20 April 2013
Hidup dan Tantangan
Menjadi minoritas di tengah mayoritas, tantangannya banyak.
1. Banyak perempuan/laki-laki rupawan nan baik, tetapi sedikit yang bisa menjadi jodoh.
2. Kecil kemungkinan Anda terlibat dalam tata pemerintahan negara.
3. Di banyak Sekolah Dasar dan Menengah, ada kemungkinan Anda tidak mendapatkan pelajaran Agama.
4. Dalam hidup, Anda bisa berjumpa, bahkan terlibat, dengan para radikalis dan fundamentalis.
5. Di restoran atau warung makan umum, bisa jadi Anda segan berdoa sebelum atau sesudah makan.
6. ... dan seterusnya.
Tidak hanya umat Katolik di Indonesia, minoritas di luar negeri juga sama halnya. Angelika Rother, teman kuliah dari Jerman, mengungkapkan bahwa menjadi muslim di Jerman juga menghadapi banyak tantangan. Misalnya, pemakaian jilbab di sekolah-sekolah umum. Tidak sedikit sekolah yang mempersulit pemakaian jilbab bagi murid-muridnya yang beragama Islam.
Sekitar dua ribu tahun yang lalu, murid-murid juga ternganga mendengar ajaran Yesus. Mereka sangat terkejut dan tidak menyangka Sang Guru mengajarkan mereka, "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman." Mereka tidak habis pikir bagaimana mungkin Sang Guru mengajarkan mereka menjadi kanibal. Hal tersebut tantangan yang tidak terkira, sebab mayoritas masyarakat Yahudi menolak kanibalisme. Bahkan, darah menjadi sesuatu yang menajiskan seseorang. Oleh karena itu, sebenarnya kita bisa memahami keputusan banyak murid yang kemudian meninggalkan Yesus. Ajaran-Nya terlalu keras!
Tantangan dalam hidup bersifat melekat (inheren) dengan hidup. Menolak tantangan-tantangan yang hidup tawarkan sama saja dengan menolak hidup itu sendiri. Mereka yang bijaksana menerima hidup, menghadapi tantangan-tantangan yang dijumpainya, dan merefleksikannya. Yang disebut terakhir juga penting, sebab meminjam perkataan Socrates, hidup yang tidak direfleksikan tidak pantas dijalani.
Jadi, apa jawaban Anda bila saat ini Sang Guru bertanya kepada Anda, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"
05 April 2013
Remah Masa SMA di Seminari Mertoyudan
Pagi itu, para siswa kelasku mengadakan praktek lompat jauh. Pak Sri, guru olahraga kami, berdiri di dekat papan tempat kaki ditolakkan. Ia bertindak sebagai seorang pencatat pencapaian murid-muridnya, sekaligus pengawas kalau-kalau ada murid yang melanggar peraturan. Kalau melanggar, kami didiskualifikasi dan disuruh mengantri lagi di belakang. Kami harus mengulang, memperbaiki lompatan yang gagal itu.
Tibalah giliranku. Jarak lima puluhan meter dengan papan tolak tidak kusia-siakan. Aku berlari sekencang mungkin, seperti biasanya sebagai pemain sepakbola aku berlari. Naas, ketika hendak menapakkan salah satu kakiku ke papan tolak itu, aku terkentut-kentut. "Prepet, prepet, prepet," begitu bunyinya mengiringi sisa-sisa lariku. Sama sekali aku tidak jadi melompat. Aku hanya menyeringai, pada Pak Sri yang terkekeh-kekeh, dan semua temanku yang terbahak-bahak.
Mutung dalam Pelajaran Bahasa Indonesia
Pelajaran bahasa Indonesia di SMA Seminari Mertoyudan dibedakan menjadi dua. Pertama, pelajaran Bahasa Indonesia "biasa". Maksudnya, pelajaran tersebut sama dengan apa yang diajarkan oleh sekolah-sekolah umum lainnya. Pengampu pelajaran Bahasa Indonesia jenis pertama tersebut adalah Bpk. Gunawan Sudarsana.
Kedua, pelajaran Bahasa Indonesia yang "luar biasa". Luar biasa karena jenis yang kedua ini tidak memberi manfaat langsung yang dapat dirasakan oleh para siswa saat itu. Selama empat tahun, pelajaran jenis kedua ini hanya terdiri dari dua materi: penentuan struktur kalimat dan hukum kaitan kata Diterangkan Menerangkan-Menerangkan Diterangkan (DM-MD). Pengampu pelajaran Bahasa Indonesia jenis kedua tersebut adalah Bpk. Vinsensius Sunaryo.
