Showing posts with label Paulo Coelho. Show all posts
Showing posts with label Paulo Coelho. Show all posts

09 March 2015

Dongeng tentang Cinta

Maria Emilia Voss, seorang peziarah ke Santiago, menceritakan kisah berikut ini.

     Pada zaman Cina kuno, sekitar tahun 250 SM, seorang pangeran dari wilayah Thing-Zda akan dinobatkan sebagai Kaisar; akan tetapi, sesuai hukum yang berlaku, dia harus menikah terlebih dahulu.
     Ini berarti sang pangeran mesti memilih calon ratu, dan dia harus menemukan gadis yang dapat dipercaya sepenuhnya. Atas nasihat seorang bijak, sang pangeran memutuskan untuk memanggil semua perempuan muda di wilayah itu, dan mencari calon yang paling pantas di antara mereka.
     Berita tentang persiapan-persiapan untuk acara tersebut sampai di telinga seorang perempuan tua yang sudah bertahun-tahun mengabdi di istana; perempuan ini menjadi sangat sedih, sebab anak perempuannya diam-diam menaruh hati kepada sang pangeran.
     Sesampainya di rumah, si perempuan tua memberitahukan hal ini kepada anak perempuannya, dan betapa kagetnya dia ketika gadis itu mengatakan akan berangkat ke istana.
     Perempuan tua itu sangat cemas.
    "Tetapi, anakku, apa yang akan kaulakukan di sana? Semua gadis yang paling kaya dan paling cantik akan hadir. Niatmu sungguh berlebihan! Aku tahu kau tentu sangat menderita, tetapi janganlah penderitaan ini membuatmu kehilangan akal sehat."
     Dan anak perempuannya menjawab:
    "Ibuku tercinta, aku tidak menderita dan aku juga tidak kehilangan akal sehatku. Aku tahu aku tidak akan terpilih, tetapi ini satu-satunya kesempatanku untuk, setidaknya, berada di dekat sang pangeran, walau hanya beberapa saat saja, dan ini sudah cukup untuk membuatku bahagia, meskipun aku tahu nasibku tidak akan seberuntung itu."
     Malam itu, si gadis pun sampai di istana. Semua gadis yang paling cantik juga sudah hadir, dengan mengenakan pakaian dan perhiasan yang indah-indah; semuanya siap melakukan apapun, asalkan bisa meraih kesempatan yang ditawarkan. Dengan didampingi para anggota istana, sang pangeran mengumumkan sebuah tantangan.
    "Aku akan memberikan sebutir benih kepada kalian masing-masing. Dalam waktu enam bulan, gadis yang membawakan bunga yang paling indah, akan menjadi calon ratu Cina."
    Gadis itu membawa pulang benih yang diberikan kepadanya dan menanamnya di sebuah pot. Berhubung dia tidak terlalu mahir berkebun, dia pun menyiapkan tanahnya dengan penuh kesabaran dan kelembutan, sebab dia percaya kalau bunga-bunganya tumbuh sebesar cintanya, maka dia tak perlu khawatir tentang hasilnya.
     Tiga bulan berlalu dan tidak ada satu tunas pun yang muncul. Gadis itu mencoba berbagai cara; dia bertanya kepada para petani dan tukang kebun, dan mereka menunjukkan berbagai metode pembudidayaan kepadanya, tetapi semua itu tak ada hasilnya. Makin hari dia merasa impiannya makin jauh dari jangkauan, walaupun cintanya masih tetap berkobar seperti sebelumnya.
     Akhirnya, masa enam bulan pun berakhir, dan tetap saja benih yang ditanamnya tidak menumbuhkan apa pun. Meski tidak bisa menunjukkan hasil apa-apa, dia tahu bahwa dia telah berusaha keras dengan sepenuh hati selama masa-masa tersebut; maka dikatakannya kepada ibunya bahwa dia akan kembali ke istana pada tanggal dan jam yang telah ditentukan. Dan di dalam istana, dia tahu bahwa perjumpaan dengan sang pangeran akan menjadi perjumpaan terakhir dengan cinta sejatinya, dan biar bagaimanapun dia tidak mau kehilangan kesempatan ini.
     Tibalah hari yang telah ditentukan itu. Si gadis datang dengan membawa pot-nya yang tidak berisi tanaman; dia melihat calon-calon lainnya telah datang dengan membawa hasil yang luar biasa; semua gadis seolah berlomba-lomba membawa bunga yang paling indah, dalam berbagai rupa dan warna.
    Akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Sang pangeran memasuki ruangan dan mengamati setiap calon dengan seksama dan penuh perhatian. Setelah mengamati mereka semua, dia mengumumkan hasilnya dan memilih anak perempuan si pelayan sebagai istri barunya.
     Gadis-gadis lain yang hadir di sana mulai memprotes, sebab sang pangeran memilih satu-satunya gadis yang tidak membawa hasil apa-apa.
    Dengan tenang sang pangeran menjelaskan rahasia di balik tantangan yang diumumkannya.
      "Gadis ini adalah satu-satunya yang menanam bunga yang membuat dia layak menjadi seorang ratu, yakni bunga kejujuran. Semua benih yang kubagikan itu steril dan tidak mungkin bisa menumbuhkan apa pun."
(Paulo Coelho, Seperti Sungai yang Mengalir, 181-184)

