04 October 2013

Hordeolum

Dua-tiga hari ini, saya mengalami bintitan. Menarik, sebab inilah pertama kali dalam hidup penyakit yang lumayan mythical itu menyerang saya. Saya sebut mythical, sebab bintitan atau yang dikenal orang Jawa sebagai timbilen ini memiliki mitos yang cukup melegenda. Bintitan atau timbilen kerap dikaitkan dengan akibat perbuatan cabul mengintip orang yang telanjang, entah sedang ganti pakaian, mandi, atau berhubungan seks. Mitos ini membuat penyakit itu menjadi seperti kutuk kecil. Orang yang terkena bintitan secara moral divonis sebagai terpidana kasus mengintip.
Selain mengintip, rupanya mitos bintitan juga menyangkut perbuatan dusta. Tadi siang di ruang makan, Rm. Gitowiratmo, Pr, dengan bercanda menyapa saya, “Nah, ini dia akibat kamu suka berbohong.” Saya menyeringai, merasa menjadi Pinokio versi Indonesia, yang ketika berbohong hidungnya tetap pesek, tetapi matanya jadi bintitan.
Bagaimanapun juga, penyakit mythical ini menyebalkan. Kalau mata yang sedang terkena bintitan gatal, saya tidak bisa menguceknya. Belum lagi, kalau saya harus membungkuk. Mata yang terkena bintitan serasa mau copot ke bawah. Itu sebabnya saya ingin penyakit ini segera sembuh.
Penyembuhannya pun tidak kalah menarik.
Metode penyembuhan suatu penyakit dapat dibagi menjadi dua. Pertama, metode penyembuhan Barat. Metode inilah yang mendasari ilmu kedokteran. Metode ini mulai dengan analisis medis demi diketahuinya indikasi-indikasi medis. Dari situ, proses berlanjut dengan diagnosis, dan barulah diambil tindakan-tindakan medis tertentu. Kedua, metode penyembuhan Timur. Metode ini cukup berbeda dengan metode penyembuhan Barat. Dalam terminologi metode penyembuhan Barat, proses penyembuhan metode ini mengabaikan proses analisis medis dan diagnosis. Jadi, penyakit yang disimpulkan dari tanda-tanda lahiriah langsung diberi tindakan medis, entah dengan obat atau aksi-aksi tertentu. Misalnya, orang yang masuk angin lalu dikerok. Tindakan medis mengerok tidak melewati proses analisis medis dan diagnosis, sebagaimana akan dialami orang yang masuk angin itu jika pergi berobat ke dokter atau Rumah Sakit.
Kembali ke bintitan, penyakit mythical yang kita bicarakan. Penyembuhan bintitan juga dapat terjadi melalui dua metode itu. Metode penyembuhan Barat akan saya uraikan kemudian. Kita bicara soal metode penyembuhan Timur terlebih dahulu.
Letak sesuatu yang menarik dari proses recovery bintitan ada dalam metode penyembuhan Timur ini. Ada berbagai macam cara. Hendy, sahabat saya, yakin seratus persen bahwa bintitan bisa sembuh dengan mengoleskan air seni pada mata yang terkena bintitan. Sebagai catatan, air seni yang dioleskan sebaiknya adalah yang diambil sesaat sebelum proses kencing selesai. Lain lagi dengan pendapat Bruder Hadi. Katanya, bintitan bisa sembuh dengan mengoleskan upil (kotoran hidung) pada mata yang sakit.
Dua tindakan medis itu memang tidak lazim sebagai proses penyembuhan. Sulit dijelaskan secara ilmiah juga. Tetapi, mereka tidak bisa disepelekan. It is the pride of East Tradition of Healing. Banyak orang-orang Jawa, termasuk saya, ketika masuk angin dikerok menjadi sembuh. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana tindakan medis kerok mampu menyembuhkan. Tetapi fakta berbicara, tindakan kerok menyembuhkan. Larisnya tradisi kerok di kalangan banyak orang ketika masuk angin menjadi salah satu tanda.
Yang berikut adalah bagaimana metode penyembuhan Barat menjelaskan fenomena bintitan dan mengurai proses penyembuhannya.  
Bintitan dikenal dalam dunia medis sebagai hordeolum, infeksi kelenjar sebasea yang terletak di bawah kelopak mata, khususnya di dasar bulu mata. Ada dua jenis hordeolum. Pertama, externum hordeolum (syte). Kedua, internum hordeolum. Hordeolum eksternal terjadi ketika infeksi mengenai kelenjar Zeiss dan Moll. Sedangkan hordeolum internal terjadi ketika infeksi mengenai kelenjar Meibom. Sebagian besar kasus hordeolum (90-95%), baik eksternal maupun internal, disebabkan oleh bakteri Staphylococcus Aureus. Bakteri lain yang dapat menyebabkan hordeolum, antara lain: Staphylococcus Epidermidis, Streptococcus, dan Eschericia Coli.
Gejala umum pada penderita hordeolum: kelopak mata bengkak, rasa pegal dan perih pada mata terutama ketika badan membungkuk, mata cenderung menjadi merah dan berair, bisa kemudian terbentuk abses (kantong nanah). Penjelasan detailnya silakan bertanya pada dokter terdekat, hehe.
Biasanya, bintitan akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 5-7 hari. Akan tetapi, jika ingin cepat sembuh, ada beberapa tindakan medis yang bisa diupayakan. Pertama, kompres mata yang sakit dengan air hangat selama 10-15 menit beberapa kali dalam satu hari. Upaya tersebut bertujuan mengurangi rasa sakit dan mempercepat kesembuhan. Kedua, pemberian antibiotika topikal. Antibiotika yang diberikan dapat berupa salep mata (eye ointment) atau tetes mata (eye drop). Antibiotika yang diberikan kiranya merupakan antibiotika yang memiliki spektrum sempit, yakni tertuju pada bakteri Staphylococcus Aureus. Yang dapat diberikan, misalnya, salep mata Bacitracin, Tobramicin, atau Eritromicin. Antibiotika sistemik baru dapat dipertimbangkan untuk diberikan ketika bintitan berkembang semakin parah, misalnya ada tanda-tanda bakterimia atau meibomitis kronik (Chalazion). Ketiga, operasi. Upaya tersebut ditempuh ketika pemberian antibiotika tidak berpengaruh secara signifikan. Pembedahan dilakukan untuk membuat drainase pada hordeolum.
Njlimet ya?
Yang penting adalah bahwa tujuan kedua metode penyembuhan tersebut sama, yakni kesembuhan. Kesembuhan itu jugalah yang saat ini sedang saya nanti-nantikan.
Terkait dengan diri sendiri, mana metode yang saya pakai? Dua-duanya. Saya tadi pagi ke Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta dan sudah mendapatkan antibiotika: salep mata Ikamicetin Clhoramphenicol serta obat tablet Ciprofloxacin dan Dansera. Saya akan rutin kompres mata dengan air hangat beberapa hari ini. Di samping itu, saya juga akan mencoba mengikuti keyakinan sahabat saya Hendy, yaitu mengoleskan air seni. Yang mungkin tidak saya ikuti adalah keyakinan Bruder Hadi terkait dengan tindakan medis mengoleskan upil, haha.
Terakhir, karena saya calon imam, mungkin baik jika ada refleksinya.
Refleksi saya sederhana. Terkait dengan hordeolum, kotoran yang mengandung bakteri jahat destruktif karena menyebabkan infeksi pada kelenjar sebasea di kelopak mata. Tindakan dosa mungkin juga seperti itu, destruktif. Poinnya adalah kita biasanya menghubungkan tindakan dosa dengan relasi kita terhadap Allah, tetapi kadangkala kita lupa menyadari bahwa tindakan dosa bersifat destruktif terhadap hidup kita sendiri. Secara teologis, dosa memisahkan kita dari Allah, sebagaimana dialami oleh Adam dan Hawa dengan memakan buah terlarang. Tetapi, sebaiknya tidak dilupakan bahwa secara antropologis, dosa membuat hidup kita semakin terpuruk.
Contohnya sederhana. Ketika saya berbohong, persoalannya bukan hanya bahwa saya membuat diri saya berada semakin jauh dari Allah, melainkan juga bahwa dengan berbohong, saya merusak relasi dengan sesama, terutama pihak-pihak yang saya rugikan/manfaatkan. Lebih dari itu, dengan berbohong saya merusak hidup saya sendiri. Integritas nilai-nilai dalam hidup saya menjadi kacau. Saya juga menjadi semakin tidak percaya diri karena dengan berbohong, saya menutup-nutupi kelemahan diri.
Eh, tunggu sebentar.
Berbicara berbohong, tiba-tiba saya teringat Pinokio versi Indonesia. Jangan lupa, berbohong bisa menyebabkan bintitan, timbilen, atau hordeolum, haha. Mitos lagi, mitos lagi. Mungkin mitos “ngapusi marai timbilen” memang tercipta untuk melarang orang berbohong, sebab kadangkala mitos memang lumayan mujarab untuk melarang orang. Saya pernah mendengar kisah orang yang meletakkan sajen di bawah pohon yang sering dikencingi orang untuk membuatnya tidak dikencingi lagi. Efektif rupanya. Pohon itu tidak lagi dikencingi orang.
The End

