebenarnya orang yang sangat lucu. Sangat lucu karena bapak sangat autentik.

Kalau saya lihat hidup bapak dalam satu lintasan waktu, kilasan-kilasan pengenalan saya yang tak sempurna berkelebatan. Bapak adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Mereka semua tinggal di Kota Semarang, dan sempat berpindah-pindah rumah. Bapak dibaptis jadi Katolik berkat salah seorang suster di gereja Katedral Semarang. Setelah dibaptis, seluruh keluarga bapak ikut.

Pendidikan SMP kemudian bapak tempuh di Semanu, Gunungkidul. Pasti masa-masa SMP begitu mengesan bagi bapak, sebab setelah berkeluarga bapak masih sering menyempatkan diri berkunjung ke Gunungkidul, ke tempat Mbah Mitro dan Mbah Semi. Lulus SMP, bapak sekolah di Seminari Mertoyudan. Masuk ke dalam angkatan 76. Nah, di seminari saya tidak tahu bapak seperti apa. Yang mungkin lebih ingat adalah teman-teman seangkatannya. Mungkin bapak adalah seminaris yang “nakal”, tapi label “nakal”—menurut saya—bisa bias dengan “autentik”.

Setelah empat tahun di Mertoyudan, bapak tidak melanjutkan ke tahap selanjutnya (novisiat). Ia rupanya tidak langsung menempuh kuliah. Sesuai cerita dari Mbak Eling Putri, bapak sempat ingin mengambil waktu sendiri. Dan, bapak benar-benar mengambil waktu itu. Ia pergi ke Kalimantan, entah ngapain saja di sana. Yang jelas, bapak sendiri mengakui bahwa masa-masa di Kalimantan adalah masa gelap hidupnya. Mungkin bapak berada di titik nadir; tak tahu ke mana dan memilih apa. Beberapa bulan di Kalimantan, bapak akhirnya pulang ke Semarang.

Penyelenggara Kehidupan (masih dan selalu) menyayanginya.

Ia kemudian belajar di IKIP Semarang—sekarang Unnes. Menjadi guru bahasa Inggris, diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil, dan mengembara ke tempat tugas yang baru, wilayah yang asing dan menantang: Bumiayu. Di tempat itu, ia bertemu dengan ibu dan akhirnya membangun rumah tangga bersama. Putra pertama mereka, Mas Puri, dipanggil Tuhan tanpa sempat hadir di dunia. Mei 1988, saya lahir. Juli 1989, Vinora menyusul. Dan, yang terakhir, Juni 1995, Vito melengkapi kebahagiaan ibu dan bapak.

Saya beruntung mengalami masa kecil yang indah. Ibu dan bapak rukun. Pernah sih, sekali mereka bertengkar, entah apa penyebabnya sampai ibu menangis waktu itu. Tapi ya cuma sekali itu saja. Selebihnya, meski segalanya sederhana, semuanya komplet. Kebersamaan dengan bapak saya alami kurang lebih sampai kelas 3 SMP, karena setelah itu saya mulai menimba ilmu di luar kota.

Meski bapak adalah seorang guru, ia adalah seorang murid sejati. Ia senang mempelajari sesuatu, misalnya teknologi baru. Saat Twitter belum seramai sekarang, bapak pernah minta saya mengajarinya. Ia juga senang memperdalam pengetahuan iman. Untuk itu, ia banyak membaca buku atau artikel. Ia menghidupi sendiri nasihat yang pernah ia berikan kepada saya saat masih duduk di kelas X Seminari Mertoyudan: non scholae sed vitae discimus.

Pelajari dan cobalah hal-hal baru dengan sungguh-sungguh, bahkan kalau perlu sampai kita jengkel. Bapak kerap seperti itu. Di rumah, kalau ada hal-hal yang tidak beres, bapak akan mencoba memperbaikinya sendiri. Karena intens, kalau sudah menyentuh batas kesabaran bapak, sementara yang ia kerjakan belum beres juga, tak jarang ia muring-muring juga. Pernah waktu saya masih remaja, di luar rumah gerimis, sementara kualitas gambar siaran televisi buruk sekali. Bapak pun naik ke atas genteng, tak peduli akan gerimis yang belum berhenti. Ia memutar-mutar antena dan dari bawah saya berkali-kali berteriak, “Beluumm … Masih jelek … Beluuumm ….” Sempat lama mencoba, saya akhirnya mendengar di atas genteng bapak akhirnya misuh-misuh karena gambarnya tidak kunjung membaik.

Jalan pengosongan diri yang bapak tempuh terus ia perjuangkan sampai akhir hidupnya. Saya heran sekaligus kagum pada kekuatan batin bapak. Belakangan ia memiliki sejumlah penyakit, dan sungguh kenosis (pengosongan diri)-lah yang memberinya kekuatan untuk melawan semua penyakit itu. Ia sendiri pernah menulis di Facebook: “Wahai penyakit: jantung, gula, asam lambung, kolesterol, dan terutama roh kejahatan, dengan pertolongan Bunda Maria, aku takkan membiarkan kalian menguasaiku. Aku takkan mati dengan mudah. Lawan!” Saya yakin ibu tahu persis perjuangan bapak ini. Ia melihat semuanya, seperti ketika bapak mencoba ramuan herbal seperti jus pare campur ini itu macam-macam.

Bapak sempat ingin memiliki tempat untuk tetirah, beristirahat. Yang mungkin bapak bayangkan adalah suatu tempat di perdesaan; masih ada banyak pepohonan hijau, sawah, dan kicau burung; dan bapak bisa menikmati keajaiban-keajaiban kecil itu setiap hari. Untuk itu, bapak dan ibu sempat berkeliling ke banyak tempat di sekitar Purwokerto. Ibu bercerita kepada saya tempat yang sudah dikunjungi begitu banyak.

Namun, Tuhan menghendaki lain. Seakan Tuhan ingin mengatakan, “Jud, murid-Ku yang setia, pengabdianmu sudah cukup. Mari pulang, ‘di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal’. Seperti yang kamu inginkan, kamu bisa beristirahat, tetirah, dalam damai abadi.”

Saya sungguh bersyukur atas kehadiran bapak dalam hidup saya: seorang kepala keluarga yang baik dan setia; seorang pemberani yang nyentrik, autentik, lucu, pandai, dan inspiratif; dan seorang kesatria yang menempuh jalan pengosongan diri seperti Antasena, idolanya, tempuh, dan Yesus, gurunya, hayati (Bdk. Filipi 2: 5–8).



07 October 2018

Seorang Anak di Depan Patung Maria

Tak rela melihat gadis yang dipujanya
Berdiri terus di dalam gua, letih, kurang tidur dan tampak merana
Peziarah kecil datang menyerahkan pensil dan buku tulisnya
Tiap pagi kutulis kata-kata pak guru di sini
Kalau sudah siang dan pak guru mulai membosankan
Aku selalu tertidur di atas buku ini
Tapi kini buku tulis ini untukmu
Agar kau bisa menulis pesanan mereka yang memohon-mohon padamu
Agar kau bisa tidur dengan tentram kalau lilin doa dan bunga-bunga mulai membosankanmu

09 March 2018

Imam yang Bijaksana


Saya tidak ingat persis peristiwanya. Yang jelas waktu itu, empat tahun yang lalu, saya masih seorang frater atau calon imam yang tinggal di Seminari Tinggi St. Paulus Yogyakarta. Pesan melalui e-mail saya tulis tidak lama setelah rekoleksi bulanan para frater usai. Rekoleksi bulanan saat itu dipandu oleh Rm. Ignatius Suharyono, Pr.

