Rabu, 24 November 2010
Kuliah pagi ini cukup menarik. Angelika Rother, si bule Jerman yang selalu memancing perhatian kelas, tampil ke depan kelas dan menyampaikan presentasi. Presentasinya baik, menunjukkan kecerdasan rata-rata orang Jerman dan Indonesia memang berbeda. Tetapi, bahwa momen presentasinya saya masukkan dalam refleksi harian ini, itu bukan soal perasaan belaka. Topik dialog agama di Eropa yang ia bawakan dalam presentasi tadi pagi membawa saya untuk berpikir lebih jauh. Itu yang menarik saya.
Oleh karena itu, refleksi saya kali ini saya bagi dalam dua bagian. Pertama, apa yang Angelika sampaikan dalam presentasi tadi. Kedua, tentu refleksi pribadi saya.
Bagian pertama, presentasi Angelika.
Di awal presentasi, Angelika menyampaikan pertanyaan dasar yang menghinggapi pikirannya: soal dialog agama di Eropa, apakah merupakan sesuatu yang penting bicara soal dialog mengingat hampir semua masyarakat Eropa adalah kristiani?
Selebihnya, yang disampaikan Angelika adalah data, baik visual maupun statistik. Yang bagiku menarik setelah pertanyaan mendasar di atas adalah mengenai konflik soal agama di Eropa. Ada empat contoh yang diberikan Angelika.
Pertama, debat soal jilbab. Jilbab di Eropa bukan soal mudah. Ada negara-negara tertentu yang tidak mudah menerima jilbab. Misalnya, Perancis. Dikatakan Angelika, orang-orang Perancis seolah-olah memiliki alarm pada dirinya jika ada orang menggunakan jilbab lewat. Penggunaan jilbab di negara itu sangat terbatas. Di Jerman lain lagi. Orang diperkenankan saja menggunakan jilbab, tetapi tidak halnya di lingkungan sekolah. Di lingkungan sekolah, siswa yang kesehariannya menggunakan jilbab diminta melepas jilbabnya. Jilbab itu bisa digunakan kembali ketika sekolah usai. Guru pun dikenakan aturan yang sama.
Kedua, kedudukan Turki di Uni Eropa. Sebagaimana diketahui, Turki adalah negara muslim. Kedudukannya di Uni Eropa memancing bermacam-macam reaksi. Ditunjukkan Angelika dalam presentasi tadi sebuah poster yang beredar di Jerman yang isinya kurang lebih menolak kehadiran Turki di Uni Eropa.
Ketiga, soal bangunan masjid. Di Eropa, orang-orang muslim yang menjadi minoritas tidak membangun masjid dengan mudah. Bahkan, menurut Angelika, ketika ada masjid sekalipun, tidak akan terdengar bunyi adzan (prayer calling). Hal itu umum dijumpai di beberapa negara.
Keempat, pada kalangan mayoritas kristen Eropa, ada ketakutan soal adanya gerakan ‘islamisasi’ secara sembunyi-sembunyi.
Bagian kedua, refleksi saya.
Jika data tersebut dicermati, bukankah ada kesejajaran tertentu? Apa yang dialami oleh orang-orang muslim minoritas di Eropa bukankah mirip dengan orang-orang kristen minoritas di Indonesia? Dari sudut pandang yang lain, bukankah mirip juga orang-orang kristen mayoritas di Eropa dengan orang-orang-orang muslim mayoritas di Indonesia?
Sabar, kawan. Mari kita lihat bersama!
Pertama, soal pertanyaan mendasar Angelika. Bukankah mirip halnya, jika pertanyaan itu diajukan oleh orang-orang muslim di Indonesia yang notabene merupakan mayoritas? Pertanyaannya kurang lebih: soal dialog agama di Indonesia, apakah merupakan sesuatu yang penting bicara soal dialog mengingat hampir semua masyarakat Indonesia adalah muslim? Bisa jadi, bagi orang muslim dialog bukan sesuatu yang mendesak. Dialog penting halnya, justru bagi mereka yang berstatus sebagai minoritas, karena berkaitan dengan keberadaan dirinya. Oleh karena itu, pertanyaan itu pertama-tama tidak memiliki kecenderungan apa-apa selain otokritik. Sejauh mana kita berani kritis, dan berani bertanya pada diri sendiri: apakah dialog agama sesuatu yang berarti dan memang diperlukan ketika di pihak saya, tidak ada soal yang mengancam keberadaan diri?