Untuk Rani yang akan menikah:
"Selamat mengarungi hidup baru. Semoga seperti kisah anak perempuan pelayan di atas, perjalanan rumah tanggamu senantiasa dibangun oleh kejujuran, detik demi detik, seumur hidup."

08 February 2015

Adultery [Indonesian Version: Selingkuh] Quotes

Adultery, diterjemahkan dalam bahasa dengan judul Selingkuh, adalah novel terbaru Paulo Coelho. Novel tersebut mengisahkan pergulatan hidup seorang perempuan bernama Linda. Di satu sisi, Linda pantas dikagumi dan dicemburui oleh semua perempuan di dunia. Ia sukses dalam segala hal, baik dalam karir maupun dalam hidup rumah tangga. Namun, di sisi lain Linda juga mengalami gelisah yang tak berkesudahan, yang senantiasa menghantui malam-malamnya. Ia nyaris depresi, sampai kemudian petualangan-petualangan yang ia tempuh mengantarkannya pada akhir yang penuh makna.


Berikut saya tuliskan beberapa kutipan dalam novel tersebut yang berhasil menarik perhatian saya.

“Seperti yang tanpa ragu kausadari, aku bertanya apakah kau bahagia karena aku mengenali diriku dalam dirimu. Kemiripan saling menarik satu sama lain.”

“Dan semua ini membuat kita merasa tua, membuat kita merasa bahwa kita menjalani kehidupan yang membosankan dan tanpa petualangan sementara kulit kita semakin kendur, dan berat badan kita terus bertambah. Dan sekalipun demikian kita merasa harus menekan emosi dan gairah kita karena tidak sesuai dengan apa yang kita sebut ‘kedewasaan’.”

“Aku kembali dapat merasa, dan aku dapat mencintai sesuatu yang tidak dapat kumiliki.”

“Aku tidak bisa menghabiskan hidupku mencoba menyenangkan hati orang lain.”

“Aneh rasanya setiap kali bertemu teman-teman sekolah yang lama, kita selalu berpikir mereka tidak berubah sama sekali, bahkan meskipun yang paling lemah telah tumbuh kuat, yang paling cantik akhirnya menikah dengan monster, dan orang-orang yang sepertinya dulu sangat akrab telah renggang dan tidak saling bertemu bertahun-tahun lamanya.”

“Ini bukan cinta (ataukah cinta?), tetapi itu tidak penting. Cintaku adalah milikku dan aku bebas menawarkannya pada siapa pun yang kupilih, bahkan kalaupun itu bertepuk sebelah tangan.”

“Aku senang dengan pikiran terakhir itu: aku bebas untuk mencintai siapa pun di dunia ini. Aku dapat memutuskan siapa orangnya tanpa perlu meminta izin siapa pun.”

“Sekarang, jangan bilang kau tidak tahu jalan ke hatiku, karena kau sudah masuk ke sana beberapa kali sebelumnya, baik di masa lalu maupun masa kini.”

“Untuk menemukan damai di surga, kita harus menemukan kasih di bumi. Tanpa kasih, kita tidak berharga.”

“Tidak ada yang sebuta orang yang tidak ingin melihat.”

“Setiap orang memiliki sisi gelap.”

“Kita binatang yang tidak mungkin dapat dimengerti.”