17 September 2013

Sarjana


Setelah bertahun-tahun kuliah
Akhirnya ia lulus dan diwisuda jadi gembala
Hadiah kelulusannya adalah seratus ekor domba

Ia buka lagi buku-bukunya semasa kuliah dulu
Dan menemukan tips menggembalakan domba
tanpa domba itu merasa digembalakan
1.    Panggil mereka dengan namanya
2.    Tuntun mereka ke rumput yang hijau (artinya rumput
tetangga; bukankah rumput tetangga selalu hijau?)
3.    Bawa pulang ke kandang dengan tenang
4.    Sering-seringlah mengucapkan kata maaf, terima kasih dan
silakan

Ia kerjakan semua sesuai petunjuk yang ada
Dan kecewa sebab seekor demi seekor
dombanya hilang entah kemana
Seperti harapan, cita-cita dan cinta
Selalu hilang tepat saat kita merasa menggenggamnya

Tapi ia tetap setia berangkat menggembala
Dengan domba-domba yang masih tersisa
Sampai suatu senja ia tinggal sendirian saja
Di sebuah padang yang kering dan gersang

Lihat, tuan gembala sedang hilang
mari ramai-ramai kita temukan
Ia seperti mendengar domba-dombanya sedang tertawa
Sedang darah mereka memerah di ufuk senja

Puisi ini dibuat oleh seorang sahabat bernama Catur Wibawa. 
Puisi-puisinya dalam Sayang Kau Tak Suka Kupu-Kupu sangat mendalam dan indah. 
Jika fenomena terbitnya "buku refleksi dalam misa perdana" masih berlanjut, puisi ini akan menjadi salah satu bagian buku saya. 