Kedua, hal-hal yang orang-orang muslim minoritas di Eropa alami memiliki kemiripan tertentu dengan yang dialami oleh orang-orang kristen minoritas di Indonesia. Inilah sebabnya saya mengatakan ada kesejajaran tertentu di antara kedua kelompok minoritas tersebut. Soal jilbab yang dibatasi di Eropa, di Indonesia terjadi sebaliknya. Jilbab merupakan hal yang umum dijumpai, bahkan kini semakin banyak institusi pendidikan yang menjadikan jilbab sebagai bagian dari seragamnya. Pergulatan khusus tentu dialami oleh orang-orang kristen minoritas yang diminta mengenakan jilbab sebagai salah satu bagian seragam sekolah. Hal itu terjadi, misalnya, pada beberapa teman kristen saya yang diminta mengenakan jilbab ketika masuk ke salah satu SMA Negeri di suatu tempat tertentu. Soal bangunan masjid yang tidak mudah didirikan di Eropa, contoh lain. Bukankah hal yang mirip juga ditemukan di Indonesia? Pendirian Gereja biasanya tidak mudah prosesnya. Atau soal adanya ketakutan pada orang-orang kristen Eropa soal ‘islamisasi’ terselubung, bukankah hal itu sejajar dengan adanya ketakutan pada orang-orang muslim Indonesia dengan adanya ‘kristenisasi’ terselubung? Setidaknya, hal ini bisa sangat konkret dengan apa yang terjadi baru-baru ini di Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, Yogyakarta, yang turut menjadi tempat pengungsian korban meletusnya gunung Merapi, ketika didatangi oleh sekelompok tertentu yang merasa cemas dengan segala kegiatan yang terjadi di kompleks Gereja.
Sahabat-sahabatku, kesejajaran tersebut bagi saya menunjukkan satu hal. Segala ketegangan yang terjadi selama ini, bukan pertama-tama soal agama (religion), tetapi lebih soal mayoritas-minoritas (state of being). Tentu, bukan berarti tidak ada hubungannya dengan agama. Kaitan dengan agama tentu ada, tetapi bukan itu yang mendasar. Dengan kata lain, sebenarnya bisa dimunculkan suatu dugaan tertentu, bahwa muatan yang terjadi dalam seluruh ketegangan yang terjadi selama ini bukanlah pertama-tama soal perbedaan agama (religion differences), tetapi lebih soal mayoritas-minoritas (state of being), itu sendiri. Mayoritas-minoritas merupakan soal siapa yang lebih menguasai hal/tempat/keadaan tertentu, soal penguasaan, soal kekuasaan. Fakta menunjukkan, hal-hal sama dialami oleh siapa yang lebih menguasai (mayoritas), juga oleh siapa yang di pihak satunya (minoritas).
Oleh karena itu, akhirnya hanya sikap rendah hati, yang menjadi permohonan dan harapan.
Kerendahan hati untuk bersedia melakukan dialog, yang oleh Rama Suradji dikatakan melekat dengan keberadaan kita, meskipun keberadaan kita nyaman-nyaman saja. Kerendahan hati untuk senantiasa menyadari, bahwa yang saya alami di sini, serupa dengan yang dialami oleh sahabat kita yang berbeda keyakinan di belahan dunia yang lain.
Tidak ada yang lebih indah di dunia ini selain kedamaian pada manusianya.
Catatan terakhir:
Malam ini aku chatting dengan Ian, teman SMP-ku dulu, putranya bu Tati. Obrolan panjang kami membawa aku pada kerinduan tertentu di masa aku tumbuh dewasa dulu. Kerinduan pada teman-teman muslimku, kerinduan pada kehidupan dengan warna muslim yang kental di Bumiayu, kerinduan pada muslim itu sendiri. Sampai tidak sadar, aku menuliskan kata-kata, “Ian, muslim itu bagian hidupku.”. Ya, muslim merupakan bagian hidupku. Bagian yang takkan pernah hilang dari diriku. Bagian yang sangat aku cintai, dan memiliki ruang khusus di hatiku.
28 November 2010
Cinta Menghalalkan Kemarahan
Sabtu, 27 November 2010
Kata siapa cinta tidak menghalalkan kemarahan?
Kau boleh melihat setiap pasangan hidup sejati di muka bumi ini. Suruhlah mereka mengenang saat-saat perselisihan. Kenangkanlah mereka saat-saat kemarahan diarahkan pada pasangannya. Aku yakin, dengan mudah mereka teringat pada momen-momen tertentu.
Cinta menghalalkan kemarahan, teman.
Aku sendiri ingat, bapak yang aku kenal sebagai pencinta tanpa kata, ketika aku kecil dulu pernah marah yang hebat pada ibuku. Aku tidak melihat secara persis kemarahannya, tetapi yang jelas kemudian ibu menangis tersedu-sedu di kamar. Melihat ibu yang demikian, waktu itu aku menjadi takut sekali. Bersama adikku, aku sampaikan pada ibu pesan untuk jangan bercerai. Di pihak ibu, mungkin dalam tangis tertawa juga. Tidak akan terlintas perceraian di benak meski pedih karena amarah.
