Showing posts with label Catur Wibawa. Show all posts
Showing posts with label Catur Wibawa. Show all posts

03 February 2015

Ulat

Ulat ini untukmu
Hadiah dariku di hari ulang tahunmu

Aku telah berburu di hutan sepanjang malam
Menyibak semak duri dan belukar
Mengintai dan menyelinap di antara pohon-pohon dan daunan
hitam
Hanya untuk menangkap seekor ulat yang matanya berbinar
seperti bintang

Rawatlah ia
Sebab sebentar lagi ia kepompong dan akan menjelma kupu-kupu
Seperti juga dirimu
Akan tertidur dan bangun dengan sepasang sayap di pundakmu
Lalu kau akan terbang menjemput bintang

Sementara aku terus meranggas
Sampai musim reda dan tubuhku kembali menjadi tunas

Catur Wibawa, Sayang Kau Tak Suka Kupu-kupu, 2008

17 September 2013

Sarjana


Setelah bertahun-tahun kuliah
Akhirnya ia lulus dan diwisuda jadi gembala
Hadiah kelulusannya adalah seratus ekor domba

Ia buka lagi buku-bukunya semasa kuliah dulu
Dan menemukan tips menggembalakan domba
tanpa domba itu merasa digembalakan
1.    Panggil mereka dengan namanya
2.    Tuntun mereka ke rumput yang hijau (artinya rumput
tetangga; bukankah rumput tetangga selalu hijau?)
3.    Bawa pulang ke kandang dengan tenang
4.    Sering-seringlah mengucapkan kata maaf, terima kasih dan
silakan

Ia kerjakan semua sesuai petunjuk yang ada
Dan kecewa sebab seekor demi seekor
dombanya hilang entah kemana
Seperti harapan, cita-cita dan cinta
Selalu hilang tepat saat kita merasa menggenggamnya

Tapi ia tetap setia berangkat menggembala
Dengan domba-domba yang masih tersisa
Sampai suatu senja ia tinggal sendirian saja
Di sebuah padang yang kering dan gersang

Lihat, tuan gembala sedang hilang
mari ramai-ramai kita temukan
Ia seperti mendengar domba-dombanya sedang tertawa
Sedang darah mereka memerah di ufuk senja

Puisi ini dibuat oleh seorang sahabat bernama Catur Wibawa. 
Puisi-puisinya dalam Sayang Kau Tak Suka Kupu-Kupu sangat mendalam dan indah. 
Jika fenomena terbitnya "buku refleksi dalam misa perdana" masih berlanjut, puisi ini akan menjadi salah satu bagian buku saya.