“Kita selalu mempraktikkan kendali diri, mencoba menghalangi si monster keluar dari tempatnya bersembunyi.”

“Kita bukan orang yang semula kita inginkan. Kita adalah yang dituntut masyarakat. Kita adalah apa yang dipilih orangtua kita. Kita tidak ingin mengecewakan siapa pun; kita memiliki kebutuhan yang besar untuk dicintai.”

“Ketika kita melepaskan sisi gelap kita, sisi itu akan menutupi sepenuhnya sisi terbaik di dalam diri kita.”

“Begitulah cara para diktator lahir. Mula-mula secara umum mereka memiliki niat baik, tetapi sedikit demi sedikit, demi melakukan apa yang mereka anggap adalah demi ‘kebaikan’ rakyat, mereka menggunakan hal terburuk dalam sifat manusia: teror.”

Post Tenebras Lux. Setelah gelap, terang.”

“Dan sekarang anak-anakku mempelajari Calvin di sekolah seolah-olah dia seorang tokoh pencerahan, laki-laki dengan gagasan-gagasan baru yang membebaskan kita dari kuk aliran Katolik. Seorang revolusioner yang layak dihormati oleh generasi-generasi masa depan.”

“Saat sejarah ditulis oleh para penakluk, tak seorang pun sekarang mengingat kekejaman Calvin. Sekarang dia dipandang sebagai tabib bagi jiwa-jiwa, tokoh reformasi besar, orang yang menyelamatkan kita dari bidah Katolik, dengan para malaikat, santa, perawan, emas, perak, pengampunan dosa, dan korupsinya.”

“Malam, dengan segenap pesonanya, adalah juga jalan menuju pencerahan. Seperti halnya sumur yang gelap memiliki air yang memuaskan dahaga di bagian dasarnya, malam, yang misterinya membawa kita lebih dekat kepada misteri Tuhan, memiliki api yang dapat mengobarkan jiwa kita yang tersembunyi di balik bayang-bayangnya.”

“Akan tiba waktunya ketika kekalahan tak terelakkan, tetapi setidaknya kita bertarung sampai akhir.”

“Aku membuka tirai-tirai di kantorku dan melihat orang-orang di luar sana, ada yang berjalan dan bergandengan tangan tanpa harus mencemaskan tentang konsekuensi. Tapi aku tidak dapat menunjukkan cintaku.”

“Dan sering kali ada senyum di wajah kita dan sepatah kata penyemangat, karena tak seorang pun dapat menjelaskan rasa kesepiannya kepada orang lain, terlebih jika mereka tidak pernah sendirian.”

“Tetapi mereka bersikeras ini hanyalah masa-masa pelik atau depresi karena mereka takut menggunakan kata yang tepat dan mengerikan: rasa kesepian.”

“Mimpi selalu riskan, karena ada harga yang harus dibayar.”

“Tapi ini bukan tentang meminta izin. Kau menoleh ke belakang dan melihat kau juga dulu berpikir seperti orang-orang yang mendakwamu. Dulu kau juga mengutuk orang-orang yang kauketahui berselingkuh dan membayangkan jika kau tinggal di tempat lain, hukumannya bisa saja hukum rajam. Sampai ketika kau mengalaminya sendiri. Barulah kau menciptakan ribuan alasan untuk perilakumu dan berkata kau berhak untuk bahagia, bahkan kalaupun hanya sebentar, karena kesatria-kesatria pembunuh naga hanya ada dalam kisah-kisah dongeng.”

“Laki-laki berselingkuh karena hal itu ada dalam kode genetik mereka. Seorang wanita melakukannya karena dia tidak memiliki cukup martabat; ditambah jika dia menyerahkan tubuhnya, dia pada akhirnya selalu memberi sekerat hatinya. Kejahatan sejati. Sebuah pencurian. Ini lebih buruk daripada merampok bank, karena jika suatu hari nanti wanita itu ketahuan (dan dia selalu ketahuan), dia akan menciptakan kerusakan telak pada keluarganya.”

“Bagi kaum laki-laki ini hanyalah ‘kesalahan tolol’. Bagi kaum wanita, rasanya seperti kejahatan spiritual terhadap semua orang yang mengelilinginya dengan kasih sayang dan mendukungnya sebagai seorang ibu dan istri.”