Dan, kau tahu?
Sampai saat ini, sang pencinta tanpa kata itu masih ada di rumah ibuku. Mencintainya sepenuh hati, makan bersamanya. Mereka menyongsong saat-saat pesta emas pernikahannya. Saat itulah, cinta akan merayakan dirinya. Segala pengalaman kemarahan dan pahit dirangkul dan ditebus dengan penuh cinta.
Antara kemarahan dan cinta, itulah juga yang terjadi padaku kali ini.
Murid-muridku rewel, nakal, dan tidak mudah diatur. Normal sekali, membangkitkan kemarahanku di kelas. Mungkin, itulah pertama kalinya aku menyampaikan sesuatu dengan nada yang tinggi di kelas.
Tetapi, apakah ada yang bisa menjawab tanyaku?
Mengapa saat itu juga aku justru merasa cintaku semakin besar?
Entahlah. Aku sendiri kesulitan menjawabnya, apalagi engkau yang hanya membaca refleksiku ini. Yang jelas, ada damai yang begitu sejuk ketika aku melihat wajah anak-anakku di akhir jam pelajaran. Aku membagikan coklat pada mereka satu-satu. Dan satu coklat aku titipkan untuk ibu guru wali kelas. Seusai doa penutup pelajaran, mereka menghambur dari meja ke depan kelas, ingin berjabat tangan denganku. Satu tanganku dikeroyok tangan 32 anak. Ah, lucu-lucunya mereka. Andai aku punya badan sebesar Gajah (eh, yang sekarang sudah se-Gajah ding, he he…), mungkin aku bisa memeluk 32 anak itu sekaligus.
Maafkan pak guru amatir ini yang sedikit marah tadi ya, anak-anak. Frater gendut ini mencintai kalian semua.
Kata siapa cinta tidak menghalalkan kemarahan?
Kau boleh melihat setiap pasangan hidup sejati di muka bumi ini. Suruhlah mereka mengenang saat-saat perselisihan. Kenangkanlah mereka saat-saat kemarahan diarahkan pada pasangannya. Aku yakin, dengan mudah mereka teringat pada momen-momen tertentu.
Cinta menghalalkan kemarahan, teman.
Aku sendiri ingat, bapak yang aku kenal sebagai pencinta tanpa kata, ketika aku kecil dulu pernah marah yang hebat pada ibuku. Aku tidak melihat secara persis kemarahannya, tetapi yang jelas kemudian ibu menangis tersedu-sedu di kamar. Melihat ibu yang demikian, waktu itu aku menjadi takut sekali. Bersama adikku, aku sampaikan pada ibu pesan untuk jangan bercerai. Di pihak ibu, mungkin dalam tangis tertawa juga. Tidak akan terlintas perceraian di benak meski pedih karena amarah.
Dan, kau tahu?
Sampai saat ini, sang pencinta tanpa kata itu masih ada di rumah ibuku. Mencintainya sepenuh hati, makan bersamanya. Mereka menyongsong saat-saat pesta emas pernikahannya. Saat itulah, cinta akan merayakan dirinya. Segala pengalaman kemarahan dan pahit dirangkul dan ditebus dengan penuh cinta.
Antara kemarahan dan cinta, itulah juga yang terjadi padaku kali ini.
Murid-muridku rewel, nakal, dan tidak mudah diatur. Normal sekali, membangkitkan kemarahanku di kelas. Mungkin, itulah pertama kalinya aku menyampaikan sesuatu dengan nada yang tinggi di kelas.
Tetapi, apakah ada yang bisa menjawab tanyaku?
Mengapa saat itu juga aku justru merasa cintaku semakin besar?
Entahlah. Aku sendiri kesulitan menjawabnya, apalagi engkau yang hanya membaca refleksiku ini. Yang jelas, ada damai yang begitu sejuk ketika aku melihat wajah anak-anakku di akhir jam pelajaran. Aku membagikan coklat pada mereka satu-satu. Dan satu coklat aku titipkan untuk ibu guru wali kelas. Seusai doa penutup pelajaran, mereka menghambur dari meja ke depan kelas, ingin berjabat tangan denganku. Satu tanganku dikeroyok tangan 32 anak. Ah, lucu-lucunya mereka. Andai aku punya badan sebesar Gajah (eh, yang sekarang sudah se-Gajah ding, he he…), mungkin aku bisa memeluk 32 anak itu sekaligus.
Maafkan pak guru amatir ini yang sedikit marah tadi ya, anak-anak. Frater gendut ini mencintai kalian semua.
12 November 2010
Surat untuk Bapak/Ibu di ultah ke-21 dulu..
Untuk Om’ Jud dan Tante Mimi (bapak dan Ibu) di rumah saja.
Terima kasih bapak.