Pelajaran Pak Naryo amat menantang. Masuk kelas, Pak Naryo akan masuk dan duduk di meja guru. Tidak lama kemudian, beliau akan membuka Kitab Suci dan membacakan satu kalimat. Para siswa mencatat kalimat itu dan kemudian menganalisis struktur kalimatnya. Kalau sudah merasa benar, siswa yang bersangkutan bisa maju memohon konfirmasi dari Pak Naryo. Di sinilah letak masalahnya. Sekalipun kadangkala siswa sudah merasa benar, hampir selalu ada yang salah. Dicoretlah dengan pena oleh pak Naryo analisis yang salah tersebut. Kalau sudah demikian, kami harus mundur dan meneliti analisis kami kembali.
Aku termasuk anak yang tidak terlalu pandai. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang diampu oleh Pak Naryo ini, berulang kali aku maju, berulang kali pula aku kembali ke tempat duduk dengan raut wajah bingung karena analisisku dinilai salah. Kalau usahaku meneliti sudah maksimal, tetapi masih dinilai salah, biasanya aku mutung. Aku tidak akan mengerjakan dan maju lagi meskipun waktu yang tersisa untuk pelajaran tersebut masih banyak.
Pelajaran tersebut memang unik. Ketika itu, kami tidak dapat merasakan langsung manfaatnya. Bahkan, dalam pelajaran tersebut, aku sendiri kerap mutung karena kesulitan. Akan tetapi, yang pernah belajar di Seminari Mertoyudan kiranya sepakat, pelajaran Bahasa Indonesia Pak Naryo memberikan kita manfaat, yang baru kita sadari setelah kita lulus, kemampuan berbahasa dengan baik dan benar, baik dalam menulis atau bertutur kata.
Nasehat dalam Pelajaran Kimia
Nasehat ini diberikan oleh Bpk. Supadno, guru STM Pembangunan Yogyakarta, yang juga mengajar pelajaran Kimia di Seminari Mertoyudan. Nasehat tersebut masih saya ingat karena substansinya yang "tidak biasa".
Dalam suatu pelajaran, beliau menyatakan bahwa kalau kita menderita sakit flu atau pusing, jangan ragu untuk berolahraga kalau mau sembuh. Beliau menceritakan pengalamannya sendiri. Kata beliau, ketika mengalami sakit kepala, beliau justru jogging, lari-lari. Tidak lama kemudian, sakit kepalanya hilang. Aku lupa apakah beliau ketika itu memberikan penjelasan ilmiah tentang hal tersebut, seperti misalnya reaksi-reaksi kimiawi dalam tubuh, tetapi yang jelas, nasehat beliau disampaikan dengan argumen-argumen yang meyakinkan kami semua.
Entahlah bagaimana nasehat tersebut dilihat dari ilmu medis. Saya tidak tertarik. Nasehat itu sudah cukup menarik bagi saya.
Bau Petai dalam Pelajaran Matematika
Saya memiliki sahabat bernama Cosmas. Rumahnya terletak tidak jauh dari Seminari Mertoyudan. Suatu hari, dia datang membawa petai dalam jumlah yang lumayan banyak. Rupanya, banyak teman yang senang mengonsumsi petai. Petai-petai yang dibawa oleh Cosmas pun dinikmati dengan semangat Heaven in Earth.
Yang kurang disadari, pesta petai sempat terjadi pula di kelas ketika kelas kosong. Ketika berganti jam pelajaran, udara yang beraroma petai di kelas dan di mulut para siswa tidak ikut berganti. Jadilah bu Esthi, guru mata pelajaran Matematika kami, merasa terganggu dengan bau tersebut. Beliau pun tidak bisa fokus mengajar karena bau tersebut. Siswa-siswa sepertinya puas.
Masih soal bu Esthi, kusampaikan saja di sini. Guru kami yang satu ini terkenal sebagai guru yang sangat intensif dalam mengajarkan materi kepada para muridnya. Konsekuensinya amat positif, pelajaran Matematika jadi terasa lebih mudah dan bisa dipahami. Meski demikian, intensitas bu Esthi ada efek sampingnya juga. Suatu kali, dia mengajarkan materi yang sulit kepada para siswa dengan sangat baik. Pelajaran Matematika sangat intensif ketika itu. Di akhir pelajaran, yang menurut kebiasaan mesti ditutup dengan tanda salib, bu Esthi pun memimpin kami semua membuat tanda salib. Yang menarik, kata-kata yang meluncur dari mulutnya adalah "Satu, dua, tiga, dan empat", bukan "Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus." Sontak kami tertawa ketika itu. Duh, bu Esthi ada-ada saja deh.