“Kalau berhubungan dengan perselingkuhan, mediasi hanya membantu sedikit atau tidak sama sekali. Dalam kasus ini, orang tersebut gembira dengan apa yang sedang berlangsung. Mereka menjaga keamanan hubungan mereka dan pada saat yang sama juga mengalami petualangan. Ini situasi yang ideal.”

“Apa yang mendorong orang-orang melakukan perselingkuhan?”

“Jika orang yang menikah, demi entah alasan apa pun, memutuskan untuk mencari pasangan yang lain, ini tidak selalu berarti hubungan pasangan itu tidak berjalan dengan baik. Saya juga tidak percaya seks adalah motif utama. Ini lebih karena perasaan bosan, karena lenyapnya gairah hidup, karena ketiadaan tantangan. Ini campuran berbagai faktor.”

“Apakah Anda memperhatikan bahwa manusia lebih takut pada laba-laba dan ular daripada kendaraan, terlepas dari fakta bahwa kematian karena kecelakaan lalu lintas lebih sering terjadi? Ini karena pikiran kita masih hidup di zaman-zaman manusia gua, ketika ular dan laba-laba adalah sesuatu yang mematikan. Hal yang sama berlaku pada kebutuhan seorang laki-laki untuk memiliki beberapa wanita. Pada zaman itu laki-laki pergi berburu, dan alam mengajarinya bahwa melestarikan jenisnya adalah prioritas; kau harus menghamili sebanyak mungkin wanita.”

“Siapa pun yang mengatakan ‘cinta cukup’ itu berbohong. Cinta tidak cukup dan tidak pernah cukup.”

“Setelah menikah tiga tahun, seseorang sudah tahu dengan persis apa yang pasangannya inginkan dan pikirkan. Pada jamuan-jamuan makan malam kita harus mendengarkan kisah-kisah yang sama yang telah kita dengar berulang kali, selalu berpura-pura terkejut dan, sesekali, harus mengkonfirmasi mereka. Seks berubah dari gairah menjadi kewajiban, dan itulah sebabnya jadi semakin jarang dilakukan.”

“Cinta saja tidak cukup. Aku harus jatuh cinta pada suamiku.”

“Cinta bukan hanya perasaan; cinta adalah seni. Dan layaknya seni apa pun, cinta tidak hanya membutuhkan inspirasi, melainkan juga banyak kerja keras.”

“Aku memaku tatapanku pada suamiku; semua orang yang berbicara di depan publik harus memilih seseorang sebagai pendukung.”

“Dapatkah kau melatih dirimu untuk mencintai laki-laki yang tepat? Tentu saja bisa. Masalahnya adalah melupakan tentang laki-laki yang salah, laki-laki yang melintas lewat dan masuk tanpa izin ke dalam pintu yang dibiarkan terbuka.”

“Kurasa, sebenarnya, aku yakin semua orang yang menikah selalu memiliki seseorang yang diam-diam ditaksirnya. Itu terlarang, dan bermain-main dengan yang terlarang itulah yang membuat hidup menarik.”

“Tak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa usaha. Kau harus memiliki iman. Dan untuk itu, kau harus menghancurkan tembok-tembok prasangka, dan itu membutuhkan keberanian. Untuk memiliki keberanian, kau harus mengalahkan ketakutanmu. Dan begitulah seterusnya dan selanjutnya. Marilah kita berdamai dengan hari-hari kita.”

“Mengejar impian-impian ada harganya. Itu mungkin berarti meninggalkan kebiasaan-kebiasaan kita, mungkin mengharuskan kita mengalami kesengsaraan, atau mungkin mengantar kita pada kekecewaan, dan sebagainya. Tetapi sebesar apa pun bayarannya, itu tak pernah semahal harga yang harus dibayar orang-orang yang berhenti hidup. Karena pada suatu hari mereka akan menoleh ke belakang dan mendengar hati mereka sendiri berkata: ‘Aku sudah menyia-nyiakan hidupku’.”

“Aku takut memperdaya diriku sendiri, bahwa aku memandang kenyataan seperti yang kuinginkan terjadi dan bukan seperti yang sesungguhnya terjadi.”

“Cinta selalu berubah. Menurutku Jet d’Eau adalah monumen paling indah untuk dicintai yang diciptakan kesenian manusia, karena monumen ini juga tak pernah sama, selalu berubah.”