Bapak orang hebat. Berada di sisi bapak, ada damai yang terasa. Biar bapak tidak bisa karate, bapak adalah yang paling berani di antara kedua tetangga kita. Aku masih ingat, ketika ada maling yang menyerbu tetangga kanan kita, tetangga kita itu memanggil-manggil nama bapak, “Pak guru, pak guru...”. Bapak pun kemudian keluar rumah untuk melihat sekeliling. Bagiku, itu lebih heroik daripada Spiderman 3, yang melawan tiga musuh sekaligus.
Bapak orang kreatif. Waktu aku dirawat inap karena dicium motor di jalan, bapaklah yang menunggui aku. Supaya sewaktu-waktu bapak bisa melayani aku untuk bisa pipis di pispot, bapak membuat tali rafia yang dihubungkan antara jempol kaki bapak dengan telunjuk tanganku. Tak terhitung berapa kali aku menganggu bapak tidur. Kutarik rafia dan bapak bangun, memberikan pispot, dan membuangkan urine yang kukeluarkan.
Bapak orang yang setia pada panggilan. Salah satu wujudnya, waktu aku sekolah di Mertoyudan. Bapak selalu mengunjungi aku jauh-jauh dari Bumiayu dengan sepeda motor. Aku tahu itu melelahkan. Belum lagi jika di jalan ada hujan, pasti perjalanan lebih sulit. Tapi bapak datang, mengunjungiku. Membawakan roti dan makanan yang lain. Empat tahun aku dikunjungi oleh orangtua dengan cara yang seperti itu. Empat tahun pula aku tidak pernah bisa menahan tangis haru setiap kali bapak dengan motor bututnya pulang meninggalkanku.
Tak pernah pada suatu momen tertentu ia mengucapkan sayang secara langsung padaku. Awalnya, aku berpikir mungkin bapak memang sedikit kurang romantis. Tapi, ternyata aku menemukan yang lain. Ucapan di momen tertentu rupanya memang tidak perlu. Karena apa? Karena seluruh hidupnya adalah ucapan sayang padaku.
Terima kasih, terimakasih bapak.
Terima kasih juga Ibu.
Setiap kali ibu bangun paling awal. Ketika aku bangun untuk pipis, ibu sudah di dapur menyiapkan segala untuk kami. Ibulah juga yang memerhatikan seluruh kepentingan: seragam, uang saku, sepatu yang mulai aus, rambut yang belum disisir, waktu mandi sore, dsb.
Ibu pernah menghukumku karena aku bermain lumpur di sawah. Ibu memandikan aku dengan air dingin. Padahal, waktu itu aku belum berani mandi dengan air dingin. Aku megap-megap waktu ibu guyur di pinggir sumur. Saat itu aku tidak tahu bahwa ternyata Ibu hampir menangis melihatku megap-megap.
Ibu juga menangis betul-betul waktu tahu aku mendapat kecelakaan di kelas lima SD. Di rumah sakit, bahkan ada yang bercerita padaku bahwa ibu sungguh-sungguh berdoa untuk kesembuhanku, bahkan katanya sambil menangis. Aku terharu, sekaligus kemudian percaya bahwa Ibu adalah salah satu malaikat yang Tuhan utus untuk menyalurkan cinta-Nya.
Yang jelas, dari Ibu aku belajar mengenai kasih yang sederhana. Tidak banyak hal-hal besar ibu lakukan. Yang ibu lakukan adalah hal-hal sederhana: memberiku makan, memerhatikan penampilanku, atau menanyakan kabar. Namun, justru dalam kesederhanaan itu aku merasakan betapa kasih itu agung. Mungkin itulah paradoksnya: semakin kasih itu sederhana, semakin kasih itu agung.
Terima kasih, terima kasih Ibu.
...
Kini aku sudah 21, dan kita tahu sudah beberapa tahun tidak tinggal bersama. Semakin lama semakin kusadari, ada sesuatu yang benar. Beberapa tahun tidak tinggal bersama tidak membuat bapak dan Ibu menghilang, tapi justru semakin ada. Bapak dan Ibu semakin tinggal dekat dengan diriku, persis di hatiku.
Fiuh, tentu kalian tidak memiliki facebook. Kalian tidak bisa membaca apa yang aku tulis. Biarlah, aku justru merasa memiliki peluang, untuk menjadi seperti kalian: orang-orang yang menerjemahkan ucapan sayang dengan tindakan kasih dalam keseluruhan.
Doakan kami di jogja, bapak dan Ibu.
Terima kasih bapak.
Bapak orang hebat. Berada di sisi bapak, ada damai yang terasa. Biar bapak tidak bisa karate, bapak adalah yang paling berani di antara kedua tetangga kita. Aku masih ingat, ketika ada maling yang menyerbu tetangga kanan kita, tetangga kita itu memanggil-manggil nama bapak, “Pak guru, pak guru...”. Bapak pun kemudian keluar rumah untuk melihat sekeliling. Bagiku, itu lebih heroik daripada Spiderman 3, yang melawan tiga musuh sekaligus.