09 June 2013

Kebaikan yang Tersembunyi


Saya ingat bagaimana belajar bersepeda roda dua. Dua roda kecil yang mengapit roda belakang dilepas, dan hati ini rasanya lepas bersama mereka. Bapak meyakinkan saya bahwa ia akan selalu menjaga saya supaya tidak terjatuh. Betapa mulia janji bapak. Janji itu saya percaya, saya masukkan ke dalam sanubari, kian bertambah keberanian saya untuk mencoba.

Ketika saya mencoba, saya sama sekali tidak menemukan keseimbangan. Saya belum mampu menemukan ritme yang tepat. Namun, saya merasa aman. Selagi saya mengayuh dan mencari keseimbangan itu, bapak memegang sepeda saya dari belakang. Janji seorang ayah senantiasa bisa dipercaya.

"Terus kayuh, terus, terus kayuh!" bapak tidak berhenti menguatkan saya dari belakang.

Saya pun semakin bersemangat mengayuh. Pedal sepeda saya tekan, putar, dorong ke depan, seiring badan saya yang bergoyang-goyang. Tetapi, yang terburuk yang tidak terlintas dalam benak kemudian terjadi. Ketika saya menoleh, bapak sudah berada jauh di belakang saya. Beliau tersenyum lebar sampai gigi-giginya kelihatan. Saya kelimpungan. Panik seketika.

Bisa ditebak. Sepeda saya langsung oleng mengikuti pendirian saya yang roboh. Bapak macam apa beliau? Bagaimana saya bisa mempercayai kata-katanya? Apa artinya perbuatannya ini? Seribu tanya harus saya gulati bersama perih luka yang membuat saya meringis.

Saya sudah tidak ingat berapa lama waktu yang saya butuhkan sejak saat itu untuk bisa bersepeda roda dua. Yang jelas, peristiwa jatuh dan terluka itu membuat saya segera mampu bersepeda roda dua.

Bapak telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Hidup ini keras. Tuhan bukanlah pengawal yang tidak membiarkan kita terjatuh. Kadangkala kita terjatuh berulang kali, dan meskipun kita mempertanyakan kebijaksanaan-Nya, kebaikan tersembunyi yang Ia siapkan untuk kita senantiasa nyata.



21 May 2013

Thiago Messi

Bagaimana rasanya menjadi anak pemain sepakbola terbaik dunia dalam empat tahun terakhir (2009, 2010, 2011, 2012)? Tanyakan pada Thiago Messi. Hanya, tundalah pertanyaan itu beberapa tahun lagi, sebab saat ini Thiago masih merupakan seorang bayi. Ia tidak mengerti prestasi apa yang ditorehkan oleh ayahnya selama ini. Ia tidak peduli rekor apa saja yang telah ditulis ulang oleh ayahnya. Yang ia tahu, ayahnya adalah sepasang tangan yang selalu ada untuk menggendongnya. Yang ia mengerti, ayahnya adalah sepasang mata yang menatapnya tiada henti. Bagi Thiago, Messi sama sekali bukan pusat perhatian dan buah bibir dunia, melainkan seorang ayah dan suami dari Antonella Roccuzzo, ibunya.

Jadi, simpan saja pertanyaan itu. Sebab, kita semua tidak pernah akan tahu bagaimana reaksi Thiago ketika menyadari ayahnya adalah pesepakbola yang paling fenomenal di muka bumi ini. Biarlah waktu yang menyembunyikan pertanyaan-pertanyaan itu. Biarlah juga waktu yang menyingkapkannya pada anak itu.

Lebih bijaksana bagi kita untuk menikmati setiap saat hari ini, ketika Thiago berada di pelukan salah seorang pemain sepakbola terbesar dalam sejarah. Hic et Nunc, carpe diem!

“Hari ini saya menjadi pria paling bahagia di dunia. Anakku sudah lahir dan aku berterima kasih kepada Tuhan atas pemberian ini. Terima kasih kepada keluargaku untuk dukungannya. Peluk untuk semuanya," kata Messi setelah Thiago lahir.

Thiago sesaat setelah lahir

Sesaat setelah lahir pada tanggal 2 November 2012, Thiago langsung menjadi seorang Cules. Lihat saja gambarnya di atas. Ia juga langsung dikaitkan dengan tim nasional sepakbola Argentina, sebab ayahnya saat ini menjadi kapten tim Argentina. Selain itu, berdasarkan kesepakatan dengan Jorge Messi, ayah Lionel Messi, dalam usia tiga hari Thiago juga sudah didaftarkan menjadi anggota pendukung tim Newell's Old Boys, klub masa kecil Messi di Argentina sebelum hijrah ke Barcelona.  

Thiago dalam kostum Barcelona

Thiago dalam kostum tim nasional Argentina

Messi sangat mencintai anak pertamanya ini. Banyak hal menjadi tanda betapa Thiago memiliki tempat yang sangat istimewa di hati Messi. Ia membuat tato bergambar tangan anak kecil dengan tulisan "Thiago" di kaki kirinya. Ia mengabadikan Thiago dalam salah satu sepatu miliknya. Beberapa saat setelah Thiago lahir, Messi juga terlihat kerap mendedikasikan golnya untuk sang buah hati.