Apa yang dibahas tentu saya sudah lupa. Tapi, ada bagian yang saya ingat. Romo Haryono mengingatkan supaya buku seperti Inspirasi Batin jangan sampai membuat para frater menjadi “manja” karena renungan atas bacaan Kitab Suci sudah tersedia dan tinggal dibaca saja. Harapannya, para frater tetap mengolah bacaan Kitab Suci itu secara pribadi sehingga mutiara-mutiara iman yang ditemukan dapat lebih berbicara dalam hidup. 

Apa yang disampaikan Romo Haryono bagi saya menarik, tidak hanya soal isinya saja, tetapi juga konteksnya. Konteksnya, Seminari Tinggi adalah tempat beberapa kontributor Inspirasi Batin tinggal dan setiap frater diberi buku Inspirasi Batin secara cuma-cuma. Jadi, ajakan untuk menjadi kritis itu segar dan kontekstual.

Dalam e-mail saya menulis, “Rama, maturnuwun pendampingannya dalam rekoleksi. Soal Inspirasi Batin, saya setuju dengan pendapat Rama. Berkah Dalem.”

Selang tiga hari, Romo Haryono membalas. Beliau menulis sebagai berikut.

matur nuwun frater awit paringipun koment. Buku wau mangga tetep dipun ginakaken awit sampun dipun paringi, nanging ampun ngantos mandeg dumugi pamaos kemawon. Mugi frater tetep damel renungan piyambak kagem nglatih olah rasa batin rohani supados tansah saged dados kabar bingah kagem umat ingkang kita ladosi. Sugeng sinau lan Berkah Dalem. Rm. Haryono.”

“Terima kasih, frater, atas tanggapannya. Buku itu silakan tetap digunakan karena sudah diberi, tetapi jangan sampai hanya berhenti pada “membaca” saja. Semoga frater tetap membuat renungan sendiri untuk melatih olah rasa, batin, dan rohani, supaya dapat selalu menjadi kabar gembira bagi umat yang kita layani. Selamat belajar dan Berkah Dalem. Rm. Haryono.”

Sejak Juli 2017, saya sudah bukan seorang calon imam lagi. Saya sekarang seorang awam yang bekerja pada suatu perusahaan media di Jakarta. Saya bahagia dengan jalan hidup yang baru ini, meskipun ekses-ekses tertentu dari status sebagai mantan calon imam tetap harus saya alami (atau harus saya terima kalau tidak bisa saya ubah). 

Yang harus saya terima karena tidak bisa saya ubah, misalnya nama e-mail: igopr@yahoo.com, yang membuat teman kantor saya yang muslim berkomentar, “Igo pekerjaan rumah?” Ekses lain yang harus saya alami adalah ketidakpedulian saya pada olah hidup rohani. Istilah Jawa mungkin pas menggambarkannya, saya sudah kewowogen segala sesuatu tentang olah hidup rohani sampai sudah muak dan menyisakan semangat sedikit saja untuk basa-basi ikut misa dan memberi kolekte.

Nah, siang tadi saya membuka e-mail dan menemukan jejak korespondensi tadi. Saya tersenyum sendiri mengingat soal “Inspirasi Batin dan kemungkinan efek manja” yang waktu itu dibahas. Saya membaca ulang tanggapan Romo Haryono dan menemukan kebijaksanaan yang menyejukkan.

Kebijaksanaan itu menyejukkan karena pertama-tama lahir dari kesederhanaan dan kesaksian hidupnya sendiri selama tinggal di Seminari Tinggi St. Paulus, tidak sekadar dari pengetahuan, budi, atau kepandaian. Kenyataan ini sering tak disadari: yang mengesan di hati orang adalah kebaikan dan ketulusan hati yang berasal dari dalam dan bukan atribut-atribut luar, entah kegantengan atau kecantikan, kepandaian, entah harta benda. Tanggapan Romo Haryono ditulisnya sebagai seorang imam yang menempatkan dirinya tidak subordinat dengan para frater yang waktu itu ia pandu (merasa superior), tetapi sederajat sebagai kawan yang lebih berpengalaman dan percaya kepada mereka. Bagi imam yang bijaksana, fokus utamanya tentu adalah pelayanan umat beriman yang dapat semakin baik.

Sekarang pesan itu memang sudah tidak relevan bagi saya. Namun, kebijaksanaan di balik pesan itu tetap memancar dan, tidak saya sangka, membasahi tanah kering di hati saya. Semoga tunas-tunas kepedulian untuk olah rasa dan batin kembali tumbuh dalam hidup saya. Terima kasih, Romo!   

23 February 2018

Hello, 2018.

I’m back2017 is a fucking nightmare.

Tahun itu, perjalanan panjang saya sebagai calon romo berhenti. Saya mengundurkan diri karena memang keuskupan tidak menghendaki saya menjadi imamnya. Keuskupan bisa berdalih saya bisa menjadi calon imamnya lagi setelah beberapa waktu menjalani hidup sebagai awam. Tetapi, saya juga bisa bertanya hal yang sama yang kerap ditanyakan para petinggi keuskupan waktu itu: “Mau sampai kapan?”

Lebih dari itu, saya merasa peristiwa itu sudah menyerempet soal harga diri. Bayangkan saja, empat belas tahun yang lalu saya melamar keuskupan agar menerima saya berproses menjadi imam, empat belas tahun kemudian keuskupan yang saya lamar dan sudah saya pacari itu menghendaki saya mencari jodoh lain. Apa pun latar belakangnya, hal itu merupakan keputusan yang membuat saya berpikir, “Bajingan, tahu seperti ini yang terjadi di ujung jalan, saya tidak akan pernah menyerahkan diri pada proses pendidikan calon imam.

Itulah yang terjadi. Kalau mau dirohani-rohanikan, hal itu saya rasa memang sudah jalan yang Tuhan tunjukkan. Masih bisa didebat juga sebenarnya yang “dirohani-rohanikan” itu benar atau tidak, mengingat yang saya sebut jalan Tuhan itu bisa juga disebut jalan pembesar keuskupan. Nah, apakah jalan pembesar keuskupan itu selalu merupakan jalan Tuhan? Yang Tuhan katakan seingat saya "Akulah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan". Yang dijamin kebenarannya hanya itu, hehe.

Tahun itu juga, bapak saya dipanggil oleh Tuhan.

Tidak pernah terbayangkan bahwa bapak akan meninggalkan kami secepat ini. Beberapa minggu sebelum bapak meninggal, bapak memang mengeluh sakit. Beliau kelihatan semakin ringkih. Tetapi, siapa yang menyangka Tuhan akan memanggilnya secepat ini?

Sehari sebelum bapak meninggal, bapak berangkat ke sekolah untuk yang terakhir kali. Saya saksinya. Pagi itu, setelah mengantarkan ibu ke sekolah, saya melihat bapak mengenakan seragam PNS-nya. Oh, bapak menunggu saya pulang sebelum berangkat ke sekolah, pikir saya. Tidak seperti biasanya, pagi itu bapak berpakaian rapi sekali. Saya bertanya kepada bapak, “Lho, bapak mau berangkat ke sekolah, to?” Saya bertanya karena tahu persis bapak masih sakit. Ketika berjalan ke luar rumah saja bapak masih sempat berbicara kepada saya, “Jane iki bapak sikile pegel-pegel rasane, tapi bapak wis suwe ra mangkat. Ra kepenak.”

Sampai depan rumah, sebelum bapak berangkat, saya sempat berkata lagi kepada bapak, “Bapak, ternyata bener ya. Numpak motor lanang ki luwih penak. Ora kesel. Bar numpak Verza, terus numpak Vega kok rasane cilik nemen.” Mendengar itu, bapak tidak berkomentar apa-apa selain tersenyum. Senyumnya indah, jarang saya lihat bapak tersenyum seperti itu. Terus terang saya tidak ingin melebih-lebihkan, tetapi senyum bapak pagi itu memang begitu berarti. Orang yang mengenal bapak pasti tahu bahwa senyum bapak mahal harganya. Cari saja foto bapak yang menunjukkan bapak sedang tersenyum. Pasti sulit.