Pukulan Sayang Rm. Ria dalam Pelajaran Cantus
Rama Ria mengajar Cantus atau Seni Musik. Yang paling dikenang tentu adalah pukulan-pukulan kerasnya di pundak kami para siswanya kalau kami menjawab dengan ragu-ragu, apalagi salah. Tetapi catat, pukulan tersebut bukan pukulan tanda adanya kekerasan dalam pendidikan di sekolah kami, melainkan justru pukulan sayang. Kami sebut pukulan sayang karena pukulan tersebut kerasnya masih bisa kami terima dan kelola sebagai laki-laki, tetapi lebih dari itu, pukulan tersebut menunjukkan perhatiannya kepada kami. Sebab kami semua tahu, Rama Ria ingin semua muridnya, calon-calon rama itu, menguasai dasar-dasar musik dengan baik.
Mengantuk dalam Pelajaran Seni Rupa
Pelajaran Seni Rupa diampu oleh (alm) Bpk. Handoko. Pak Handoko ini bakat seninya luar biasa karena selain pandai menggambar, hal-hal berbau seni yang lainnya pun beliau kuasai dengan baik.
Salah satu yang kami kenang dari beliau adalah kebiasaannya untuk menggambar wajah para siswa yang tertangkap mengantuk di kelas. Dia akan menghentikan pembicaraannya, kemudian mengambil kapur, dan mulai menggambar sketsa wajah siswa yang mengantuk itu. Kalau sudah begitu, kelas akan menjadi segar. Para siswa akan mencari tahu siapa siswa yang wajahnya sedang digambar oleh Pak Handoko.
Sekitar tahun 2007, beliau meninggal dunia karena kecelakaan di Magelang. Begitu sedih kami mendengarnya. Semoga beliau diterima di sisi-Nya, dalam kebahagiaan abadi bersama Bapa.
Lagu Jadul dalam Pelajaran Listening (Bahasa Inggris)
Pada dasarnya, kami semua senang mengikuti pelajaran Listening, sebab kami akan keluar dari kelas menuju ruang audiovisual. Di tempat tersebut, Pak Agung, pengampu pelajaran Listening, akan mengajar kami dengan materi-materi yang ia siapkan.
Salah satu kebiasaan beliau yang tidak bisa kami lupakan adalah sebagai berikut. Kalau waktu menunjukkan pergantian jam pelajaran kurang sepuluh menit lagi, beliau akan menghentikan pengajarannya dan mengajak kelas bernyanyi bersama. Masalahnya, nyanyian-nyanyian yang ditawarkan luar biasa jadulnya! Bayangkan, yang paling tidak jadul saja Michael Learns to Rock. Masih terkenang di ingatan kami lirik lagu super jadul seperti, "Dona, Dona, Dona, Dona, Dona, Dona, Dona, Dona, Don."
Bahasa Rusia dalam Pelajaran Grammar (Bahasa Inggris)
Suatu hari, Pam-pam, sahabat kami yang ketika itu duduk di bangku terdepan, dalam keheningan kelas (kami semua sedang mengerjakan tugas) memberanikan bertanya kepada Pak Surawan, guru pengampu pelajaran Grammar, yang sedang duduk di meja guru. "Bla... bla... bla..." Pam-pam bertanya dengan Bahasa Inggris. Tetapi, mungkin karena pelafalan Pam-pam tidak begitu jelas, Pak Surawan yang mengernyitkan dahi balik bertanya kepada Pam-pam, "Do you speak Russian?" Mendengar itu, kontan seisi kelas tertawa riuh dibuatnya. Pam-pam pun ikut tertawa, tapi saya tahu, cukup tertohok dia. Buktinya, sampai saat ini dia masih ingat persis peristiwa tersebut.
Pak Surawan adalah teladan yang sangat baik bagi kami untuk menjadi seorang pembelajar. Beliau sudah lumayan banyak umurnya. Akan tetapi, rasa laparnya akan pengetahuan masih seperti anak kecil. Beliau gemar belajar. Itu sebabnya sebagai guru SMA, beliau belajar sampai ke taraf yang tertinggi dalam jenjang pendidikan di Indonesia, yaitu pendidikan Strata Tiga (S3). Beliau inilah yang orang yang menuliskan Kamus Kata Serapan yang menjadi salah satu kamus kata serapan terlengkap di Indonesia. Bangga kami murid-murid dibuatnya.