Messi tampak tenang ketika kakinya dirajah

"Thiago" di kaki Messi

"Thiago"

"Thiago"

Selebrasi atas gol ke gawang Celtic

Messi mendedikasikan golnya untuk Thiago

Kita semua tahu bahwa Messi merupakan orang yang sederhana. Ia tidak senang pergi ke klub malam meskipun kekayaan membuatnya mampu membeli beberapa bar sekaligus. Ia juga sangat rendah hati. Ketika tahun lalu ia memecahkan rekor 85 gol Mueller tahun 1972 dengan mencetak 91 gol dalam satu tahun kalender, Messi hanya berkomentar, "Saya sudah mengatakannya berulang kali. Selalu menyenangkan mencetak rekor, tetapi yang paling penting adalah kemenangan tim dan bahwa dengan menjaga perbedaan poin, tim tetap berada di puncak klasemen. Tujuan saya adalah memenangkan gelar bersama tim, baik itu gelar liga, piala Raja, maupun Liga Champions. Itu semua lebih penting daripada rekor-rekor pribadi saya." Messi yang bersahaja tersebut kini semakin berbahagia dengan kehadiran Thiago. Ia terlihat semakin menikmati kebersamaan dengan Antonella Roccuzzo, pacarnya.

Messi, Thiago, dan Antonella

Messi dan Antonella berjalan-jalan bersama Thiago

Belum lama ini, Barcelona merayakan keberhasilannya merebut gelar juara liga dari Real Madrid. Keberhasilan ini dirayakan di Camp Nou, stadion kebanggaan mereka. 

Selain peristiwa penyerahan trofi dari Puyol, kapten tim, kepada Tito Vilanova dan Eric Abidal, kehadiran keluarga para pemain juga menjadi perhatian tersendiri. Yang paling menyita perhatian tentu kehadiran Thiago. Diserahkan oleh Antonella, Thiago kemudian masuk ke dalam lapangan pesta dalam pelukan Messi. Menarik bahwa dalam usia enam bulan, Thiago telah menjelma menjadi bayi yang sangat lucu. Garis-garis wajah Messi terlihat pada wajah Thiago. Satu-satunya yang tidak "sinkron" dengan Messi hanyalah bentuk pipinya. Pipi Thiago sangat menggemaskan. Saking menggemaskannya, ketika Messi yang menggendong Thiago bergabung ke tengah lapangan, para pemain lain tidak kuasa untuk tidak menggoda Thiago.

Messi berulang kali mencium pipi anaknya

Xavi, Sergio, Jordi Alba, semua gemas. Tello?

Indeed, Tello.

Lihat wajah Thiago! LOL!

Cute Thiago

"Takut melihat trofi Liga, Thiago?"

Sesaat sebelum perayaan kembang api

Thiago di bahu ayahnya

Well, sepertinya baru kemarin kita melihat Messi menjadi pemain debutan Barcelona. Belum lama rasanya kita lihat Messi mencetak gol spektakuler ke gawang Getafe, ketika ia menggiring bola dari tengah lapangan, melewati semua pemain lawan termasuk penjaga gawangnya, dan mencetak gol. Tetapi, fakta berkata lain. Messi telah melalui masa-masa itu dengan berbagai macam gelar dan rekor di tangannya. Siapa tidak bergidik melihat prestasi Messi selama ini? Dalam usia 25 tahun, ia telah menyabet penghargaan pesepakbola terbaik di dunia empat kali. Tidak tanggung-tanggung, keempat gelar itu diraihnya in a row. Saat ini, ia juga masih dalam proses menjadi pencetak gol terbanyak Barcelona sepanjang masa. Therefore, guys, do not think Messi is the next Maradona anymore. Let us say Maradona is the previous Messi.

Messi berpose dengan koleksi Golden Ball-nya

Koleksi Golden Ball Messi dipamerkan di Camp Nou

Legendaris, karena Messi memang sebuah legenda. Dan kita semakin takjub, mengingat segalanya diraih dalam usia begitu muda. Masih banyak gelar yang bisa Messi raih di tahun-tahun mendatang. Masih banyak penghargaan yang dapat ia terima. Saat ini pemain fenomenal itu telah menjadi pria yang semakin dewasa. Ia telah memiliki Thiago, yang memberinya kebahagiaan terbesarnya. "Hari ini aku menjadi orang yang paling berbahagia di dunia. Putraku telah lahir," komentar Messi sesaat setelah Thiago lahir. Congratulation, the playstation player! (referring to Arsene Wenger's comment about Messi)

Messi and Thiago



20 May 2013

Bintang Kecil di Langit yang Biru


Peristiwa ini terjadi ketika saya menggunakan angkutan umum, sebuah mobil Carry tua berwarna merah, yang membawa saya ke Jatibarang, kota kecil di sebelah selatan Brebes.

Setelah mobil berjalan, dari jauh terlihat calon penumpang. Tampak seorang ibu muda dan anak kecil memberi kode pada sopir bahwa mereka ingin ikut. Setelah naik, mereka segera mengatur tempat duduk. Sekarang anak ibu muda itu berada persis di hadapanku.

Tiba-tiba, anak kecil itu menunjukkan pada ibunya sticker bintang yang banyak tertempel di kaca belakang mobil. "Mah, ada bintang." Ibunya tersenyum dan mengangguk.

Anak kecil itu pun mulai bernyanyi, memecah keheningan kami para penumpang yang hanya mendengarkan suara mesin. 

Bintang kecil, di langit yang biru
Amat banyak, menghias angkasa

Anak kecil itu berhenti bernyanyi, kemudian bertanya pada sang ibu. "Mah, langit birunya mana?"

Sang Ibu tersenyum lagi. Lalu, jarinya menunjuk ke luar kaca. "Nah, itu langit biru."

Putrinya diam saja, kemudian kembali bernyanyi.