Saya sama sekali tidak tahu bahwa pagi itu, bapak memberikan senyum terakhir kepada anak lanang-nya ini. Senyumnya yang mahal, tulus, dan terbaik, muncul kendati pikiran dan hatinya mungkin masih tidak menentu bagaimana nasib anak lanang ini setelah mundur sebagai calon imam. 

Bapak telah dipanggil Tuhan. Semoga beristirahat dalam damai. Hidup akan kami perjuangkan semampu kami, Bapak. Semoga kekuatiran-kekuatiran di masa-masa terakhir hidupmu kini berubah menjadi doa bagi kami dari Surga sana.

Akhir Januari 2018, saya pindah domisili ke Jakarta. Saya diterima bekerja di penerbit Gramedia Pustaka Utama. Saya tentu bersyukur karena bisa diterima bekerja di tempat yang konon berisi oleh orang-orang pandai itu. Tetapi, saya juga gundah gulana karena harus meninggalkan ibu sendirian di rumah. 

Pada akhirnya, kita harus berhadapan dengan momen iman, bukan? Musa menghadapi momen itu ketika terjepit di pinggir laut. Di depan laut, di belakang pasukan tentara Mesir. Abraham menjumpai momen itu saat diminta membakar Ishak sebagai bagian dari ritual agama. Di satu sisi, Abraham sangat taat kepada Tuhan. Di sisi lain, “that’s my fucking son!” Momen iman itu tiba juga untuk saya, yakni saat saya menyerahkan “ibu yang jadi sendirian di rumah” kepada Tuhan untuk dilindungi. Semoga Tuhan senantiasa melindungi ibu.

Akhir kata, semoga tahun 2018 bisa menjadi tahun yang baik. Cukuplah satu “2017” dalam hidup yang saya mulai dari nol lagi ini. Oh ya, yang terakhir saya ingin mengutip kutipan terkenal berikut: “Hard times will always reveal true friends.” Ada “teman” yang saya kira seorang sahabat diam-diam saja selama saya menjalani masa transisi ini. Ada pula yang membantu secara tulus, seperti “Russian guy” from BSD, Pam-Pam. Dia membantu banyak ketika saya datang ke Jakarta. Thanks, Pam!

See you later!

18 July 2015

Coincidence

Ibu saya ulang tahun hari ini; begitu pula dengan perempuan yang dulu pernah saya sukai. Sial memang, lalu mau lupa bagaimana. Coba jawab pertanyaan saya: bagaimana mungkin kamu melupakan mantanmu kalau tanggal ulang tahunnya sama dengan ulang tahun ibumu? Perempuan itu bukan mantan saya sih, malah sebenarnya sayalah yang jadi mantan dia: mantan fanboy. Bahwa saya tidak pernah lupa padanya, selain karena persoalan tanggal ulang tahun itu, mungkin juga karena dia adalah perempuan yang saya suka sebelum saya masuk seminari.

Jadi, kebetulan itu namanya. Coincidence. Dulu pas masih tergila-gila, senang sekali saya pada kebetulan soal ulang tahun ini. Bagaimana tidak, kan saya jadi tidak perlu susah-susah mengingat tanggal ulang tahun perempuan yang saya suka? Sekarang lain. It means nothing. Atau kalau boleh dihaluskan, bolehlah pinjam kata-kata Johan Cruyff, "Coincidence is logical". It is not something supernatural. Kebetulan itu sekarang sekadar bermakna dua orang penting dalam hidup saya diberi anugerah hidup baru. That's all.

Pertama, ibu.

Ibu datang ke tempat tinggal saya di Purwokerto pagi ini. Ia mengajak saya pergi ke Semarang untuk menengok kakek yang sedang sakit. Ketika beliau datang, wajah dan senyumnya berpendar terkena matahari pagi. Sambil saya rangkul lengannya, saya berkata, "Selamat ulang tahun ya, Bu." Lalu saya berikan kado sederhana yang saya siapkan. Sebuah poster karikatur beliau.


Beliau tampak gembira mendapatkan kejutan kado itu. Mungkin karena cinta dan perhatian saya beliau rasakan. Atau bisa jadi juga karena beliau merasa karikaturnya mirip dan lucu. Melihatnya, saya lebih bahagia. Kado saya sukses, batin saya. Credit untuk Pak Yani yang membuatnya. Beliau bisa menafsir foto dan menterjemahkannya dengan amat baik. Foto yang saya serahkan pada beliau sebenarnya ini:


Nah, lain kan dengan hasilnya. Sebelumnya saya sendiri coba edit pakai Photoshop. Hasilnya kalah jauh dengan buatan Pak Yani. 


Itulah ibu, perempuan sederhana terpenting dalam hidup saya. Beliau tidak suka mengatur, tetapi perhatiannya sampai ke ujung rambut suami dan anak-anaknya. Beliau tidak cerewet dan banyak bicara, tetapi hidup beliau hayati dengan sukacita dan ceria. Saya tidak akan mengatakan beliau ibu yang sempurna atau terbaik, sebab saya tidak ingin ibu diperbandingkan dengan siapapun. Yang ingin saya katakan adalah bahwa beliau telah melakukan sejuta hal-hal kecil dalam hidup saya. Dan persis, itulah mengapa beliau menjadi salah satu yang terbesar dan terpenting dalam hidup saya.
 
Kedua, perempuan yang pernah saya suka.

Mengapa dia penting dalam hidup saya? Sebab dialah yang membuat saya tumbuh dewasa soal cinta. Awalnya memang cinta monyet, katakanlah begitu. Saya suka dia karena dia cantik. Tetapi, semakin waktu saya semakin sadar, dia lebih daripada sekadar kecantikannya. Dia seperti jelmaan Dewi Amba dalam novel Antara Kabut dan Tanah Basah. Yang tak terengkuh justru membimbing Dewabrata untuk memahami cinta. Perempuan yang saya cinta ini tidak mencintai saya. Tetapi, dia tidak menolak atau membenci saya hanya karena saya mencintainya. Itu sangat saya syukuri dan hargai. Bukankah tak terhitung di dunia ini orang-orang yang terluka justru oleh orang yang ia cinta? 

Ia bahkan memperhatikan hidup saya. "Peristiwa surat" ketika saya menjalani tahun kedua di Seminari Mertoyudan misalnya. Sebelumnya saya sama sekali tidak pernah membayangkan ia, sebagai orang muslim, berani untuk mengirimkan surat pada saya yang calon imam di seminari. Tetapi ia melakukannya. Dan saya girang bukan kepalang. Malam itu juga saya baca suratnya di dalam kamar mandi. Jauh di dalam lubuk hati, saya terharu dan berterimakasih pada Tuhan. Saya benar-benar tidak mencintai orang yang salah.  

Saya bahagia ketika dia menikah pada tahun 2008, tahun ketika saya mulai menempuh studi di Yogyakarta. Saya bahagia ketika melihat hidupnya mapan dan berkecukupan. Saya bahagia melihatnya menempuh studi kebidanan dan kedokteran dan dapat lulus dengan baik. Juga, ini penting, saya bahagia melihat diri saya sendiri dalam beberapa tahun terakhir ini telah berhenti mencintainya. 

Saya telah mencintainya selama kurang lebih 10 tahun sejak pertama melihatnya pada bulan Agustus tahun 2001. Tiga tahun setelah ia menikah, saya bisa mengatakan saya sudah tidak mencintainya lagi, kendatipun saya masih memerhatikan hidupnya.