Bapak orang kreatif. Waktu aku dirawat inap karena dicium motor di jalan, bapaklah yang menunggui aku. Supaya sewaktu-waktu bapak bisa melayani aku untuk bisa pipis di pispot, bapak membuat tali rafia yang dihubungkan antara jempol kaki bapak dengan telunjuk tanganku. Tak terhitung berapa kali aku menganggu bapak tidur. Kutarik rafia dan bapak bangun, memberikan pispot, dan membuangkan urine yang kukeluarkan.
Bapak orang yang setia pada panggilan. Salah satu wujudnya, waktu aku sekolah di Mertoyudan. Bapak selalu mengunjungi aku jauh-jauh dari Bumiayu dengan sepeda motor. Aku tahu itu melelahkan. Belum lagi jika di jalan ada hujan, pasti perjalanan lebih sulit. Tapi bapak datang, mengunjungiku. Membawakan roti dan makanan yang lain. Empat tahun aku dikunjungi oleh orangtua dengan cara yang seperti itu. Empat tahun pula aku tidak pernah bisa menahan tangis haru setiap kali bapak dengan motor bututnya pulang meninggalkanku.
Tak pernah pada suatu momen tertentu ia mengucapkan sayang secara langsung padaku. Awalnya, aku berpikir mungkin bapak memang sedikit kurang romantis. Tapi, ternyata aku menemukan yang lain. Ucapan di momen tertentu rupanya memang tidak perlu. Karena apa? Karena seluruh hidupnya adalah ucapan sayang padaku.
Terima kasih, terimakasih bapak.
Terima kasih juga Ibu.
Setiap kali ibu bangun paling awal. Ketika aku bangun untuk pipis, ibu sudah di dapur menyiapkan segala untuk kami. Ibulah juga yang memerhatikan seluruh kepentingan: seragam, uang saku, sepatu yang mulai aus, rambut yang belum disisir, waktu mandi sore, dsb.
Ibu pernah menghukumku karena aku bermain lumpur di sawah. Ibu memandikan aku dengan air dingin. Padahal, waktu itu aku belum berani mandi dengan air dingin. Aku megap-megap waktu ibu guyur di pinggir sumur. Saat itu aku tidak tahu bahwa ternyata Ibu hampir menangis melihatku megap-megap.
Ibu juga menangis betul-betul waktu tahu aku mendapat kecelakaan di kelas lima SD. Di rumah sakit, bahkan ada yang bercerita padaku bahwa ibu sungguh-sungguh berdoa untuk kesembuhanku, bahkan katanya sambil menangis. Aku terharu, sekaligus kemudian percaya bahwa Ibu adalah salah satu malaikat yang Tuhan utus untuk menyalurkan cinta-Nya.
Yang jelas, dari Ibu aku belajar mengenai kasih yang sederhana. Tidak banyak hal-hal besar ibu lakukan. Yang ibu lakukan adalah hal-hal sederhana: memberiku makan, memerhatikan penampilanku, atau menanyakan kabar. Namun, justru dalam kesederhanaan itu aku merasakan betapa kasih itu agung. Mungkin itulah paradoksnya: semakin kasih itu sederhana, semakin kasih itu agung.
Terima kasih, terima kasih Ibu.
...
Kini aku sudah 21, dan kita tahu sudah beberapa tahun tidak tinggal bersama. Semakin lama semakin kusadari, ada sesuatu yang benar. Beberapa tahun tidak tinggal bersama tidak membuat bapak dan Ibu menghilang, tapi justru semakin ada. Bapak dan Ibu semakin tinggal dekat dengan diriku, persis di hatiku.
Fiuh, tentu kalian tidak memiliki facebook. Kalian tidak bisa membaca apa yang aku tulis. Biarlah, aku justru merasa memiliki peluang, untuk menjadi seperti kalian: orang-orang yang menerjemahkan ucapan sayang dengan tindakan kasih dalam keseluruhan.
Doakan kami di jogja, bapak dan Ibu.
Lintasan Sejarah Diri
Kisah dimulai dari selembar kertas putih yang kosong. Di situ, Tuhan mulai menuliskan bagaimana saya harus menjalani hidup di dunia ini. Lembar demi lembar, guratan sang Novelis Agung menerjang hamparan putih. Ada saat tulisan itu dikacaukan oleh yang menjalani, ada waktunya tulisan semakin indah oleh yang melakoni. Ada tulisan-tulisan kegembiraan, ada tulisan-tulisan kepiluan.