Pelukismu agung, siapa gerangan
Pelangi-pelangi, ciptaan Tuhan

Melihat peristiwa tersebut dari awal, spontan saya tidak bisa menyembunyikan senyum dari mata sang Ibu. Anaknya sekaligus memberikan dua pelajaran berharga bagi saya.

Pertama, di balik hal-hal yang mustahil bagi kita, selalu ada ruang untuk Allah mewujudkannya. Lagu Bintang Kecil sudah saya kenal sejak saya kecil. Entah berapa kali lagu itu saya nyanyikan dalam hidup. Tetapi tahukah Anda? Baru ketika saya mendengarkan senandung anak kecil tadi, saya merasakan kebenaran lagu itu.  Persis ketika anak kecil itu menanyakan kepada ibunya, "Mah, langit birunya mana?" dan ibunya menjawab, "Nah, itu langit biru," saat itu pula saya merasa sungguh-sungguh melihat bintang di langit biru. Lagu ini tidak pernah mengkhianati dan membohongi anak-anak, kesimpulanku.

Saya dibuat sadar. Selama ini, saya menyanyikan lagu tersebut dengan paradigma bahwa bintang hanya dapat terlihat di malam hari. Bintang kecil di langit yang biru itu omong kosong. Namun, siang ini saya melihat bintang kecil di langit yang biru dengan mata kepala saya sendiri. Meskipun bintang yang kulihat hanya sticker, ya, sticker, tetapi aku sudah terlanjur terpesona. Bagaimana mungkin aku menyanggah anak kecil yang menganggap sticker tersebut memang bintang? Akan sangat jahat kalau saya sampai hati melakukannya. Siang ini saya belajar. Bintang kecil di langit yang biru tidak pernah merupakan suatu omong kosong. Selalu ada ruang bagi Allah untuk mewujudkannya, dan itu hanya terjadi jika kita bersedia untuk menjadi seperti anak kecil. 

Then Jesus called a little child to Him, set him in the midst of them, and said, "Assuredly, I say to you, unless you are converted and become as little children, you will by no means enter the kingdom of heaven. (Mat 18, 2-3)



Kedua, selalu ada toleransi untuk kelemahan-kelemahan kita. Peristiwa anak kecil yang melanjutkan lagu Bintang Kecil dengan lagu Pelangi merupakan suatu kesalahan yang fatal. Akan tetapi, tidak seorang pun orang dewasa di angkutan umum tersebut mempersalahkannya. Kami semua justru bahagia bersama anak kecil tersebut. Perempuan di sebelahku bahkan bertanya pada ibunya, "Umur pira, yu? Pinter ya." 

Kita bukan manusia kalau sempurna. Ketidaksempurnaan bersifat kodrati, melekat dengan jati diri kita sebagai manusia. Berbahagialah kita yang mampu berdamai dengan ketidaksempurnaan itu, sebab kita tahu, tidak semua manusia menerima kenyataan bahwa Allah toleran terhadap kerapuhan manusia. Hanya mereka yang bijaksana memahaminya seraya dengan rendah hati mempersembahkan diri di hadapan Allah dan sesama apa adanya. Sebab jika Allah tidak toleran kepada manusia yang rapuh dan lemah, Ia tidak akan mengutus Yesus datang ke dunia untuk menebus kerapuhan dan kelemahan kita. Sebab justru karena Allah toleran dengan semua kekurangan-kekurangan kita, Ia rela mengosongkan diri-Nya, kenosis, dan memberikan yang terbaik untuk kita, sahabat-sahabat-Nya.

There is no greater love than this, that a man should lay down his life for his friends. (John 18, 3)


Ketika angkutan tersebut sampai di Jatibarang, aku usap-usap rambut anak kecil itu. Lalu turun.



08 May 2013

Kisah Cinta Bagong

Di pinggir sungai, Bagong duduk termenung. Memikirkan hal berikut.

"Kita semua tahu. Dunia saat ini diliputi oleh peristiwa-peristiwa yang menyedihkan dan menyayat hati. Kekerasan terjadi di mana-mana. Perampokan dan pencurian tidak terhitung. Terorisme merenggut jiwa ribuan orang. Ada kabut hitam di balik awan putih yang kita lihat di angkasa. Ada kesedihan dan rasa putus asa di balik kemajuan peradaban umat manusia."

"Satu hal yang masih membuat dunia ini indah dan layak huni adalah pengalaman cinta yang dialami oleh setiap manusia. Bagi saya, hal itulah alasan mengapa menghilangkan kehidupan tidak pernah merupakan solusi dari semua kekacauan yang ada."

"Pengalaman cinta bukanlah sesuatu yang besar, melainkan sesuatu yang sederhana. Dia tidak terwujud sebagai sesuatu yang populer, tetapi sesuatu yang pribadi. Eksistensial, berkaitan dengan identitas diri manusia sebagai makhluk hidup yang utuh. Pengalaman ini dialami oleh setiap manusia lepas dari pakaian-pakaian yang ia kenakan. Pengalaman ini dikenang manusia seumur hidupnya, sebab seluruh hidup terlibat  ketika cinta menghampirinya. Persis di situlah terletak perbedaan pengalaman tersebut dengan peristiwa biasa: keterlibatan seluruh hidup manusia."

"Kita tidak mampu mengingat apa yang kita makan hari ini setahun yang lalu. Sebaliknya, kita mampu secara jelas mengingat bagaimana jejak petualangan kita mencintai seseorang. Sebab ketika makan, yang kita libatkan hanyalah organ konsumsi dan pencernaan, sementara dalam pengalaman cinta, pikiran, perasaan, dan seluruh emosi kita terlibat."