Itulah sebabnya ketika dia mengatakan perpisahan dengan suaminya di Instagram, saya yang benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, menjadi penasaran. Setahu saya, hubungannya dengan suami baik-baik saja, seperti tampak dalam foto ini.

Semoga mereka segera mendapatkan momongan.

Tetapi, foto yang terakhir diunggahnya lain dengan beberapa foto sebelumnya. Selain penasaran dengan maksud perpisahan yang ia maksud, saya juga penasaran dengan semua komentar yang masuk. Berikut foto dan komentarnya:



Ah, entahlah. Saya benar-benar buta akan akan kehidupan rumah tangganya. Meski demikian, saya berharap rumah tangganya baik-baik saja. Semoga Tuhan melindunginya.

18 April 2015

Pembantaian 1965-1966 di Indonesia

Disunting dari observasi atas pembantaian, dampak, dan implikasinya, oleh sejarawan John Roosa. Terima kasih disampaikan kepada John Roosa yang telah menyiapkan ringkasan ini. Catatan tambahan pada pembukaan dan penutupan ditulis oleh Joshua Oppenheimer.

Pada tahun 1965, pemerintah Indonesia digulingkan oleh tentara. Sukarno, presiden pertama Indonesia, pendiri gerakan non-blok, dan pemimpin revolusi nasional melawan penjajahan Belanda, disingkirkan dan digantikan oleh Jenderal Suharto yang berhaluan sayap kanan. Partai Komunis Indonesia (PKI), yang menjadi salah satu pendukung utama perjuangan melawan penjajahan Belanda, dan didukung penuh oleh Presiden Sukarno (yang bukanlah seorang komunis), segera dilarang.

Penggulingan Sukarno berawal dengan penculikan enam orang jenderal Angkatan Darat dalam sebuah operasi yang dinamai Gerakan 30 September (G30S). Pada saat terjadinya penculikan itu, PKI adalah partai komunis terbesar di dunia di luar negara-negara komunis. Partai tersebut secara resmi bertekad untuk meraih kekuasaan melalui pemilihan umum, dengan dukungan afiliasinya, termasuk serikat buruh di seluruh Indonesia dan serikat tani yang banyak beranggotakan petani tanpa tanah. Salah satu isu utama yang diangkat dalam kampanye PKI adalah reforma agraria (land reform), juga nasionalisasi perusahaan tambang, minyak, dan perkebunan milik asing. Dalam kampanye ini, PKI berusaha memobilisasi kekayaan sumber daya alam Indonesia untuk keuntungan rakyat Indonesia yang, setelah ratusan tahun dieksploitasi penjajahan, pada umumnya adalah rakyat sangat miskin. Pihak militer menuduh PKI, seluruh anggotanya dan anggota organisasi yang berafiliasi dengannya, sebagai otak dan penggerak G30S.

Setelah operasi militer di tahun 1965 itu, setiap orang yang menentang pemerintahan diktatorial militer Orde Baru dapat dituduh sebagai komunis, juga mereka yang menjadi anggota serikat buruh, para petani tanpa lahan, intelektual, dan orang Tionghoa, termasuk mereka yang memperjuangkan redistribusi penguasaan sumber-sumber daya ekonomi pada masa penjajahan.

Dalam waktu kurang dari satu tahun, dengan bantuan langsung dari pemerintah negara-negara barat, lebih dari satu juta orang yang dicap sebagai komunis dibunuh. Di Amerika Serikat, pembantaian ini dianggap sebagai "kemenangan besar atas komunisme", dan secara umum dirayakan sebagai berita baik. Majalah Time melaporkannya sebagai "berita terbaik dari Asia bagi negara Barat untuk beberapa tahun mendatang", sementara The New York Times menulis berita utama, "Secercah Cahaya di Asia", dan memuji pemerintah Amerika Serikat di Washington yang berhasil menyembunyikan peran mereka di dalam pembunuhan tersebut. 

(Pengkambinghitaman orang-orang Tionghoa, yang sudah datang ke Indonesia sejak abad ke-18 dan 19, dilakukan berkat hasutan dinas intelijen Amerika Serikat yang berupaya mengganjal hubungan rezim baru di Indonesia ini dengan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok. Pembantaian anggota PKI serta serikat buruh dan tani yang berafiliasi dengan PKI sampai ke tingkat desa juga didorong oleh Amerika Serikat karena khawatir bahwa tanpa pemberantasan "sampai ke akar-akarnya", rezim baru di Indonesia suatu saat akan mengakomodasi basis komunis yang masih ada.)

Di banyak daerah di Indonesia, tentara merekrut orang-orang sipil untuk melakukan pembunuhan. Mereka diorganisasikan dalam kelompok paramiliter, diberi pelatihan dasar militer (dan dukungan militer yang memadai). Di provinsi Sumatera Utara dan di tempat-tempat lain, anggota paramiliter direkrut sebagian besar dari para preman. Semenjak saat pembantaian dilakukan, pemerintah Indonesia merayakan "penumpasan komunis" sebagai sebuah perjuangan patriotik dan menyanjung para anggota paramiliter dan preman sebagai pahlawan, memberi mereka keleluasaan dan kekuasaan. Orang-orang ini dan anak buahnya banyak menduduki jabatan penting -dan menindas lawan-lawannya -sejak saat itu. Dalih yang dipakai untuk melakukan genosida pada 1965-1966 adalah pembunuhan enam orang jenderal pada dini hari 1 Oktober 1965. [Joshua Oppenheimer]

1.10.1965: Beberapa perwira Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang tidak puas kepada atasannya melancarkan Gerakan 30 September (G30S), membunuh enam orang jenderal Angkatan Darat dalam sebuah kudeta gagal dan membuang jasad mereka ke dalam sebuah sumur di selatan Jakarta. Pada saat yang sama, pasukan G30S mengambil alih stasiun Radio Republik Indonesia dan mengumumkan bahwa mereka bertujuan melindungi Presiden Sukarno dari kelompok kecil jenderal-jenderal sayap kanan yang berencana merebut kekuasaan. Gerakan 30 September dapat dilumpuhkan sebelum sebagian besar rakyat Indonesia mengetahui keberadaannya. Panglima Angkatan Darat berkedudukan tinggi yang selamat dari gerakan, Mayor Jenderal Suharto, meluncurkan serangan balasan yang cepat dan mengusir pasukan G30S dari Jakarta dalam waktu satu hari.

Suharto menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI) mendalangi G30S dan kemudian menyelenggarakan sebuah pembantaian terhadap orang-orang yang terkait dengan partai tersebut. Pasukan Suharto menangkapi lebih dari satu setengah juta orang dan menuduh semuanya terlibat dalam G30S. Dalam sebuah pertumpahan darah paling buruk di abad ke-20 ini, ratusan ribu orang dibunuh oleh tentara dan milisi pendukungnya, sebagian besar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara sejak akhir 1965 sampai pertengahan 1966. Dalam suasana darurat nasional, Suharto pelan-pelan merongrong kekuasaan Presiden Sukarno dan mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden de-facto (dengan kewenangan memberhentikan dan mengangkat menteri) pada Maret 1966.

Pembantaian ini dilakukan dengan sangat berlebihan jika melihat alasan penyebabnya. Gerakan 30 September adalah persekongkolan berskala kecil yang dilaksanakan oleh segelintir orang. Korban keseluruhan adalah dua belas orang terbunuh. Suharto membesar-besarkannya sedemikian rupa sehingga peristiwa itu tampak seperti sebuah konspirasi nasional berkelanjutan dan akan melakukan pembunuhan massal. Berjuta-juta orang yang berhubungan dengan PKI, bahkan para petani buta huruf di dusun-dusun terpencil, ditampilkan sebagai gerombolan pembunuh yang secara kolektif bertanggungjawab atas Gerakan 30 September.