Sekian dulu sharing pengalamanku. Masih banyak kisah yang belum terungkap selama kami tinggal di SMA Seminari Mertoyudan, tempat pendidikan terbaik yang menjadikan masa SMA kami berbobot, tanpa kehilangan keindahannya. Gracias!
01 April 2013
Eling Soelardi > Judi Marsana > Vigo Milandi
Nah, dari Mbah Eling, garis kesulungan laki-laki itu turun pada bapak, karena meskipun bapak merupakan anak kedua, anak pertama Mbah Eling adalah perempuan. Dia adalah Budhe Emi, atau yang lebih kukenal sebagai Budhe Sis. Dari bapak, turunlah garis kesulungan itu padaku, anak laki-laki pertama dalam keluarganya. Penurunan kesulungan laki-laki itu bapak ceritakan padaku, membuatku lumayan bangga. Bangga bukan karena aku gila hormat, melainkan karena aku bisa terlibat dalam garis yang bagiku menarik itu.
Hanya, setelah aku berpikir lagi, karena aku akan menjadi imam dan selibat, lalu bagaimana nasib garis kesulungan laki-laki itu ya? Jangan-jangan karena aku, garis tersebut menjadi putus dan berhenti. Waduh, piye jal?
Nggak tahu deh. Intinya, di sini aku ingin menampilkan beberapa foto Mbah Eling di blog pribadiku ini.
Seneng lihat Mbah Eling pose begini. Kelihatan bahagia.
"Mbah, mbah, kamera sebelah sini, mbah."
By the way, si Ovi, adiknya Okky, tambah gede tambah cantik aja.
Tuh, lihat. Cantik ya dia.
Kalau ini, Mbah Eling edisi metal. Grandpa, you rock!
Dalam tatapan kasih Mbah Eling.
"Panas, Mbah?"
Mbah Eling di rumah. Eh, coba perhatikan si Adven yang duduk di bawah deh.
Nah, ini penampakan si Adven yang duduk di bawah tadi.
Mbah Eling dan Mbah Putri
Judi Marsana, anak kedua Mbah Eling, dan keluarganya.
Cr: Akun facebook Okky, Adven, dan dokumentasi pribadi.
---------- :'))) ----------
Duniaku Tahun 1990-an
Aku tidak tahu apakah mampu menuliskan perasaanku dengan baik. Kau tahu, ada hal-hal yang sulit sekali dijelaskan dengan kata-kata, seperti pengalaman cinta pertamamu, atau ketika kau melihat pelangi di langit setelah bertahun-tahun tak melihatnya.
Sore itu, sengaja aku pergi ke pantai utara Jawa. Kuhabiskan sore berkunjung ke salah satu rumah sahabat di kampung pinggir pantai. Menjelang senja, aku melihat banyak sekali anak berada di tanah lapang. Mereka terlihat bermain satu sama lain. Latarnya adalah landscape langit yang tanpa batas, dengan domba-domba yang berkeliaran mencari rumput. Sang gembala sampai kesulitan mengendalikan mereka di belakang. Sesekali, anak-anak yang bersepeda lewat di depanku, di jalan yang sekian tahun yang lalu masih bermandi lumpur dan bebatuan. Sementara di ufuk barat, matahari sudah tampak enggan bertahan. Sedikit saja sinar yang diberikannya untuk anak-anak yang masih bergembira ria di tanah lapang itu.
Aku seperti melihat masa kecilku.
Suatu masa ketika generasi kami belum mengenal internet dan telepon genggam. Ketika itu, bahkan telepon rumah masih menjadi sesuatu yang mewah. Tidak ada yang namanya warnet (warung internet). Yang menjamur adalah wartel (warung telepon). Tidak banyak hiburan digital bagi kami anak-anak zaman itu. Tetapi justru karena itu, kemudian kami keluar rumah. Bertemu dengan anak-anak lain yang juga keluar rumah.
Kadangkala, di luar kami bermain sepakbola bersama. Tidak jarang, bermain kasti. Kalau bermain kasti, bagian yang paling menyenangkan adalah ketika mampu memukul bola dengan keras, sehingga bolanya terbang jauh. Hal itu memungkinkan teman-teman satu tim bisa homerun. Bagian yang paling menarik lainnya adalah ketika mampu untuk melemparkan bola tepat di tubuh lawan. Adrenalin terpacu hebat, karena sesaat setelah bola mengenai lawan, kita harus sesegera mungkin berlindung di spot-spot yang telah disepakati.