“Mengapa kita ingin hidup selamanya? Karena kita ingin hidup satu hari lagi bersama orang di sisi kita.”

“Hidup bukanlah liburan panjang, melainkan proses pembelajaran yang terus-menerus.”

Fine


15 October 2014

"It is never too late"

At one of the most tragic moments of the Crucifixion, one of the thieves noticed that the man dying beside him was the Son of God.

Lord, remember me when You are in Heaven’, said the thief.
In truth, today you shall be with me in Heaven’, answered Jesus, turning a bandit into the first saint of the Catholic Church: Saint Dimas.

We don’t know why Dimas was condemned to death. The Bible tells us that he confessed his guilt and that he was crucified for the crimes he had committed.
Let us suppose that he did something cruel, awful enough to end his life in that fashion; yet, even so, in his final minutes of life, he was redeemed – and glorified – by an act of faith.

Remember this example when for some reason you feel unable to continue on your path. It is never too late.

Written by Paulo Coelho on 6 October 2014

note:
The Catholic Church never formally canonized Saint Dismas, though he is regarded as a saint by virtue of Jesus saying, "you will be with me in Paradise" (Luke 23:43), and by local church traditions. The feast of St. Dismas is on the 25th of March, shared with the feast of The Annunciation of the Blessed Virgin Mary.