Inilah hidup, suatu novel panjang yang Tuhan tulis. Sebab kita semua lakon yang diciptakan dengan sejarah tertentu. Dalam rumusan yang lain: Tuhan sudah menciptakan plot novel ini, sisanya bagian kita. Satu yang harus kita ingat, novel panjang ini tidak deterministis. Sepanjang hidup, kita bergulat dengan pengalaman memilih.
Berikut beberapa peristiwa penting dalam novel ini:
Aku lahir di Bobotsari. Besar di Bumiayu. Buat temen-temen yang tahu Bumiayu, aku waktu bayi ngontrak di Kalierang. Begitu orangtua ada rezeki, mereka beli tanah di Pagojengan. Rasa-rasanya, ketika tinggal di Pagojengan, aku sudah duduk di bangku TK. Rumahnya pun sangat sederhana. Temboknya cuma bertinggi satu meter dan disambung dengan papan yang dilabur putih. Karena dari papan, rumahku kadang-kadang dimasuki pencuri. Ada juga orang yang masuk rumah cuma mau makan di dapur. Bahkan, ekstremnya orang mandi diintip pun bisa (ha ha..). Meski sederhana begitu, aku tidak pernah kekurangan mainan. Aku masih ingat betul, mainanku ada dua box besar banyaknya. Di luar rumah pun aku bermain layaknya anak-anak lainnya. Aku bermain kelereng, sundamanda, layang-layang, kasti, sepakbola, memancing belut, mencari bekicot untuk lele peliharaan, dsb.
Aku menjalani Taman Kanak-Kanak di TK Kemala Bhayangkari Bumiayu. Di TK itu, ada dua guru yang aku cintai: Bu Sargo dan Bu I’i. Teman-temanku juga ada banyak. Waktu TK, yang aku ingat adalah pengalaman ke-cengeng-an yang aku punya. Waktu itu ada pelajaran melipat kertas. Guru di depan menjelaskan langkah-langkah menyusunnya sembari diikuti oleh kami. Selalu, selalu aku ketinggalan dalam memahami langkah-langkah yang dijelaskan dan dalam membuatnya. Aku merasa tersisih dan begitulah, menangis setiap pelajaran melipat kertas, he he... Oh ya, setiap hari Sabtu pagi, ada makan bersama. Aku paling senang jika makan paginya berupa mie rebus. Bisa nambah lhooo…
Aku kemudian bersekolah di SD Negeri Kalierang 01 Bumiayu. Masa-masa yang indah: aku mulai mencintai sepakbola, mencintai teman-teman putri yang cantik, dan mencintai sekolah itu sendiri. Eh, kabar si Pepeng bagaimana ya teman-teman?
SMP kujalani di SMP yang katanya favorit, SMPN Bumiayu 01. Banyak pengalaman di sana. Kelas satu duduk di kelas sing mbrahol kabeh, 1H, di bawah bimbingan wali kelas bapak Tugiman. Kelas dua duduk di kelas 2G. Lumayan banyak yang cantik tuh di kelas ini, he he... Di situ juga aku gayeng berteman sama Ikang, Tito, Diki, Yohan, terus sapa maning ya.. (kelalen mode: on). Kelas dua aku jatuh cinta yang pertama kali dalam hidupku, yang paling dahsyat juga. Sama Uci, anak SMI, aku bilang di sini. Momennya pas Itajamnas (Ikut serta Jambore Nasional). Jadi kabar dulu yang ngegosipin saya sama Dewi itu keliru 100 persen. Kita deket sebagai sahabat, itu aja. Kelas dua juga aku masuk ranking paralel untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Yah, gak terlalu bangga juga sih. Itu kan cuma ukuran untuk kecerdasan kognitif aja. Tidak mewakili seluruh kecerdasan yang kita punya. Bener gak temen-temen? Kelas tiga, yah, koyo ngono kae lah…
SMA kujalani di SMA Seminari Mertoyudan, Magelang. Empat tahun yang luar biasa, mengubah hidup dan cakrawala pikir! Bersama Danasmara, aku maju dan berkembang. Dari yang cupu, di kelas tiga boleh aku termenung, “kok masih cupu juga?” (he he..). di MP, aku dibimbing sama Rm. Galih Arga yang sekarang sedang di Los Angeles dan Rm. Budi Nugroho SJ yang sekarang di Katedral Jakarta. Aku jelas bergulat dengan masalah sosialitas di tahun pertama itu. Tahun kedua aku jalani di bawah bimbingan Rm. Supriya yang sekarang di paroki Kristus Raja Ungaran dan Rm. Erwin Sasmita yang sekarang belajar psikologi di Universitas Gadjah Mada (ambil S2). Di MMI, aku lebih banyak mengolah bakat dan kemampuan-kemampuan diri (meski rasanya, gak ada yang berkembang apa-apa, he he.. orkes gak ikut, musik gak bisa, nulis juga kacangan, olahraga juga gak maksimal..). Tahun ketiga aku dibimbing kembali oleh Rm. Galih Arga. Ini tahun yang hebat, pengolahan hidup sip! Setahun banyak tuntutan studi. Masuk SJ atau Dioses Purwokerto ya? Tahun keempat, pengolahan hidup diperdalam lagi. Di sini, aku dibimbing Rm. Nano SJ yang sedang menjalani tersiat di Australia dan Fr. Bagus SJ yang sedang menyelesaikan S2-nya di Fakultas Teologi Kepausan Wedabhakti Yogyakarta.