Kadangkala, di luar kami juga bermain sundamanda. Entahlah permainan itu dinamakan apa di daerahmu. Yang jelas, sundamanda merupakan permainan yang cukup mengasyikkan. Seingatku, ada dua jenis sundamanda. Pertama, jenis robot. Kedua, jenis lemari. Dari kedua jenis itu, sundamanda jenis robot lebih dikenal oleh masyarakat umum.
Tidak terlupakan juga tentu layang-layang. Permainan itu bagi kami anak lelaki adalah permainan yang menantang, karena layang-layang yang terbang ke angkasa membawa harga diri kami. Di angkasa, layang-layang kami akan bertemu dengan layang-layang anak-anak yang lain. Bisa ditebak setelah itu. Kami berperang, berusaha untuk memutuskan layang-layang lawan. Ada teknik yang harus dikuasai. Kadangkala, kami harus cepat-cepat menarik layang-layang kami. Pada saat yang bersamaan, kami juga harus pandai mencari celah untuk kemudian mengulur senar yang kami pegang. Ketika menang, kamu akan merasakan sensasi Napoleon Bonaparte. Tangan kananmu mengepal mengacung ke langit, tangan kirimu menggenggam senar gelasmu yang tajam.
Sebelum mahir bermain layang-layang, saya mengawali karir sebagai seorang pengejar layang-layang. Kalau ada layang-layang yang sedang berperang, di sawah saya akan menunggu ada salah satu pihak yang kalah. Begitu terlihat ada layang-layang yang putus, dengan segera kami mengejarnya. Kegembiraan dan seninya bukan main, karena di satu sisi kami harus mengikuti arah layang-layang itu jatuh tertiup angin, di sisi lain kami harus juga mengikuti alur sawah. Sangat kompetitif, karena saya tidak sendirian. Belasan anak-anak lain juga mengejarnya. Kalau sudah begitu, paling senang kalau melihat ada anak yang nyaris mendapatkan layang-layang yang jatuh, tetapi gagal mendapatkannya karena alur sawah yang diikutinya rupanya mengarah ke arah yang lain. Eng ing eng.
Kalau sedang malas bermain layang-layang, aku akan pergi ke sawah dengan seutas senar pendek dengan kail kecil di ujungnya. Misi ditetapkan: memancing belut. Memancing belut bukan hal yang mudah karena beberapa kenyataan berikut:
1. Kadangkala, lubang belut di sawah sudah ditinggalkan oleh sang belutnya.
2. Kemungkinan yang lain, si belut sudah dipancing duluan oleh orang lain.
3. Kalau tidak cermat, kita bisa memancing kepiting, yang lubangnya sedikit lebih besar dari lubang belut.
4. Kalau belut sudah terpancing, tapi lepas dan jatuh ke sawah, bukan main sulit mengambilnya.
Tapi, dengan semua kesulitan tersebut, memancing belut selalu amat mengasyikkan.
Demikianlah, ketika aku melihat sekumpulan anak-anak yang bermain di tanah lapang sore itu, aku seketika merasa haru. Aku seperti melihat masa kecilku. Dan itu yang hilang dari dunia anak-anak perkotaan zaman ini. Mereka sudah sama sekali lain, karena tidak dapat menjadi reflektor dunia anak dari generasi kami.
Ah, aku rindu masa kecilku.
Sore itu, sengaja aku pergi ke pantai utara Jawa. Kuhabiskan sore berkunjung ke salah satu rumah sahabat di kampung pinggir pantai. Menjelang senja, aku melihat banyak sekali anak berada di tanah lapang. Mereka terlihat bermain satu sama lain. Latarnya adalah landscape langit yang tanpa batas, dengan domba-domba yang berkeliaran mencari rumput. Sang gembala sampai kesulitan mengendalikan mereka di belakang. Sesekali, anak-anak yang bersepeda lewat di depanku, di jalan yang sekian tahun yang lalu masih bermandi lumpur dan bebatuan. Sementara di ufuk barat, matahari sudah tampak enggan bertahan. Sedikit saja sinar yang diberikannya untuk anak-anak yang masih bergembira ria di tanah lapang itu.
Aku seperti melihat masa kecilku.