"Dan ini kisahku."

"Awalnya, saya mengira sayalah yang mencari cinta. Mungkin ketika itu, saya terpengaruh dengan salah satu lagu grup band DEWA yang berjudul, "Arjuna mencari cinta". Saat itu, bagi saya pengalaman cinta adalah perjalanan mencari dan menemukan cinta dalam titik-titik tertentu hidup ini. Saya mencintai perempuan yang satu belasan tahun, dan mulai mencintai perempuan yang lain dengan seluruh keistimewaan dan kekurangan yang ia miliki. Saya merasa menjadi Arjuna yang tiada henti berkeliling Astina untuk menemukan cinta, dan lebih dari itu, memahami bagaimana cinta itu berarti bagi hidupnya."

"Namun, semakin hari saya semakin sadar. Saya hanyalah Bagong yang ditakdirkan menjadi hamba. Konon, seorang hamba tidak pernah melebihi tuannya. Bagong tidak pernah menjadi tuan atas cinta yang ia cari. Justru cintalah tuan yang mengarahkan kesadarannya selama ini. Entahlah siapa sebenarnya Arjuna. Akan tetapi, bagi Bagong, Arjuna yang mencari cinta bukanlah pribadi yang sedang berusaha menemukan cinta sejati. Arjuna mencari cinta adalah cinta yang mencari jalan pembebasan bagi manusia. Dan itu Bagong sadari setelah melihat perempuan-perempuan yang dicintainya berbahagia. Kesadaran Bagong diputar 180 derajat. Bukan Bagong yang mencari cinta, melainkan cintalah yang mencari jalan pembebasan bagi Bagong. Bertahun-tahun ia merasa memegang kendali atas cinta yang ia temukan pada diri perempuan-perempuan idamannya. Rupanya perasaannya sama sekali keliru. Cintalah yang membimbing Bagong untuk bisa memahami apa yang ia alami.

Oleh karena itu, Bagong kemudian menulis puisi di atas daun.

Cinta
Bagong pernah merasa menjadi Arjuna yang mencarimu
Di setiap jalan, di deras senyum, di sungai perempuanku

Namun, di samar air kali ini
Bagong tahu siapa dirinya
Laki-laki bergincu lebar yang gempar

yang merasa mencari dan mendapatkanmu
yang ternyata engkau cari dan engkau rindu

Sekarang Bagong mengerti

Cinta selalu menemukan jalannya
Berbahagialah kita yang senantiasa tekun untuk menelusurinya

Bagong tersenyum. Daun itu kemudian Bagong hanyutkan ke sungai. Biar air membawa ke mana ia ingin membawanya, pikirnya.





20 April 2013

Hidup dan Tantangan


Menjadi minoritas di tengah mayoritas, tantangannya banyak.

1. Banyak perempuan/laki-laki rupawan nan baik, tetapi sedikit yang bisa menjadi jodoh.
2. Kecil kemungkinan Anda terlibat dalam tata pemerintahan negara.
3. Di banyak Sekolah Dasar dan Menengah, ada kemungkinan Anda tidak mendapatkan pelajaran Agama.
4. Dalam hidup, Anda bisa berjumpa, bahkan terlibat, dengan para radikalis dan fundamentalis.
5. Di restoran atau warung makan umum, bisa jadi Anda segan berdoa sebelum atau sesudah makan.
6. ... dan seterusnya.

Tidak hanya umat Katolik di Indonesia, minoritas di luar negeri juga sama halnya. Angelika Rother, teman kuliah dari Jerman, mengungkapkan bahwa menjadi muslim di Jerman juga menghadapi banyak tantangan. Misalnya, pemakaian jilbab di sekolah-sekolah umum. Tidak sedikit sekolah yang mempersulit pemakaian jilbab bagi murid-muridnya yang beragama Islam.

Sekitar dua ribu tahun yang lalu, murid-murid juga ternganga mendengar ajaran Yesus. Mereka sangat terkejut dan tidak menyangka Sang Guru mengajarkan mereka, "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman." Mereka tidak habis pikir bagaimana mungkin Sang Guru mengajarkan mereka menjadi kanibal. Hal tersebut tantangan yang tidak terkira, sebab mayoritas masyarakat Yahudi menolak kanibalisme. Bahkan, darah menjadi sesuatu yang menajiskan seseorang. Oleh karena itu, sebenarnya kita bisa memahami keputusan banyak murid yang kemudian meninggalkan Yesus. Ajaran-Nya terlalu keras!

Tantangan dalam hidup bersifat melekat (inheren) dengan hidup. Menolak tantangan-tantangan yang hidup tawarkan sama saja dengan menolak hidup itu sendiri. Mereka yang bijaksana menerima hidup, menghadapi tantangan-tantangan yang dijumpainya, dan merefleksikannya. Yang disebut terakhir juga penting, sebab meminjam perkataan Socrates, hidup yang tidak direfleksikan tidak pantas dijalani.

Jadi, apa jawaban Anda bila saat ini Sang Guru bertanya kepada Anda, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"

05 April 2013

Remah Masa SMA di Seminari Mertoyudan


















Kentut dalam Pelajaran Olahraga

Pagi itu, para siswa kelasku mengadakan praktek lompat jauh. Pak Sri, guru olahraga kami, berdiri di dekat papan tempat kaki ditolakkan. Ia bertindak sebagai seorang pencatat pencapaian murid-muridnya, sekaligus pengawas kalau-kalau ada murid yang melanggar peraturan. Kalau melanggar, kami didiskualifikasi dan disuruh mengantri lagi di belakang. Kami harus mengulang, memperbaiki lompatan yang gagal itu. 