Menjalani Tahun Orientasi Rohani di Tegal. Perjumpaan yang mengesan dengan umat terjadi di situ. Mengolah hidup dan kerohanian betul-betul di tempat itu. Proses pendidikan di sini kujalani dengan bimbingan dua imam, Rm. Ary Setyawan dan Rm. Parjono, dan sepuluh teman sepanggilan (lima dari jawa, enam dari Papua): Megandika, Bram, Agung, Bona, Hengky, Abel, Domi, Anton, Ponsi, Darius.
Kuliah filsafat dan teologi di Yogyakarta sampai sekarang.
Ada alasan mengapa yang kecil dan rapuh ini dicintai begitu nyata oleh Ia dan orang-orang di sekitarnya. Rupanya, di balik poin-poin itu ada suatu benih yang tumbuh. Benih yang ditabur oleh Seseorang yang Ia mau aku mengikuti-Nya. Bukan sekedar berjalan di jalan-Nya dan mengikuti-Nya, tetapi hidup seperti hidup-Nya, mencintai dengan hati-Nya, melayani dengan cinta-Nya. Benih itu terus tumbuh, sekalipun kerap aku tidak menyadari pertumbuhannya. Rasanya, inilah yang akhirnya membuat yang kecil dan rapuh ini menjadi berharga.
Entahlah, novel panjang ini masih terus ditulis. Tidak pernah tahu, kapan sang Novelis Agung menutup novel ini. Dengan seluruh kemerdekaan dan kebebasan yang aku miliki, aku serahkan bagaimana tinta melaju dan berhenti di kata ‘fine’. Karena akhirnya aku sadar dan harus selalu percaya, He is the Story Maker and I am just the Decision Maker.
Inilah hidup, suatu novel panjang yang Tuhan tulis. Sebab kita semua lakon yang diciptakan dengan sejarah tertentu. Dalam rumusan yang lain: Tuhan sudah menciptakan plot novel ini, sisanya bagian kita. Satu yang harus kita ingat, novel panjang ini tidak deterministis. Sepanjang hidup, kita bergulat dengan pengalaman memilih.
Berikut beberapa peristiwa penting dalam novel ini:
Aku lahir di Bobotsari. Besar di Bumiayu. Buat temen-temen yang tahu Bumiayu, aku waktu bayi ngontrak di Kalierang. Begitu orangtua ada rezeki, mereka beli tanah di Pagojengan. Rasa-rasanya, ketika tinggal di Pagojengan, aku sudah duduk di bangku TK. Rumahnya pun sangat sederhana. Temboknya cuma bertinggi satu meter dan disambung dengan papan yang dilabur putih. Karena dari papan, rumahku kadang-kadang dimasuki pencuri. Ada juga orang yang masuk rumah cuma mau makan di dapur. Bahkan, ekstremnya orang mandi diintip pun bisa (ha ha..). Meski sederhana begitu, aku tidak pernah kekurangan mainan. Aku masih ingat betul, mainanku ada dua box besar banyaknya. Di luar rumah pun aku bermain layaknya anak-anak lainnya. Aku bermain kelereng, sundamanda, layang-layang, kasti, sepakbola, memancing belut, mencari bekicot untuk lele peliharaan, dsb.
Aku menjalani Taman Kanak-Kanak di TK Kemala Bhayangkari Bumiayu. Di TK itu, ada dua guru yang aku cintai: Bu Sargo dan Bu I’i. Teman-temanku juga ada banyak. Waktu TK, yang aku ingat adalah pengalaman ke-cengeng-an yang aku punya. Waktu itu ada pelajaran melipat kertas. Guru di depan menjelaskan langkah-langkah menyusunnya sembari diikuti oleh kami. Selalu, selalu aku ketinggalan dalam memahami langkah-langkah yang dijelaskan dan dalam membuatnya. Aku merasa tersisih dan begitulah, menangis setiap pelajaran melipat kertas, he he... Oh ya, setiap hari Sabtu pagi, ada makan bersama. Aku paling senang jika makan paginya berupa mie rebus. Bisa nambah lhooo…
Aku kemudian bersekolah di SD Negeri Kalierang 01 Bumiayu. Masa-masa yang indah: aku mulai mencintai sepakbola, mencintai teman-teman putri yang cantik, dan mencintai sekolah itu sendiri. Eh, kabar si Pepeng bagaimana ya teman-teman?