Suatu masa ketika generasi kami belum mengenal internet dan telepon genggam. Ketika itu, bahkan telepon rumah masih menjadi sesuatu yang mewah. Tidak ada yang namanya warnet (warung internet). Yang menjamur adalah wartel (warung telepon). Tidak banyak hiburan digital bagi kami anak-anak zaman itu. Tetapi justru karena itu, kemudian kami keluar rumah. Bertemu dengan anak-anak lain yang juga keluar rumah.
Kadangkala, di luar kami bermain sepakbola bersama. Tidak jarang, bermain kasti. Kalau bermain kasti, bagian yang paling menyenangkan adalah ketika mampu memukul bola dengan keras, sehingga bolanya terbang jauh. Hal itu memungkinkan teman-teman satu tim bisa homerun. Bagian yang paling menarik lainnya adalah ketika mampu untuk melemparkan bola tepat di tubuh lawan. Adrenalin terpacu hebat, karena sesaat setelah bola mengenai lawan, kita harus sesegera mungkin berlindung di spot-spot yang telah disepakati.
Kadangkala, di luar kami juga bermain sundamanda. Entahlah permainan itu dinamakan apa di daerahmu. Yang jelas, sundamanda merupakan permainan yang cukup mengasyikkan. Seingatku, ada dua jenis sundamanda. Pertama, jenis robot. Kedua, jenis lemari. Dari kedua jenis itu, sundamanda jenis robot lebih dikenal oleh masyarakat umum.
Tidak terlupakan juga tentu layang-layang. Permainan itu bagi kami anak lelaki adalah permainan yang menantang, karena layang-layang yang terbang ke angkasa membawa harga diri kami. Di angkasa, layang-layang kami akan bertemu dengan layang-layang anak-anak yang lain. Bisa ditebak setelah itu. Kami berperang, berusaha untuk memutuskan layang-layang lawan. Ada teknik yang harus dikuasai. Kadangkala, kami harus cepat-cepat menarik layang-layang kami. Pada saat yang bersamaan, kami juga harus pandai mencari celah untuk kemudian mengulur senar yang kami pegang. Ketika menang, kamu akan merasakan sensasi Napoleon Bonaparte. Tangan kananmu mengepal mengacung ke langit, tangan kirimu menggenggam senar gelasmu yang tajam.
Sebelum mahir bermain layang-layang, saya mengawali karir sebagai seorang pengejar layang-layang. Kalau ada layang-layang yang sedang berperang, di sawah saya akan menunggu ada salah satu pihak yang kalah. Begitu terlihat ada layang-layang yang putus, dengan segera kami mengejarnya. Kegembiraan dan seninya bukan main, karena di satu sisi kami harus mengikuti arah layang-layang itu jatuh tertiup angin, di sisi lain kami harus juga mengikuti alur sawah. Sangat kompetitif, karena saya tidak sendirian. Belasan anak-anak lain juga mengejarnya. Kalau sudah begitu, paling senang kalau melihat ada anak yang nyaris mendapatkan layang-layang yang jatuh, tetapi gagal mendapatkannya karena alur sawah yang diikutinya rupanya mengarah ke arah yang lain. Eng ing eng.
Kalau sedang malas bermain layang-layang, aku akan pergi ke sawah dengan seutas senar pendek dengan kail kecil di ujungnya. Misi ditetapkan: memancing belut. Memancing belut bukan hal yang mudah karena beberapa kenyataan berikut:
1. Kadangkala, lubang belut di sawah sudah ditinggalkan oleh sang belutnya.
2. Kemungkinan yang lain, si belut sudah dipancing duluan oleh orang lain.
3. Kalau tidak cermat, kita bisa memancing kepiting, yang lubangnya sedikit lebih besar dari lubang belut.
4. Kalau belut sudah terpancing, tapi lepas dan jatuh ke sawah, bukan main sulit mengambilnya.
Tapi, dengan semua kesulitan tersebut, memancing belut selalu amat mengasyikkan.
Demikianlah, ketika aku melihat sekumpulan anak-anak yang bermain di tanah lapang sore itu, aku seketika merasa haru. Aku seperti melihat masa kecilku. Dan itu yang hilang dari dunia anak-anak perkotaan zaman ini. Mereka sudah sama sekali lain, karena tidak dapat menjadi reflektor dunia anak dari generasi kami.
Ah, aku rindu masa kecilku.
Subscribe to:
Comments (Atom)



