29 April 2014

Tentang Cinta

Saat melihat-lihat rak buku di kamar, mataku tiba-tiba tertuju pada salah satu buku harian (diary). Warnanya hitam, berdebu. Lembar demi lembar kubuka, aku tersenyum melihat catatan harian tanggal 13 Desember 2008.
Kalau aku tidak minta ibu untuk meneleponku hari ini, aku akan kehilangan satu informasi yang sangat penting. Kita menamainya firasat, tanda-tanda yang tertangkap untuk menunjukkan suatu makna tertentu. Ada makna apa di balik telepon ibu?
Dalam percakapan, Ito, adik laki-lakiku, menyela. Ia memberiku informasi bahwa Uci menikah hari ini. Siapa Uci kujelaskan nanti. Yang jelas, informasi itu dapat dipercaya karena Ito mendapatkannya dari Tangguh, adik laki-laki Uci, yang merupakan teman sekolah seangkatannya.
Hatiku tersentak. Perasaanku tidak terdefinisikan. Bahagia? Kehilangan? Gamang? Semuanya menyebar ke relung-relung diri. Tidak bisa tidak aku mesti menelepon Uci. Nomornya sudah di tangan. Aku hanya butuh sedikit waktu dari seluruh kesibukannya. Semoga.
Kukayuh sepeda menuju wartel. Kutekan nomornya, perasaanku tak menentu. Nada tunggu terdengar: “Kau dan Aku”, Nidji. Tidak terangkat. Kututup telepon. Tidak mungkinkah aku meneleponnya sekarang?
Aku mencobanya sekali lagi. Diangkat! Ya Tuhan, suaranya. Setahun, ah tidak, dua tahun aku tidak mendengarkan suara itu. Tidak pernah berubah. Selalu ada kepolosan, sedikit kemanjaan, ketulusan, dan kejujuran dalam suaranya. Suara yang pernah membuatku tidak bisa tidur karena ia melengking ketika tahu bahwa aku suka padanya. Kalau ada satu hal yang membuat suaranya terdengar berbeda, hal itu adalah aksen kedewasaannya. Rasanya, ia memang telah matang dan dewasa. Pilihan untuk menikah bukanlah sesuatu yang ganjil.
Jelas aku gugup bicara dengannya. Bertanya kabar, memberinya selamat, sementara secara lisan ia mengundangku untuk hadir dalam pestanya. Aku juga bercerita bagaimana aku mengetahui informasi itu. Yang menarik, aku sempat bertanya siapa nama suaminya, tetapi ia tidak menjawab. Barangkali ia takut suaminya kusantet. Tapi tidak, rasanya ia lebih mau menjaga perasaanku. Jika benar begitu, bukankah ia begitu mulia dan suci?
Aku sering merasa yakin, dengan semuanya yang telah terjadi, ia sebenarnya adalah cinta yang mewujud dalam pribadi. Ia tidak pernah menerima cintaku, tetapi juga tidak menolaknya. Ia mencintaiku dengan caranya, membuatku sadar bahwa bukan aku yang berkuasa atas cinta. Cinta tidak pernah dikuasai, cintalah yang menguasai. Cinta menuntut kebebasan batin, kesediaan untuk berkorban, dan hati yang siap terluka. Tetapi pada saat yang sama, cinta membuatku bebas, semakin positif, dan sembuh dari obsesi untuk memiliki. Cinta yang sejati membuat kita bertumbuh dewasa.
Aku merasa kehilangan saat ini. Ketika Dewi, sahabat dekatku, telah menjadi yang pertama meninggalkanku 1 Desember 2008 yang lalu, kini giliran Uci, perempuan yang telah kucintai selama hampir separuh usiaku, meninggalkanku. Aku masih ingat bagaimana perjumpaanku yang pertama dengannya: 15 Agustus 2001. Pesonanya membuatku mencintainya sampai sekarang. 2005, ia mengirimkan surat untukku ke seminari. Aku melayang, tidak terbayang mendapatkan surat itu, seperti mimpi. Hati penuh haru, lantaran sebagai seorang muslim, ia rela dan berani mengirimkan surat ke tempat pendidikan calon imam Katolik. Itulah mengapa aku percaya ia adalah titisan cinta, bukan titisan Srikandi atau bidadari manapun juga. 2001 sampai 2008 menjadi rentang waktu kerinduan yang terlalu panjang untuk dijawab hanya dengan beberapa pertemuan. 1 Januari 2007 menjadi momen pertama dan terakhirku bisa duduk bersamanya. Saat itu, ia benar-benar cantik.  
Kini selesai sudah ceritaku. Berat harus kehilangan seseorang yang selalu menempati hatimu. Cinta menuntunku untuk melepas, sebab aku tak pernah benar-benar merengkuh. Cinta menuntunku untuk belajar merelakan, sebab aku tak pernah sungguh-sungguh memiliki. Cinta menuntunku untuk berhenti, sebab dengan berhenti aku mengerti dan mengalaminya sebagai yang abadi.
13 Desember 2008
Saat ini, relasiku dengannya baik. Ia masih menjadi satu-satunya sahabat muslim yang memanggilku dengan “Romo”. Aku masih mengasihinya, dengan cinta baru yang telah didewasakan sejarah. Belum lama, kami berbincang melalui media instagram. Intinya, kami bisa sama-sama tertawa atas pengalaman cinta yang terjadi kurang lebih tiga belas tahun silam.
Akhirnya, kututup tulisan ini dengan kata-kata Paulo Coelho.
Cinta hanya sebuah kata, sampai kita biarkan cinta itu menguasai kita dengan segenap dayanya.
Cinta hanya sepatah kata, sampai seseorang datang dan memberinya makna.
Jangan menyerah. Ingatlah, kunci yang bisa membuka pintu selalu kunci terakhir dalam rangkaiannya.

(Manuskrip yang Ditemukan di Accra, 88-89)

Kepadanya, terima kasih telah menjadi titisan cinta dan kunci terakhir yang membuatku tidak menyerah.


26 February 2013

Inspirasi Doa dari Paulo Coelho


Menurut legenda, setelah lelah berdoa sepagian di biara Piedra, sang calon biarawan bertanya kepada kepala biara, apakah doa-doa bisa membuat Tuhan lebih dekat kepada manusia.
"Akan kujawab dengan pertanyaan juga," sahut sang kepala biara. "Apakah semua doa yang kaupanjatkan bisa membuat matahari terbit besok?"
"Tentu saja tidak! Matahari terbit karena mematuhi hukum semesta."
"Nah, itulah jawaban atas pertanyaanmu. Tuhan dekat dengan kita, seberapa jarang pun kita berdoa."
Calon biarawan itu sangat terkejut.
"Maksud Bapa, doa-doa kita tidak ada gunanya?"
"Bukan begitu. Kalau kau tidak bangun cukup pagi, kau tidak akan bisa melihat matahari terbit. Dan meskipun Tuhan selalu dekat dengan kita, kalau kau tidak berdoa, bagaimana kau bisa merasakan kehadiran-Nya?"

Paulo Coelho, Seperti Sungai yang Mengalir, 160-161.