SMP kujalani di SMP yang katanya favorit, SMPN Bumiayu 01. Banyak pengalaman di sana. Kelas satu duduk di kelas sing mbrahol kabeh, 1H, di bawah bimbingan wali kelas bapak Tugiman. Kelas dua duduk di kelas 2G. Lumayan banyak yang cantik tuh di kelas ini, he he... Di situ juga aku gayeng berteman sama Ikang, Tito, Diki, Yohan, terus sapa maning ya.. (kelalen mode: on). Kelas dua aku jatuh cinta yang pertama kali dalam hidupku, yang paling dahsyat juga. Sama Uci, anak SMI, aku bilang di sini. Momennya pas Itajamnas (Ikut serta Jambore Nasional). Jadi kabar dulu yang ngegosipin saya sama Dewi itu keliru 100 persen. Kita deket sebagai sahabat, itu aja. Kelas dua juga aku masuk ranking paralel untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Yah, gak terlalu bangga juga sih. Itu kan cuma ukuran untuk kecerdasan kognitif aja. Tidak mewakili seluruh kecerdasan yang kita punya. Bener gak temen-temen? Kelas tiga, yah, koyo ngono kae lah…
SMA kujalani di SMA Seminari Mertoyudan, Magelang. Empat tahun yang luar biasa, mengubah hidup dan cakrawala pikir! Bersama Danasmara, aku maju dan berkembang. Dari yang cupu, di kelas tiga boleh aku termenung, “kok masih cupu juga?” (he he..). di MP, aku dibimbing sama Rm. Galih Arga yang sekarang sedang di Los Angeles dan Rm. Budi Nugroho SJ yang sekarang di Katedral Jakarta. Aku jelas bergulat dengan masalah sosialitas di tahun pertama itu. Tahun kedua aku jalani di bawah bimbingan Rm. Supriya yang sekarang di paroki Kristus Raja Ungaran dan Rm. Erwin Sasmita yang sekarang belajar psikologi di Universitas Gadjah Mada (ambil S2). Di MMI, aku lebih banyak mengolah bakat dan kemampuan-kemampuan diri (meski rasanya, gak ada yang berkembang apa-apa, he he.. orkes gak ikut, musik gak bisa, nulis juga kacangan, olahraga juga gak maksimal..). Tahun ketiga aku dibimbing kembali oleh Rm. Galih Arga. Ini tahun yang hebat, pengolahan hidup sip! Setahun banyak tuntutan studi. Masuk SJ atau Dioses Purwokerto ya? Tahun keempat, pengolahan hidup diperdalam lagi. Di sini, aku dibimbing Rm. Nano SJ yang sedang menjalani tersiat di Australia dan Fr. Bagus SJ yang sedang menyelesaikan S2-nya di Fakultas Teologi Kepausan Wedabhakti Yogyakarta.
Menjalani Tahun Orientasi Rohani di Tegal. Perjumpaan yang mengesan dengan umat terjadi di situ. Mengolah hidup dan kerohanian betul-betul di tempat itu. Proses pendidikan di sini kujalani dengan bimbingan dua imam, Rm. Ary Setyawan dan Rm. Parjono, dan sepuluh teman sepanggilan (lima dari jawa, enam dari Papua): Megandika, Bram, Agung, Bona, Hengky, Abel, Domi, Anton, Ponsi, Darius.
Kuliah filsafat dan teologi di Yogyakarta sampai sekarang.
Ada alasan mengapa yang kecil dan rapuh ini dicintai begitu nyata oleh Ia dan orang-orang di sekitarnya. Rupanya, di balik poin-poin itu ada suatu benih yang tumbuh. Benih yang ditabur oleh Seseorang yang Ia mau aku mengikuti-Nya. Bukan sekedar berjalan di jalan-Nya dan mengikuti-Nya, tetapi hidup seperti hidup-Nya, mencintai dengan hati-Nya, melayani dengan cinta-Nya. Benih itu terus tumbuh, sekalipun kerap aku tidak menyadari pertumbuhannya. Rasanya, inilah yang akhirnya membuat yang kecil dan rapuh ini menjadi berharga.
Entahlah, novel panjang ini masih terus ditulis. Tidak pernah tahu, kapan sang Novelis Agung menutup novel ini. Dengan seluruh kemerdekaan dan kebebasan yang aku miliki, aku serahkan bagaimana tinta melaju dan berhenti di kata ‘fine’. Karena akhirnya aku sadar dan harus selalu percaya, He is the Story Maker and I am just the Decision Maker.
Subscribe to:
Comments (Atom)