Sampai penghujung masa kekuasaan rezim Suharto pada 1998, pejabat pemerintah dan perwira militer Indonesia menggunakan hantu PKI sebagai tanggapan atas setiap masalah kerusuhan atau gejala pembangkangan. Kata kunci dalam wacana rezim ini adalah "bahaya laten komunisme". Pemberantasan PKI yang tak kunjung usai, sungguh-sungguh merupakan alasan keberadaan (raison d'etre) bagi rezim Suharto. Landasan hukum yang dijadikan permulaan dan dipakai rezim Suharto untuk menguasai Indonesia selama lebih dari 30 tahun adalah perintah dari Presiden Sukarno pada 3 Oktober 1965 yang memberi wewenang kepada Suharto untuk "memulihkan ketertiban". Perintah itu dikeluarkan dalam keadaan darurat. Tapi bagi Suharto, keadaan darurat itu tidak pernah berakhir.

Dalam membangun ideologi yang membenarkan kediktatorannya, Suharto menampilkan dirinya sebagai juruselamat bangsa yang telah menumpas Gerakan 30 September. Rezim yang dibangunnya terus menerus menanamkan peristiwa tersebut ke dalam benak masyarakat luas melalui semua metode propaganda negara: buku teks, monumen, nama-nama jalan, film, museum, upacara peringatan, dan hari besar nasional. Rezim Suharto memberi dasar pembenaran keberadaannya dengan menempatkan G30S tepat pada jantung narasi historisnya menggambarkan PKI sebagai kekuatan jahat tak terperikan. Di bawah Suharto, anti-komunisme menjadi agama negara, lengkap dengan segala tanggal, ritual, dan situs sakralnya.

Sungguh mencengangkan bahwa kekerasan anti-PKI, suatu kejadian dengan skala demikian luas, ternyata salah dimengerti sedemikian parah. Tentu saja keterlibatan baik personil militer maupun penduduk sipil dalam pembantaian itu telah mengaburkan persoalan tanggung jawab. Bagaimanapun, dari sedikit yang sudah diketahui, jelaslah bahwa militer yang memikul bagian tanggung jawab terbesar, dan bahwa pembunuhan itu lebih merupakan kekerasan yang terencana dan birokratik daripada kekerasan massa yang spontan. Dengan mengarang cerita-cerita bohong mengenai G30S dan mengendalikan media massa sedemikian ketat, kelompok kecil perwira di sekitar Suharto menciptakan suasana di kalangan masyarakat luas bahwa PKI sedang bersiap-siap untuk perang. Tanpa militer, masyarakat tidak akan percaya bahwa PKI merupakan ancaman yang mematikan karena partai ini bersikap pasif setelah G30S ditaklukkan. (Pihak militer bekerja keras menyulut kemarahan rakyat melawan PKI sejak Oktober 1965 dan bulan-bulan selanjutnya; pemerintah Amerika Serikat secara aktif mendorong tentara Indonesia untuk mengejar seluruh anggota PKI sampai di tingkat yang paling rendah). Tentara mendorong milisi sipil untuk bertindak, memberi mereka jaminan impunitas, dan mengatur dukungan logistik.

Berlawanan dengan keyakinan umum, kekerasaan gila-gilaan oleh penduduk desa bukanlah merupakan hal yang lazim terjadi. Tentara di bawah komando Suharto biasanya memilih penghilangan paksa secara diam-diam daripada melakukan eksekusi di depan umum sebagai peringatan kepada masyarakat luas. Tentara dan milisi pendukungnya cenderung untuk melaksanakan pembunuhan berskala besar secara rahasia: mereka menjemput tahanan dari penjara pada malam hari, membawa mereka dengan truk ke sebuah tempat terpencil, mengeksekusi mereka, dan lalu mengubur jasad mereka di kuburan massal tanpa tanda atau melemparkannya ke sungai.

Tragedi sejarah modern Indonesia tidak hanya terletak pada pembunuhan massal 1965-1966 yang diorganisasi Angkatan Darat saja, tapi juga pada bertahtanya para pembunuh, yang memandang pembunuhan massal dan operasi-operasi perang urat syaraf sebagai cara-cara sah dan wajar dalam mengelola tata pemerintahan. Sebuah rezim yang mengabsahkan dirinya dengan mengacu kepada sebuah kuburan massal di Lubang Buaya dan bersumpah bahwa "peristiwa semacam ini tidak terulang lagi" mewariskan kuburan massal tak terbilang dari satu ujung tanah air ke ujung lainnya, dari Aceh di ujung barat sampai Papua di ujung timur. Pendudukan Timor Leste dari 1975 sampai 1999 telah meninggalkan puluhan ribu, jika bukan ratusan ribu, korban mati, kebanyakan terkubur tanpa nama. Setiap kuburan massal di Nusantara menandai pelaksanaan kekuasaan negara yang sewenang-wenang, tertutup, dan rahasia.

Dikeramatkannya peristiwa yang relatif kecil (G30S) dan penghapusan peristiwa bersejarah tingkat dunia (pembunuhan massal 1965-1966) telah menghalangi empati terhadap korban, seperti keluarga para perempuan dan laki-laki yang hilang. Sementara berdiri sebuah monumen di dekat sumur, tempat pasukan G30S membuang jasad tujuh perwira Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965, tidak ada satu monumen pun menandai kuburan-kuburan massal yang menyimpan ratusan ribu orang yang telah dibunuh atas nama penumpasan G30S. [John Roosa]

Menitikberatkan pertanyaan pada siapa membunuh jenderal Angkatan Darat pada 30 September 1965 telah berfungsi menjadi semacam fetish (pengalih perhatian), menggeser semua perhatian dari pembunuhan terhadap lebih dari satu juga orang yang dituduh komunis pada bulan-bulan selanjutnya. Rezim Suharto memproduksi propaganda tanpa henti mengenai "kekejaman komunis" ini, sebagian besar pembahasan mengenai genosida telah tergusur oleh tema ini. Dan hal ini juga terjadi pada kebanyakan bahan bacaan berbahasa Inggris. Bagi saya, berpartisipasi dalam perdebatan mengenai "siapa membunuh para jenderal" terasa janggal, dan itu sebabnya mengapa saya tidak menampilkannya dalam "Jagal".

Genosida di Rwanda dipicu peristiwa tewasnya Presiden Rwanda Juvenal Habyarimana (dari etnis Hutu) setelah pesawatnya ditembak jatuh ketika sedang menuju Kigali. Memusatkan perhatian kepada siapa yang menembak jatuh pesawat itu (apakah ekstremis Tutsi? apakah ekstremis Hutu yang bertindak sebagai provokator?) alih-alih melihat pembunuhan 800.000 orang Tutsi dan Hutu moderat dalam 100 hari sungguh tidak bisa diterima. Demikian pula dengan pertanyaan siapa yang menyulut kebakaran Reichstag tidak relevan dengan pemahaman mengenai Holocaust. Pertanyaan "apakah betul bahwa beberapa perwira tentara yang berada di balik pembunuhan enam jenderal itu didukung oleh pimpinan PKI" bukan hanya tidak penting, tetapi lebih dari itu, sebagaimana ditunjukkan oleh John Rossa di atas, pertanyaan tersebut memainkan peran jahat dalam rangka memalingkan perhatian dari pembunuhan massal yang penting dalam sejarah dunia. Bayangkan jika, di Rwanda, pertanyaan fundamental mengenai apa yang terjadi pada tahun 1994 adalah "siapa yang menembak jatuh pesawat presiden?" Hal ini hanya masuk akal jika para pembunuh massal itu masih duduk di tampuk kekuasaannya. [Joshua Oppenheimer]


Disalin dari booklet film Senyap (The Look of Silence).