Tibalah giliranku. Jarak lima puluhan meter dengan papan tolak tidak kusia-siakan. Aku berlari sekencang mungkin, seperti biasanya sebagai pemain sepakbola aku berlari. Naas, ketika hendak menapakkan salah satu kakiku ke papan tolak itu, aku terkentut-kentut. "Prepet, prepet, prepet," begitu bunyinya mengiringi sisa-sisa lariku. Sama sekali aku tidak jadi melompat. Aku hanya menyeringai, pada Pak Sri yang terkekeh-kekeh, dan semua temanku yang terbahak-bahak.


Mutung dalam Pelajaran Bahasa Indonesia

Pelajaran bahasa Indonesia di SMA Seminari Mertoyudan dibedakan menjadi dua. Pertama, pelajaran Bahasa Indonesia "biasa". Maksudnya, pelajaran tersebut sama dengan apa yang diajarkan oleh sekolah-sekolah umum lainnya. Pengampu pelajaran Bahasa Indonesia jenis pertama tersebut adalah Bpk. Gunawan Sudarsana. 













Kedua, pelajaran Bahasa Indonesia yang "luar biasa". Luar biasa karena jenis yang kedua ini tidak memberi manfaat langsung yang dapat dirasakan oleh para siswa saat itu. Selama empat tahun, pelajaran jenis kedua ini hanya terdiri dari dua materi: penentuan struktur kalimat dan hukum kaitan kata Diterangkan Menerangkan-Menerangkan Diterangkan (DM-MD). Pengampu pelajaran Bahasa Indonesia jenis kedua tersebut adalah Bpk. Vinsensius Sunaryo.

Pelajaran Pak Naryo amat menantang. Masuk kelas, Pak Naryo akan masuk dan duduk di meja guru. Tidak lama kemudian, beliau akan membuka Kitab Suci dan membacakan satu kalimat. Para siswa mencatat kalimat itu dan kemudian menganalisis struktur kalimatnya. Kalau sudah merasa benar, siswa yang bersangkutan bisa maju memohon konfirmasi dari Pak Naryo. Di sinilah letak masalahnya. Sekalipun kadangkala siswa sudah merasa benar, hampir selalu ada yang salah. Dicoretlah dengan pena oleh pak Naryo analisis yang salah tersebut. Kalau sudah demikian, kami harus mundur dan meneliti analisis kami kembali.

Aku termasuk anak yang tidak terlalu pandai. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang diampu oleh Pak Naryo ini, berulang kali aku maju, berulang kali pula aku kembali ke tempat duduk dengan raut wajah bingung karena analisisku dinilai salah. Kalau usahaku meneliti sudah maksimal, tetapi masih dinilai salah, biasanya aku mutung. Aku tidak akan mengerjakan dan maju lagi meskipun waktu yang tersisa untuk pelajaran tersebut masih banyak.

Pelajaran tersebut memang unik. Ketika itu, kami tidak dapat merasakan langsung manfaatnya. Bahkan, dalam pelajaran tersebut, aku sendiri kerap mutung karena kesulitan. Akan tetapi, yang pernah belajar di Seminari Mertoyudan kiranya sepakat, pelajaran Bahasa Indonesia Pak Naryo memberikan kita manfaat, yang baru kita sadari setelah kita lulus, kemampuan berbahasa dengan baik dan benar, baik dalam menulis atau bertutur kata.



















Nasehat dalam Pelajaran Kimia

Nasehat ini diberikan oleh Bpk. Supadno, guru STM Pembangunan Yogyakarta, yang juga mengajar pelajaran Kimia di Seminari Mertoyudan. Nasehat tersebut masih saya ingat karena substansinya yang "tidak biasa". 

Dalam suatu pelajaran, beliau menyatakan bahwa kalau kita menderita sakit flu atau pusing, jangan ragu untuk berolahraga kalau mau sembuh. Beliau menceritakan pengalamannya sendiri. Kata beliau, ketika mengalami sakit kepala, beliau justru jogging, lari-lari. Tidak lama kemudian, sakit kepalanya hilang. Aku lupa apakah beliau ketika itu memberikan penjelasan ilmiah tentang hal tersebut, seperti misalnya reaksi-reaksi kimiawi dalam tubuh, tetapi yang jelas, nasehat beliau disampaikan dengan argumen-argumen yang meyakinkan kami semua.

Entahlah bagaimana nasehat tersebut dilihat dari ilmu medis. Saya tidak tertarik. Nasehat itu sudah cukup menarik bagi saya.


Bau Petai dalam Pelajaran Matematika

Saya memiliki sahabat bernama Cosmas. Rumahnya terletak tidak jauh dari Seminari Mertoyudan. Suatu hari, dia datang membawa petai dalam jumlah yang lumayan banyak. Rupanya, banyak teman yang senang mengonsumsi petai. Petai-petai yang dibawa oleh Cosmas pun dinikmati dengan semangat Heaven in Earth.

Yang kurang disadari, pesta petai sempat terjadi pula di kelas ketika kelas kosong. Ketika berganti jam pelajaran, udara yang beraroma petai di kelas dan di mulut para siswa tidak ikut berganti. Jadilah bu Esthi, guru mata pelajaran Matematika kami, merasa terganggu dengan bau tersebut. Beliau pun tidak bisa fokus mengajar karena bau tersebut. Siswa-siswa sepertinya puas.