09 March 2015

Dongeng tentang Cinta

Maria Emilia Voss, seorang peziarah ke Santiago, menceritakan kisah berikut ini.

     Pada zaman Cina kuno, sekitar tahun 250 SM, seorang pangeran dari wilayah Thing-Zda akan dinobatkan sebagai Kaisar; akan tetapi, sesuai hukum yang berlaku, dia harus menikah terlebih dahulu.
     Ini berarti sang pangeran mesti memilih calon ratu, dan dia harus menemukan gadis yang dapat dipercaya sepenuhnya. Atas nasihat seorang bijak, sang pangeran memutuskan untuk memanggil semua perempuan muda di wilayah itu, dan mencari calon yang paling pantas di antara mereka.
     Berita tentang persiapan-persiapan untuk acara tersebut sampai di telinga seorang perempuan tua yang sudah bertahun-tahun mengabdi di istana; perempuan ini menjadi sangat sedih, sebab anak perempuannya diam-diam menaruh hati kepada sang pangeran.
     Sesampainya di rumah, si perempuan tua memberitahukan hal ini kepada anak perempuannya, dan betapa kagetnya dia ketika gadis itu mengatakan akan berangkat ke istana.
     Perempuan tua itu sangat cemas.
    "Tetapi, anakku, apa yang akan kaulakukan di sana? Semua gadis yang paling kaya dan paling cantik akan hadir. Niatmu sungguh berlebihan! Aku tahu kau tentu sangat menderita, tetapi janganlah penderitaan ini membuatmu kehilangan akal sehat."
     Dan anak perempuannya menjawab:
    "Ibuku tercinta, aku tidak menderita dan aku juga tidak kehilangan akal sehatku. Aku tahu aku tidak akan terpilih, tetapi ini satu-satunya kesempatanku untuk, setidaknya, berada di dekat sang pangeran, walau hanya beberapa saat saja, dan ini sudah cukup untuk membuatku bahagia, meskipun aku tahu nasibku tidak akan seberuntung itu."
     Malam itu, si gadis pun sampai di istana. Semua gadis yang paling cantik juga sudah hadir, dengan mengenakan pakaian dan perhiasan yang indah-indah; semuanya siap melakukan apapun, asalkan bisa meraih kesempatan yang ditawarkan. Dengan didampingi para anggota istana, sang pangeran mengumumkan sebuah tantangan.
    "Aku akan memberikan sebutir benih kepada kalian masing-masing. Dalam waktu enam bulan, gadis yang membawakan bunga yang paling indah, akan menjadi calon ratu Cina."
    Gadis itu membawa pulang benih yang diberikan kepadanya dan menanamnya di sebuah pot. Berhubung dia tidak terlalu mahir berkebun, dia pun menyiapkan tanahnya dengan penuh kesabaran dan kelembutan, sebab dia percaya kalau bunga-bunganya tumbuh sebesar cintanya, maka dia tak perlu khawatir tentang hasilnya.
     Tiga bulan berlalu dan tidak ada satu tunas pun yang muncul. Gadis itu mencoba berbagai cara; dia bertanya kepada para petani dan tukang kebun, dan mereka menunjukkan berbagai metode pembudidayaan kepadanya, tetapi semua itu tak ada hasilnya. Makin hari dia merasa impiannya makin jauh dari jangkauan, walaupun cintanya masih tetap berkobar seperti sebelumnya.
     Akhirnya, masa enam bulan pun berakhir, dan tetap saja benih yang ditanamnya tidak menumbuhkan apa pun. Meski tidak bisa menunjukkan hasil apa-apa, dia tahu bahwa dia telah berusaha keras dengan sepenuh hati selama masa-masa tersebut; maka dikatakannya kepada ibunya bahwa dia akan kembali ke istana pada tanggal dan jam yang telah ditentukan. Dan di dalam istana, dia tahu bahwa perjumpaan dengan sang pangeran akan menjadi perjumpaan terakhir dengan cinta sejatinya, dan biar bagaimanapun dia tidak mau kehilangan kesempatan ini.
     Tibalah hari yang telah ditentukan itu. Si gadis datang dengan membawa pot-nya yang tidak berisi tanaman; dia melihat calon-calon lainnya telah datang dengan membawa hasil yang luar biasa; semua gadis seolah berlomba-lomba membawa bunga yang paling indah, dalam berbagai rupa dan warna.
    Akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Sang pangeran memasuki ruangan dan mengamati setiap calon dengan seksama dan penuh perhatian. Setelah mengamati mereka semua, dia mengumumkan hasilnya dan memilih anak perempuan si pelayan sebagai istri barunya.
     Gadis-gadis lain yang hadir di sana mulai memprotes, sebab sang pangeran memilih satu-satunya gadis yang tidak membawa hasil apa-apa.
    Dengan tenang sang pangeran menjelaskan rahasia di balik tantangan yang diumumkannya.
      "Gadis ini adalah satu-satunya yang menanam bunga yang membuat dia layak menjadi seorang ratu, yakni bunga kejujuran. Semua benih yang kubagikan itu steril dan tidak mungkin bisa menumbuhkan apa pun."
(Paulo Coelho, Seperti Sungai yang Mengalir, 181-184)

Untuk Rani yang akan menikah:
"Selamat mengarungi hidup baru. Semoga seperti kisah anak perempuan pelayan di atas, perjalanan rumah tanggamu senantiasa dibangun oleh kejujuran, detik demi detik, seumur hidup."

18 February 2015

Antara Paus Fransiskus dan Mantan-mantannya

Sebenarnya saya bisa menulis mengenai hari Rabu Abu yang dirayakan hari ini. Akan tetapi, renungan mengenai Rabu Abu sudah sering dibuat. Paling tidak, tadi pagi saya sudah membuat dan memberikannya bagi beberapa narapidana yang beragama kristiani di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Purwokerto. Di tempat itu, saya memberikan renungan mengenai pertobatan, sekaligus mengoleskan abu di dahi mereka, baik yang beragama Katolik maupun Kristen Protestan. Jadi, rasanya yang berkaitan dengan Rabu Abu sudah cukuplah. Saya akan menulis sesuatu yang lain.

Tulisan saya berikut bukan tulisan yang saya buat sendiri. Tulisan berikut adalah terjemahan saya atas artikel menarik yang saya baca ketika mempersiapkan renungan untuk para narapidana. Artikel ini berasal dari situs http://www.thedailybeast.com/. Entahlah, situs berita macam apa itu. Tetapi, artikel yang membicarakan masa lalu seseorang ini menarik sebab membicarakan masa lalu Paus Fransiskus, yang pada tahun 2013 dinobatkan oleh majalah terkemuka TIME sebagai Person of the Year.

The Pope's Days as a Mardi Gras Bouncer

Mardis Gras, Fat Tuesday, Martedi Grasso, apapun sebutannya, merupakan pesta terakhir sebelum berlangsung masa doa dan puasa dalam tradisi Prapaskah Katolik. Pada kesempatan pesta itu, Paus Fransiskus menghabiskan harinya justru untuk mempersiapkan diri demi pelayanannya dalam hari Rabu Abu. Namun, (ini penting) hal tersebut ternyata bukanlah jalan yang sejak semula dihayati oleh paus modern ini.

Banyak orang terkenal memiliki pekerjaan-pekerjaan yang tidak terduga sebelum mereka mencapai ketenarannya. Whoopi Goldberg tadinya adalah perias mayat; Kanye West sebelumnya adalah seorang pelayan toko; dan John Hamm tadinya adalah seorang desainer dalam industri film porno. Itulah mengapa kita tidak perlu heran bahwa Paus Fransiskus sebelumnya tidak selalu berada dalam lingkungan yang suci. Ketika masih dikenal sebagai Jose Maria Bergoglio, beliau bekerja sebagai tukang pukul dalam kelab malam di Flores, Argentina. Semuanya ia jalani untuk memperoleh uang demi mendukung biaya pendidikannya.

"Saya adalah tukang pukul paling parah sedunia," Paus Fransiskus berkata pada kongregasi San Cirillo Alessandrino di pinggiran kota Roma tidak lama setelah terpilih menjadi Paus pada tahun 2013. Dia sama sekali tidak menampakkan diri sebagai sosok yang penuh intimidasi. Beberapa biografi menuliskannya. Biografi mengenai Paus Fransiskus yang paling dalam, Francesco: Life and Revolution, ditulis oleh jurnalis Argentina Elisabetta Pique, yang telah mengenal Bergoglio sejak beliau terpilih menjadi Kardinal tahun 2001, dan yang dipanggil secara personal oleh Paus sesaat setelah pemilihan. Pique menggambarkan Bergoglio, laki-laki yang kemudian menjadi Paus ini sebagai "el Flaco" atau si kurus dan juga "Carucha" atau "baby face", sebagaimana teman-teman Bergoglio memanggilnya.

Paus Fransiskus juga memiliki kekasih sebelum dia menjadi imam -perempuan ini kabarnya adalah seorang penari Tango dan Milonga yang hebat. Paus Fransiskus memang kemudian meninggalkannya ketika beliau menyadari panggilannya, tetapi menurut Pique, lain waktu beliau sempat goncang di seminari ketika tidak sengaja dalam suatu acara, yakni pernikahan pamannya, beliau bertemu dengan seorang perempuan yang menarik hatinya. Pique mengutipnya dengan menulis, "Aku terpesona pada perempuan yang kulihat dalam pernikahan pamanku, kecantikannya, cahaya intelektualitasnya, semuanya mengejutkanku. Untuk beberapa saat, aku merasa bingung, perempuan itu selalu datang dalam pikiranku. Ketika aku kembali ke seminari setelah pesta pernikahan itu usai, seminggu penuh aku tidak bisa berdoa, sebab ketika aku mau berdoa, perempuan itu muncul di kepalaku."

Dan yang lebih terkenal lagi adalah kisah cinta Bergoglio yang waktu itu berumur 12 tahun pada seorang gadis bernama Amalia. Bergoglio berkata kepadanya, "Kalau kamu tidak mau menikah denganku, aku akan menjadi imam."

Menurut Pique, laki-laki yang akhirnya menjadi Paus tersebut bahkan sempat mengirim surat berisi gambar rumah beratap merah yang diberi catatan, "Rumah ini adalah rumah yang akan kubeli ketika kita menikah." Ketika orangtua Amalia menemukan surat tersebut, mereka menyobeknya dan melarang anaknya untuk bertemu "laki-laki itu" lagi sebab dia adalah benar-benar "masalah".

"Each has his past shut in him like the leaves of a book known to him by his heart; and his friends can only read the title."
Virginia Woolf

Masa lalu Paus Fransiskus yang memiliki banyak mantan ini menarik bukan?

Orangtua Amalia mungkin tidak akan pernah menyangka bahwa laki-laki yang mencintai anaknya -yang tidak hanya sekadar "bermasalah", tetapi bahkan menjadi "masalah" itu sendiri, sekarang menjadi Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia. Paling sekarang Amalia versi tuek-nya bisa dengan congkak mengatakan, "Dulu Paus jatuh cinta sama saya lho."

Setiap orang memiliki masa lalu. Setiap orang juga mempunyai kelemahan, kesalahan, dan dosa. Berbahagialah kita yang mampu berdamai dengannya, lalu mengubah hidup kita menjadi lebih baik. 

Nb: Yang tidak puas dengan terjemahan saya, bisa langsung membacanya di sini.


Selamat memasuki masa Prapaskah 2015.


08 February 2015

Adultery [Indonesian Version: Selingkuh] Quotes

Adultery, diterjemahkan dalam bahasa dengan judul Selingkuh, adalah novel terbaru Paulo Coelho. Novel tersebut mengisahkan pergulatan hidup seorang perempuan bernama Linda. Di satu sisi, Linda pantas dikagumi dan dicemburui oleh semua perempuan di dunia. Ia sukses dalam segala hal, baik dalam karir maupun dalam hidup rumah tangga. Namun, di sisi lain Linda juga mengalami gelisah yang tak berkesudahan, yang senantiasa menghantui malam-malamnya. Ia nyaris depresi, sampai kemudian petualangan-petualangan yang ia tempuh mengantarkannya pada akhir yang penuh makna.


Berikut saya tuliskan beberapa kutipan dalam novel tersebut yang berhasil menarik perhatian saya.

“Seperti yang tanpa ragu kausadari, aku bertanya apakah kau bahagia karena aku mengenali diriku dalam dirimu. Kemiripan saling menarik satu sama lain.”

“Dan semua ini membuat kita merasa tua, membuat kita merasa bahwa kita menjalani kehidupan yang membosankan dan tanpa petualangan sementara kulit kita semakin kendur, dan berat badan kita terus bertambah. Dan sekalipun demikian kita merasa harus menekan emosi dan gairah kita karena tidak sesuai dengan apa yang kita sebut ‘kedewasaan’.”

“Aku kembali dapat merasa, dan aku dapat mencintai sesuatu yang tidak dapat kumiliki.”

“Aku tidak bisa menghabiskan hidupku mencoba menyenangkan hati orang lain.”

“Aneh rasanya setiap kali bertemu teman-teman sekolah yang lama, kita selalu berpikir mereka tidak berubah sama sekali, bahkan meskipun yang paling lemah telah tumbuh kuat, yang paling cantik akhirnya menikah dengan monster, dan orang-orang yang sepertinya dulu sangat akrab telah renggang dan tidak saling bertemu bertahun-tahun lamanya.”

“Ini bukan cinta (ataukah cinta?), tetapi itu tidak penting. Cintaku adalah milikku dan aku bebas menawarkannya pada siapa pun yang kupilih, bahkan kalaupun itu bertepuk sebelah tangan.”

“Aku senang dengan pikiran terakhir itu: aku bebas untuk mencintai siapa pun di dunia ini. Aku dapat memutuskan siapa orangnya tanpa perlu meminta izin siapa pun.”

“Sekarang, jangan bilang kau tidak tahu jalan ke hatiku, karena kau sudah masuk ke sana beberapa kali sebelumnya, baik di masa lalu maupun masa kini.”

“Untuk menemukan damai di surga, kita harus menemukan kasih di bumi. Tanpa kasih, kita tidak berharga.”

“Tidak ada yang sebuta orang yang tidak ingin melihat.”

“Setiap orang memiliki sisi gelap.”

“Kita binatang yang tidak mungkin dapat dimengerti.”

“Kita selalu mempraktikkan kendali diri, mencoba menghalangi si monster keluar dari tempatnya bersembunyi.”

“Kita bukan orang yang semula kita inginkan. Kita adalah yang dituntut masyarakat. Kita adalah apa yang dipilih orangtua kita. Kita tidak ingin mengecewakan siapa pun; kita memiliki kebutuhan yang besar untuk dicintai.”

“Ketika kita melepaskan sisi gelap kita, sisi itu akan menutupi sepenuhnya sisi terbaik di dalam diri kita.”

“Begitulah cara para diktator lahir. Mula-mula secara umum mereka memiliki niat baik, tetapi sedikit demi sedikit, demi melakukan apa yang mereka anggap adalah demi ‘kebaikan’ rakyat, mereka menggunakan hal terburuk dalam sifat manusia: teror.”

Post Tenebras Lux. Setelah gelap, terang.”