Masih soal bu Esthi, kusampaikan saja di sini. Guru kami yang satu ini terkenal sebagai guru yang sangat intensif dalam mengajarkan materi kepada para muridnya. Konsekuensinya amat positif, pelajaran Matematika jadi terasa lebih mudah dan bisa dipahami. Meski demikian, intensitas bu Esthi ada efek sampingnya juga. Suatu kali, dia mengajarkan materi yang sulit kepada para siswa dengan sangat baik. Pelajaran Matematika sangat intensif ketika itu. Di akhir pelajaran, yang menurut kebiasaan mesti ditutup dengan tanda salib, bu Esthi pun memimpin kami semua membuat tanda salib. Yang menarik, kata-kata yang meluncur dari mulutnya adalah "Satu, dua, tiga, dan empat", bukan "Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus." Sontak kami tertawa ketika itu. Duh, bu Esthi ada-ada saja deh.


Pukulan Sayang Rm. Ria dalam Pelajaran Cantus 

Rama Ria mengajar Cantus atau Seni Musik. Yang paling dikenang tentu adalah pukulan-pukulan kerasnya di pundak kami para siswanya kalau kami menjawab dengan ragu-ragu, apalagi salah. Tetapi catat, pukulan tersebut bukan pukulan tanda adanya kekerasan dalam pendidikan di sekolah kami, melainkan justru pukulan sayang. Kami sebut pukulan sayang karena pukulan tersebut kerasnya masih bisa kami terima dan kelola sebagai laki-laki, tetapi lebih dari itu, pukulan tersebut menunjukkan perhatiannya kepada kami. Sebab kami semua tahu, Rama Ria ingin semua muridnya, calon-calon rama itu, menguasai dasar-dasar musik dengan baik.


Mengantuk dalam Pelajaran Seni Rupa

Pelajaran Seni Rupa diampu oleh (alm) Bpk. Handoko. Pak Handoko ini bakat seninya luar biasa karena selain pandai menggambar, hal-hal berbau seni yang lainnya pun beliau kuasai dengan baik.

Salah satu yang kami kenang dari beliau adalah kebiasaannya untuk menggambar wajah para siswa yang tertangkap mengantuk di kelas. Dia akan menghentikan pembicaraannya, kemudian mengambil kapur, dan mulai menggambar sketsa wajah siswa yang mengantuk itu. Kalau sudah begitu, kelas akan menjadi segar. Para siswa akan mencari tahu siapa siswa yang wajahnya sedang digambar oleh Pak Handoko.

Sekitar tahun 2007, beliau meninggal dunia karena kecelakaan di Magelang. Begitu sedih kami mendengarnya. Semoga beliau diterima di sisi-Nya, dalam kebahagiaan abadi bersama Bapa.


Lagu Jadul dalam Pelajaran Listening (Bahasa Inggris)

Pada dasarnya, kami semua senang mengikuti pelajaran Listening, sebab kami akan keluar dari kelas menuju ruang audiovisual. Di tempat tersebut, Pak Agung, pengampu pelajaran Listening, akan mengajar kami dengan materi-materi yang ia siapkan.









Salah satu kebiasaan beliau yang tidak bisa kami lupakan adalah sebagai berikut. Kalau waktu menunjukkan pergantian jam pelajaran kurang sepuluh menit lagi, beliau akan menghentikan pengajarannya dan mengajak kelas bernyanyi bersama. Masalahnya, nyanyian-nyanyian yang ditawarkan luar biasa jadulnya! Bayangkan, yang paling tidak jadul saja Michael Learns to Rock. Masih terkenang di ingatan kami lirik lagu super jadul seperti, "Dona, Dona, Dona, Dona, Dona, Dona, Dona, Dona, Don."


Bahasa Rusia dalam Pelajaran Grammar (Bahasa Inggris)

Suatu hari, Pam-pam, sahabat kami yang ketika itu duduk di bangku terdepan, dalam keheningan kelas (kami semua sedang mengerjakan tugas) memberanikan bertanya kepada Pak Surawan, guru pengampu pelajaran Grammar, yang sedang duduk di meja guru. "Bla... bla... bla..." Pam-pam bertanya dengan Bahasa Inggris. Tetapi, mungkin karena pelafalan Pam-pam tidak begitu jelas, Pak Surawan yang mengernyitkan dahi balik bertanya kepada Pam-pam, "Do you speak Russian?" Mendengar itu, kontan seisi kelas tertawa riuh dibuatnya. Pam-pam pun ikut tertawa, tapi saya tahu, cukup tertohok dia. Buktinya, sampai saat ini dia masih ingat persis peristiwa tersebut.

Pak Surawan adalah teladan yang sangat baik bagi kami untuk menjadi seorang pembelajar. Beliau sudah lumayan banyak umurnya. Akan tetapi, rasa laparnya akan pengetahuan masih seperti anak kecil. Beliau gemar belajar. Itu sebabnya sebagai guru SMA, beliau belajar sampai ke taraf yang tertinggi dalam jenjang pendidikan di Indonesia, yaitu pendidikan Strata Tiga (S3). Beliau inilah yang orang yang menuliskan Kamus Kata Serapan yang menjadi salah satu kamus kata serapan terlengkap di Indonesia. Bangga kami murid-murid dibuatnya.













Sekian dulu sharing pengalamanku. Masih banyak kisah yang belum terungkap selama kami tinggal di SMA Seminari Mertoyudan, tempat pendidikan terbaik yang menjadikan masa SMA kami berbobot, tanpa kehilangan keindahannya. Gracias!