“Dan sekarang anak-anakku mempelajari Calvin di sekolah seolah-olah dia seorang tokoh pencerahan, laki-laki dengan gagasan-gagasan baru yang membebaskan kita dari kuk aliran Katolik. Seorang revolusioner yang layak dihormati oleh generasi-generasi masa depan.”

“Saat sejarah ditulis oleh para penakluk, tak seorang pun sekarang mengingat kekejaman Calvin. Sekarang dia dipandang sebagai tabib bagi jiwa-jiwa, tokoh reformasi besar, orang yang menyelamatkan kita dari bidah Katolik, dengan para malaikat, santa, perawan, emas, perak, pengampunan dosa, dan korupsinya.”

“Malam, dengan segenap pesonanya, adalah juga jalan menuju pencerahan. Seperti halnya sumur yang gelap memiliki air yang memuaskan dahaga di bagian dasarnya, malam, yang misterinya membawa kita lebih dekat kepada misteri Tuhan, memiliki api yang dapat mengobarkan jiwa kita yang tersembunyi di balik bayang-bayangnya.”

“Akan tiba waktunya ketika kekalahan tak terelakkan, tetapi setidaknya kita bertarung sampai akhir.”

“Aku membuka tirai-tirai di kantorku dan melihat orang-orang di luar sana, ada yang berjalan dan bergandengan tangan tanpa harus mencemaskan tentang konsekuensi. Tapi aku tidak dapat menunjukkan cintaku.”

“Dan sering kali ada senyum di wajah kita dan sepatah kata penyemangat, karena tak seorang pun dapat menjelaskan rasa kesepiannya kepada orang lain, terlebih jika mereka tidak pernah sendirian.”

“Tetapi mereka bersikeras ini hanyalah masa-masa pelik atau depresi karena mereka takut menggunakan kata yang tepat dan mengerikan: rasa kesepian.”

“Mimpi selalu riskan, karena ada harga yang harus dibayar.”

“Tapi ini bukan tentang meminta izin. Kau menoleh ke belakang dan melihat kau juga dulu berpikir seperti orang-orang yang mendakwamu. Dulu kau juga mengutuk orang-orang yang kauketahui berselingkuh dan membayangkan jika kau tinggal di tempat lain, hukumannya bisa saja hukum rajam. Sampai ketika kau mengalaminya sendiri. Barulah kau menciptakan ribuan alasan untuk perilakumu dan berkata kau berhak untuk bahagia, bahkan kalaupun hanya sebentar, karena kesatria-kesatria pembunuh naga hanya ada dalam kisah-kisah dongeng.”

“Laki-laki berselingkuh karena hal itu ada dalam kode genetik mereka. Seorang wanita melakukannya karena dia tidak memiliki cukup martabat; ditambah jika dia menyerahkan tubuhnya, dia pada akhirnya selalu memberi sekerat hatinya. Kejahatan sejati. Sebuah pencurian. Ini lebih buruk daripada merampok bank, karena jika suatu hari nanti wanita itu ketahuan (dan dia selalu ketahuan), dia akan menciptakan kerusakan telak pada keluarganya.”

“Bagi kaum laki-laki ini hanyalah ‘kesalahan tolol’. Bagi kaum wanita, rasanya seperti kejahatan spiritual terhadap semua orang yang mengelilinginya dengan kasih sayang dan mendukungnya sebagai seorang ibu dan istri.”

“Kalau berhubungan dengan perselingkuhan, mediasi hanya membantu sedikit atau tidak sama sekali. Dalam kasus ini, orang tersebut gembira dengan apa yang sedang berlangsung. Mereka menjaga keamanan hubungan mereka dan pada saat yang sama juga mengalami petualangan. Ini situasi yang ideal.”

“Apa yang mendorong orang-orang melakukan perselingkuhan?”

“Jika orang yang menikah, demi entah alasan apa pun, memutuskan untuk mencari pasangan yang lain, ini tidak selalu berarti hubungan pasangan itu tidak berjalan dengan baik. Saya juga tidak percaya seks adalah motif utama. Ini lebih karena perasaan bosan, karena lenyapnya gairah hidup, karena ketiadaan tantangan. Ini campuran berbagai faktor.”

“Apakah Anda memperhatikan bahwa manusia lebih takut pada laba-laba dan ular daripada kendaraan, terlepas dari fakta bahwa kematian karena kecelakaan lalu lintas lebih sering terjadi? Ini karena pikiran kita masih hidup di zaman-zaman manusia gua, ketika ular dan laba-laba adalah sesuatu yang mematikan. Hal yang sama berlaku pada kebutuhan seorang laki-laki untuk memiliki beberapa wanita. Pada zaman itu laki-laki pergi berburu, dan alam mengajarinya bahwa melestarikan jenisnya adalah prioritas; kau harus menghamili sebanyak mungkin wanita.”

“Siapa pun yang mengatakan ‘cinta cukup’ itu berbohong. Cinta tidak cukup dan tidak pernah cukup.”

“Setelah menikah tiga tahun, seseorang sudah tahu dengan persis apa yang pasangannya inginkan dan pikirkan. Pada jamuan-jamuan makan malam kita harus mendengarkan kisah-kisah yang sama yang telah kita dengar berulang kali, selalu berpura-pura terkejut dan, sesekali, harus mengkonfirmasi mereka. Seks berubah dari gairah menjadi kewajiban, dan itulah sebabnya jadi semakin jarang dilakukan.”

“Cinta saja tidak cukup. Aku harus jatuh cinta pada suamiku.”

“Cinta bukan hanya perasaan; cinta adalah seni. Dan layaknya seni apa pun, cinta tidak hanya membutuhkan inspirasi, melainkan juga banyak kerja keras.”

“Aku memaku tatapanku pada suamiku; semua orang yang berbicara di depan publik harus memilih seseorang sebagai pendukung.”

“Dapatkah kau melatih dirimu untuk mencintai laki-laki yang tepat? Tentu saja bisa. Masalahnya adalah melupakan tentang laki-laki yang salah, laki-laki yang melintas lewat dan masuk tanpa izin ke dalam pintu yang dibiarkan terbuka.”

“Kurasa, sebenarnya, aku yakin semua orang yang menikah selalu memiliki seseorang yang diam-diam ditaksirnya. Itu terlarang, dan bermain-main dengan yang terlarang itulah yang membuat hidup menarik.”

“Tak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa usaha. Kau harus memiliki iman. Dan untuk itu, kau harus menghancurkan tembok-tembok prasangka, dan itu membutuhkan keberanian. Untuk memiliki keberanian, kau harus mengalahkan ketakutanmu. Dan begitulah seterusnya dan selanjutnya. Marilah kita berdamai dengan hari-hari kita.”

“Mengejar impian-impian ada harganya. Itu mungkin berarti meninggalkan kebiasaan-kebiasaan kita, mungkin mengharuskan kita mengalami kesengsaraan, atau mungkin mengantar kita pada kekecewaan, dan sebagainya. Tetapi sebesar apa pun bayarannya, itu tak pernah semahal harga yang harus dibayar orang-orang yang berhenti hidup. Karena pada suatu hari mereka akan menoleh ke belakang dan mendengar hati mereka sendiri berkata: ‘Aku sudah menyia-nyiakan hidupku’.”

“Aku takut memperdaya diriku sendiri, bahwa aku memandang kenyataan seperti yang kuinginkan terjadi dan bukan seperti yang sesungguhnya terjadi.”

“Cinta selalu berubah. Menurutku Jet d’Eau adalah monumen paling indah untuk dicintai yang diciptakan kesenian manusia, karena monumen ini juga tak pernah sama, selalu berubah.”

“Mengapa kita ingin hidup selamanya? Karena kita ingin hidup satu hari lagi bersama orang di sisi kita.”

“Hidup bukanlah liburan panjang, melainkan proses pembelajaran yang terus-menerus.”

Fine